fbpx
Connect with us

Pendidikan

Segudang Prestasi Tak Jadi Jaminan Pemuda ini Miliki Pekerjaan Layak

Published

on

Karangmojo,(pidjar.com)–Sulitnya mencari pekerjaan tentu tidak pernah menjadi bayangan bagi pemuda dengan prestasi moncer selama kuliah. Namun hal ini menjadi sebuah ironi bagi Muflih Fathoni (27) warga Padukuhan Tenggaran (004/002), Gedangrejo, Karangmojo. Pemuda yang kini telah memiliki satu orang putra ini bisa dibilang bukan pemuda biasa. Namun ternyata, seabrek prestasi Internasional tidak menjadi jaminan bagi pemuda akan memiliki jaminan pekerjaan yang layak.

Semasa menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Yogyakarta, pemuda dengan perawakan jangkung ini bisa dikatakan kerap malang melintang di dunia balap Asia. Karirnya bersama Garuda Uny Racing Team telah diakui dalam kancah Internasional sebagai perakit mobil hybird terbaik di kelasnya.

Toni begitu ia dipanggil, mengawali karir menjadi mahasiswa Diploma III Jurusan Teknik Otomotif, Fakultas Teknik UNY. Sejak duduk dibangku SMKN 2 Wonosari dengan jurusan yang diambil yakni Teknik Kendaraan Ringan, ia kian tertarik menekuni bidang otomotif.

Bahkan saya dulu disuruh bapak jadi guru dengan kuliah mengambil S1 keguruan, tapi saya matur sama bapak, kalau ndak di bidang otomotif saya trimo ndak kuliah,” jelas putra kedua pasangan Fuad Habibi Rumiyati ini kala berbincang dengan pidjar.com, Rabu (28/10/2020).

Tidak ada pilihan lain, orangtuanya lantas mengizinkan ia menekuni dunia otomotif dengan menyekolahkannya di UNY. Seperti mahasiswa pada umumya, di awal kuliah tahun 2011 silam ia mengikuti kuliah baik teori maupun praktik secara seksama.

Hobinya melakukan riset sederhana kemudian dilirik oleh para dosen pembina Unit Kegiatan Mahasiswa bidang Rekayasa Teknologi yang memang hendak memulai debut Internasional. Tim balap kebanggaan kampus Karangmalang tersebut memang tengah menargetkan Green Car Competion di Korea Selatan.

Saya memang tertarik, ada kesempatan saya fokus. Saat itu saya jadi ketua tim teknik, nambah pengalaman juga bagaimana menggait sponsor, membeli sparepart mobil listrik dari Amerika bagaimana merakit mobil balap ramah lingkungan,” jelasnya.

Setelah sekitar dua semester merakit mobil, tibalah pada Bulan Mei 2014, ia bersama puluhan tim lainnya dikirim UNY ke Korea Selatan. Bersama tim, ia memastikan kondisi mobil sudah sesuai dengan ketentuan lomba.

Memadukan teori teknologi mobil hybird dan listrik ternyata memang tidak sesederhana yang kami bayangkan, tapi kami juga rajin konsultasi dengan dosen pembimbing,” kata dia.

Benar saja selama seminggu perlombaan, mobil yang berbulan-bulan ia rakit bersama tim berhasil meraih peringkat satu dan tiga di kategori acceleration dalam kejuaran International Student Green Car Competition 2014, di Korea Selatan. Mereka berhasil menyabet gelar dari kejuaraan yang mempertandingkan dua kategori lomba untuk mobil hybrid dan listrik yaitu acceleration dan maneuverability.

Di masa-masa krisis menjelang pengumuman kami satu tim hanya diam sambil dzikir, tegang sekali. Tapi begitu pengumuman, lagu Indonesia Raya bisa dinyanyikan di kompetisi atas capaian kami rasanya bangga terharu sekali,” jelas Toni.

Sekembalinya di Tanah Air, ia sebetulnya sudah meminta izin kepada dosen pembimbing Tim GURT untuk tidak lagi mengikuti kompetisi. Hal ini karena sejumlah pertimbahgan seperti masa studynya sebagai mahasiswa diploma yang harusnya ditempuh cukup enam semester telah habis.

Berita Lainnya  Jelang Pengumuman KPU, Jamaah Tabligh: Ulama Harus Jadi Penyebar Kedamaian

Tapi saya ingat betul dosbing marah-marah saya izin keluar dari tim karena ada kompetisi di Jepang tahun 2015. Kompetisinya cukup bergengsi, Student Formula Japan,” ujarnya.

Meskipun di sisi lain ia ingin cepat lulus, ia juga bimbang, karena baginya menjadi tim teknik di ajang sekelas Formula dimana pesertanya merupakan mahasiswa-mahasiswa terbaik seluruh dunia membuat target kelulusan ia urungkan. Ia lantas kembali berkiprah bersama tim merakit mobil sesuai dengan kriterianya.

Mobil yang diberi nama Garuda F15 dirancang dapat mencapai kecepatan hingga 120 km/jam dengan 0 – 100 m dalam 4 detik. Untuk meningkatkan kemampuan akselerasi, lanjut Toni, kemampuan engine ditingkatkan dari 40 HP menjadi 45 HP.

GURT F15 menggunakan mesin 1 silinder 600 cc, pemilihan material dan komponen 80 persen bahan lokal dan mudah didapatkan, capaian prestasi di penghujung tahun 2015 kala itu menjadi runner up pendatang baru terbaik,” paparnya.

Memasuki tahun akhir tahun, ia lantas fokus untuk menyelesaikan studinya. Setahun mengerjakan Tugas Akhir menjadi mahasiswa ia akhirnya diwisuda pada awal 2016 dengan gelar Ahli Madya Teknik.

“Alhamdulillah saat wisuda saya dinobatkan menjadi mahasiswa beprestasi, haru campur bangga saya rasakan betul,” kenang Toni.

Seusai lulus, tibalah masa ia mencari pekerjaan. Berbekal seabrek piagam penghargaan dan juga pengalaman ternyata tak membuat pemuda ini mudah mendapatkan pekerjaan.

Berita Lainnya  Ikan Layur Mulai Sulit Didapat, Nelayan Gunungkidul Kalang Kabut

Sekitar setengah tahun saya kesana kesini mencari pekerjaan. Bahkan di sela-sela menanti panggilan interview saya pernah berhari-hari menjadi buruh lepas Event Organizer di Jogja dengan kerja jadi supir dan angkat-angkat barang dengan upah Rp.50ribu sehari,” ucapnya.

Ia mengaku beberapa kali mendaftar di salah satu bengkel resmi kendaraan dengan posisi Service Advisor dan berkali-kali pula sampai tahap wawancara HRD. Namun demikian hingga kini tak ada pengumuman diterima.

“Padahal dalam cita-cita saya pengen mengembangkan teknologi hybird dan kelistrikan pada mobil, tapi ya mau gimana tidak ada peluang,” keluhnya.

Sampai saya bener-bener mentok, ada lowongan di salah satu lesing, saya daftar,” ujar dia.

Menjadi pekerja sebagai surveyor lesing yang tidak sesuai dengan kompetensi yang ia miliki ternyata merupakan hal yang sulit bagi dia. Hingga kurang dari dua tahun bekerja target nasabahnya tidak terpenuhi.

“Saya akhirnya dirumahkan karena sudah dua kali dapat SP antara penjualan dan nasabah hasil survay saya tidak tepat waktu dalam pembayaran,” kenang Toni.

Padahal, lanjut Toni, istrinya yang hanya merupakan guru honorer di salah satu SMK Negeri di Kapanewon Ngawen sedang mengandung anak pertamanya. Kala itu ia mengaku sangat kesulitan finansial.

Akhirnya temen tim di Garuda UNY ada yang join usaha persewaan dan servis alat berat, saya diajak gabung. Tanpa pikir panjang kondisi butuh mepet walaupun nglaju ke Sleman tapi tidak saya pikir,” tukas dia.

Hingga kini, ia masih bergabung dengan rekan-rekan timnya untuk membesarkan tempat kerjanya. Meskipun kala menjadi mahasiswa ia bermimpi mudah mendapatkan pekerjaan yang sebanding untuk saat ini ia tak lagi muluk-muluk memasang target.

“Yang penting kebutuhan anak dan istri tercukupi, masalahhya kalau sekarang sudah kepepet butuh,” kelakarnya.

Di hari Sumpah Pemuda ini ia berharap, pemerintah makin tanggap dengan potensi muda-mudi generasi harapan bangsa. Jangan sampai kemampuan yang dimiliki muda-mudi tak dilirik bangsa sendiri.

Ya paling tidak jangan seperti saya ini, cita-cita muluk-muluk tapi mau gimana lagi tidak ada peluang dan fasilitas untuk mengembangkannya,” tutup Toni.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler