seni
Sejarah Bobung, Awal Mula Jadi Pusat Batik Ukir Gunungkidul Yang Kini Mendunia
Patuk,(pidjar.com)–Padukuhan Bobung yang terletak di Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk selama ini dikenal sebagai jantung kreativitas seni ukir kayu di Gunungkidul. Yang mana dari tangan-tangan warganya, mampu melahirkan karya seni ukir batik kayu secara turun temurun dan bahkan juga telah mendunia.
Salah seorang pengrajin batik kayu, Sujiman mengatakan, sudah lebih dari 50 tahun lamanya warga Padukuhan Bobung bergelut dalam produksi batik kayu. Berawal dari, dulunya warga yang tinggal di kaki Gunung Api Purba Nglanggeran tersebut mayoritas adalah petani. Usai musim panen tiba warga sering menggelar pentas seni tari topeng sebagai bentuk syukur.
Dari situlah, Sujiman kemudian berkreasi dengan membuat topeng tari sendiri. Topeng kreasi Sujiman ini yang kemudian dikenal secara umum untuk kepentingan tari serta hiasan rumah. Awalnya, ia tak menyangka topeng buatannya akan laku keras di pasaran. Hingga kemudian, ia cukup kerepotan mendapati pesanannya di tahun 1970 an membludak. Ia kemudian mengajak warga di Bobung untuk bergabung membuat topeng batik kayu.
“Ada perubahan yang dulunya mayoritas petani kemudian beralih menjadi pengrajin batik kayu sampai dengan saat ini,” kata Sujiman.
Untuk membuat topeng batik kayu, membutuhkan waktu beberapa hari. Dimulai dari pemilihan kayu sebagai bahan baku, kemudian membuat pola, pengukiran, hingga pengecatan barulah topeng siap digunakan.

Menurut Sujiman, dalam prosesnya pemilihan bahan baku harus diperhatikan betul. Karena akan mempengaruhi kualitas dan keawetan karya seni tersebut. Jika topeng untuk kepentimgan tari, ia menggunakan kayu terbelo puso yang dianggap lebih awet, tidak mudah keropos dan ringan saat digunakan untuk menari.
Sedangkan untuk topeng souvenir atau produk lain biasanya menggunakan kayu pule, sengon, mahoni yang mudah didapat di Gunungkidul.
Selama ini pesanan tak hanya datang dari penjuru Indonesia, namun dari berbagai negara juga masuk seperti India, Afrika, negara tetangga, Eropa, India, bahkan hingga Amerika. Masing-masing produk dibandrol dengan harga yang bervariasi, disesuaikan dengan ukuran dan tingkat kerumitan dalam proses pembuatan.
“Selain topeng kami pengrajin batik kayu mulai merambah produksi jenis kerajinan lain namun tetap dengan ciri khas kami berbahan kayu dan ada ukir batiknya. Seperti patung batik kayu, gantungan lampu, piring batik kayu, serta berbagai jenis souvenir kayu,” jelasnya.
Menyandang status sebagai desa wisata, selama ini banyak wisatawan berkunjung ke Bobung, Patuk untuk belajar membuat topeng maupun benda batik kayu lainnya. Sejumlah pelatihan-pelatihan juga sering digelar di daerah ini sebagai contoh ekonomi kreatif yang berjalan di Gunungkidul.
-
Pemerintahan3 minggu yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Uncategorized3 minggu yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Peristiwa3 minggu yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Peristiwa3 minggu yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized4 minggu yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Uncategorized2 minggu yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized4 minggu yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Uncategorized4 minggu yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized2 minggu yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized2 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized3 minggu yang lalu83 Tukik Dilepas ke Laut, Bupati Gunungkidul Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Penyu
-
Uncategorized2 minggu yang laluLurah di Gunungkidul Kompak Enggan Teken Berita Acara Serah Terima Aset KDMP, Ada Apa?
