Pemerintahan
Warga Terdampak Kekeringan Mulai Harus Beli Air, Bantuan Pemerintah Baru Bisa “Cair” Juli
Wonosari,(pidjar.com)– Di awal musim kemarau ini warga di sejumlah wilayah di Kabupaten Gunungkidul disebut mulai mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Maka dari itu, sebagian dari mereka mulai membeli air tangki untuk mencukupi kebutuhan keseharian rumah tangga. Bantuan dari pemerintah sendiri masih belum bisa disalurkan kepada warga masyarakat lantaran masih menunggu penyaluran pada bulan Juli 2026 mendatang.
Lurah Songbanyu, Girisubo, Giyarno mengatakan, sejak beberapa pekan lalu warganya sudah mulai mengalami dampak kemarau yakni kekeringan yang mengakibatkan warga sulit untuk mendapatkan air bersih. Salah satu padukuhan yang sudah banyak membeli air tangki yakni di Padukuhan Salam 2, Bengungan dan Gebangsari.
“Lokasi 3 padukuhan ini berada di titik yang agak tinggi. Sehingga air PDAM sulit naik dan mengalir. Akibatnya mereka tidak mendapatkan pasokan air dan harus membeli air tangki,” kata Giyarno.
Menurutnya Kalurahan Songbanyu merupakan salah satu daerah yang selalu paling awal kekeringan saat kemarau. Warga harus menambah pengeluaran mereka untuk membeli air bersih.
“Harga per tangkinya bervariasi. Untuk sekarang masih beli sendiri untuk kebutuhan,”tambahnya.

Panewu Girisubo, Haryanta mengatakan, dari 8 kalurahan di Girisubo hampir semua selalu kesulitan dalam pemenuhan air bersih saat musim kemarau. Jika sudah menghadapi kondisi demikian, maka biasanya warga membeli air sendiri, menerima bantuan pemerintah dan pihak lain.
“Dari 8 kalurahan yang masih kesulitan air saat kemarau ada 7 kalurahan. Sedangkan 1 kalurahan yakni Tileng sudah mulai ada aliran PDAM yang terus mengalir,” ucapnya.
Pada tahun 2026 ini, Kapanewon Girisubo mengalokasikan anggaran untuk pengadaan 266 tangki air bersih. Nantinya bantuan ini akan disalurkan ke warga terdampak kekeringan sampai dengan akhir musim kemarau atau setidaknya persediaan air warga telah kembali pulih di musim penghujan.
“Untuk realisasi droping dilakukan di bulan Juli. Jadi sekarang masih beli sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, Panewu Purwosari, Subiyantoro mengatakan, di wilayahnya ada 2 kalurahan yang saat ini mulai mengalami kesulitan air bersih sehingga warga harus membeli air tangki. Yakni kalurahan Giripurwo dan Giricahyo. Maka dari itu kapanewon menganggarkan untuk droping air.
“Kalau di Purwosari yang terlayani PDAM baru sedikit. Mayoritas SPAMDes yaitu di Girijati, Giriasih, Giritirto dan sebagian Giricahyo. Tapi di musim kemarau ini droping air dari kapanewon tetap dilakukan. Sebab di Giriscahyo dan Giripurwo ini sudah mulai kesulitan air bersih,” kata Subitantoro.
“Juli baru mulai droping air,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Edy Winata mengatakan, tahun ini BPBD Gunungkidul menyiapkan anggaran sebesar Rp 500 juta untuk droping air. Anggarsn tersebut mampu mencukupi kebutuhan air bersih sebanyak 1.500 tangki.
Dalam proses pendistribusiannya kedepan, Edy mengatakan bahwa program droping air dari BPBD hanya akan mengcover 6 kapanewon yang tidak memiliki anggaran mandiri.
Kemudian nantinya jika 12 kapanewon yang memiliki anggaran mandiri semuanya telah terpakai baru bisa mengakses droping air dari BPBD.
“Kalau di kapanewon sudah tidak mencukupi sedangkan permintaan (droping) masih tinggi maka nanti dari BPBD melakukan pendistribusian air baku ke masyarakat,” kata Edy.
Beberapa kapanewon di Gunungkidul saat ini telah memiliki anggaran sendiri untuk pendistribusian air bersih saat kemarau. Diantaranya Kapanewon Patuk, Gedangsari, Purwosari, Panggang, Paliyan, Tanjungsari, Tepus, Girisubo, Rongkop, Semanu, Ponjong, dan Nglipar. Sedangkan yang tidak memiliki anggaran untuk pemenuhan air bersih yakni kapanewon Wonosari, Semin, Ngawen, Playen, Saptosari, Karangmojo.
“Untuk nominal anggaran masing-masing kapanewon tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan,” kata dia.
Disinggung mengenai daerah atau kalurahan mana saja yang berpotensi mengalami kekeringan, ia menjelaskan hal tersebut masih akan petakan kembali. Namun tidak menutup kemungkinan apabila wilayah kekeringan akan lebih luas dibandingkan dengan tahun lalu sebab kemarau tahun ini diprediksi bersifat kering dan lebih panjang, sekitar 7 bulan dari bulan Mei.
“Gunungkidul kemarau mulai pada dasarian III April dengan puncak kemarau pada Agustus mendatang. Maka dari itu kami siap membackup kapanewon-kapanewon yang anggaran droping airnya telah habis di bulan-bulan tersebut maupun berikutnya,” tutup dia.
-
Uncategorized2 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized4 hari yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluSakit Hati Sering Diejek Ketika Memulung Sampah, 2 Remaja Putri Nekat Bakar Sekolah
-
Uncategorized3 minggu yang laluSempat Diancam Akan Dilindas Lehernya, Dua Remaja Babak Belur Dihajar Kelompok Pemuda Silat
-
Uncategorized3 minggu yang lalu9.000 Penerima Bansos Gunungkidul Disetop karena Terindikasi Judi Online
-
Uncategorized3 minggu yang laluSaling Bajak Kader Antara PSI dan NasDem Gunungkidul Makin Seru, Ini Tanggapan Sang Ketua
-
Uncategorized3 minggu yang laluKelok 23 Tuntas 100 Persen, Akses Gunungkidul-Bantul dengan View Laut Selatan Segera Dibuka
-
Uncategorized3 minggu yang laluPenerima PKH di Gunungkidul Turun 2.000 Orang, Ini Penyebabnya
-
Uncategorized2 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized2 minggu yang laluBupati Turun Tangan, Polemik Seleksi Ulu-Ulu Siraman Mulai Ditelusuri
-
Uncategorized2 minggu yang laluGunungkidul Jajaki Kerjasama dengan Korea Selatan, Buka Peluang Jadi Pekerja Musiman
-
Uncategorized2 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
