Sosial
Dapat Perhatian Dari Pemerintah Desa, Fenomena Sumber Air Memancar Jadi Berkah Untuk Masyarakat Natah
Nglipar,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Fenomena munculnya air saat dalam proses pengeboran yang dilakukan oleh masyarakat Desa Widoro Lor, Desa Bendung, Kecamatan Semin dan di Padukuhan Bundelan, Desa Tancep, Kecamatan Ngawen beberapa pekan terakhir nampaknya bukan merupakan kejadian pertama kali. Pasalnya beberapa tahun silam, fenomena serupa terjadi di Desa Natah, Kecamatan Nglipar. Tentunya dengan adanya sumber air yang muncul menjadi harapan besar bagi masyarakat setempat untuk mendapatkan air bersih secara melimpah.
Kepala Desa Natah, Kecamatan Nglipar, Wahyudi mengungkapkan, beberapa tahun lalu di sekitar Padukuhan Blembem atau tepatnya di sekitar MTs di desa tersebut sempat dilakukan pengeboran air. Rencananya, air dari hasil pengeboran tersebut direncanakan akan dimanfaakan sebagai sumber air untuk irigasi dan pemenuhan kebutuhan air masyarakat. Namun kala itu, baru beberapa meter dilakukan pengeboran, air dengan debit yang deras langung muncul dan menyembur dari dalam tanah.
Kejadian ini tentunya menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar. Mengingat sebelumnya, Desa Natah menjadi salah satu daerah rawan kekeringan setiap musim kemarau melanda. Dengan adanya sumber air memancar ini, jika biasanya masyarakat harus bersusah payah mendapatkan air bersih saat musim kemarau, masyarakat bisa lebih mudah dalam memanfaatkannya.
“Sudah beberapa tahun lalu air itu muncul. Tepatnya di pinggir jalan, tidak jauh dari pemukiman warga,” terang Pariyono, Sabtu (24/08/2019).
Seiring berjalannya waktu, sumber air ini memang benar-benar menjadi berkah. Meski sudah beberapa tahun lamanya dan meski juga saat terjadi musim kekeringan yang melanda, sumber air itu tak pernah surut. Air terus mengucur deras. Berdasarkan dari hasil pembicaraan pemerintah desa dan warga kemudian disepakati, sumber air tersebut akan dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat Desa Natah. Meski begitu, belum secara keseluruhan warga teraliri air dari sumber tersebut.

“Debit airnya stabil. Adanya sumber ini sangat membantu, di daerah kami juga ada beberapa sumur bor,” tambah dia.
Sumber air ini sekarang mampu mengaliri 3 padukuhan di Desa Natah yakni Padukuhan Blembem 1, Blembem 2 dan padukuhan terdekat lainnya. Masyarakat setempat saat ini tidak begitu kesusahan dalam mendapatkan air bersih. Di musim kemarau seperti ini, meski masih tetap mengalir airnya, tetapi harus dilakukan penyedotan dengan pompa, dan secara bergiliran dalam pemanfaatannya.
Sementara itu, Dukuh Blembem 2, Heri mengungkapkan, pengeboran air yang dilakukan sendiri sudah ada sejak tahun 2011. Sumber air ini kemudian dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan 150 Kepala Keluarga (KK) di 3 padukuhan. Untuk pengoptimalan dalam pemanfaatan dan pengaliran air sendiri telah dilakukan pemasangan mesin agar memudahkan jangkauan.
“Untuk pengelolaan dilakukan secara mandiri oleh kelompok yang ada di masing-masing padukuhan,” ujar Heri.
Per satu kubik air yang dimanfaatkan oleh masyarakat dikenai biaya Rp 2000. Kemudian dari hasil pembayarannya sendiri dikelola oleh pengurus kelompok untuk operasional mesin, pemberian sumbangan makanan tambahan posyandu, bantuan pembayaran jika diadakan acara di padukuhan dan pemberian bingkisan pada pelanggan aktif dalam pembayaran dan beberapa kebutuhan lainnya.
“Tentunya kami sangat terbantu dengan adanya sumber air yang beberapa tahun lalu muncul, sehingga kebutuhan air dapat terpenuhi,” jelas dia,
Fenomena munculnya air ke permukaan di kawasan utara ini memang tengah ramai dibicarakan oleh sejumlah kalangan. Dari pemerintah kabupaten sendiri beberapa waktu lalu mengatakan jika akan menerjunkan tim untuk melakukan penelitian atas semburan air di kawasan tandus layaknya di Pladang Padukuhan Widoro Lor, Desa Bendung, Kecamatan Bendung.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Gunungkidul, Suharno mengungkapkan, sejumlah lini masyarakat dan pemerintah harus terlibat dalam penanganan fenomena semacam ini. Jika debit air yang ada tetap stabil, lebih baik kemudian dilakukan langkah nyata agar permasalahan air di Gunungkidul dapat teratasi.
“Jika sekiranya mampu dialirkan ke masyarakat kenapa tidak dilakukan, atau mungkin air yang muncul bisa dimanfaatkan untuk perluasahan lahan pertanian. Sehingga kesejahteraan masyarakat dalam bidang pertanian lebih terangkat. Pemerintah desa juga harus terlibat,” tutur Suharno.
-
Info Ringan2 minggu yang laluResep Lamian Kuah Daging Sapi
-
Peristiwa2 minggu yang laluTragis, Pelajar SMP di Semanu Ditemukan Meninggal G4ntung D1r1 di Pohon Jambu Mete
-
Info Ringan2 minggu yang laluResep Soto Tangkar
-
Peristiwa6 hari yang laluLaka Maut Dinihari, Pemotor Tewas Dihantam Pick Up
-
Uncategorized3 minggu yang laluLomba Rebahan Pertama di Indonesia Digelar di JCM, Siapkan Hadiah Rp5 Juta
-
Uncategorized2 minggu yang laluKecelakaan Beruntun di Baleharjo Gunungkidul, Pengendara Vixion Meninggal Dunia
-
Peristiwa1 minggu yang laluPeriode Maut Jalanan Gunungkidul, Ratusan Kecelakaan Puluhan Korban Meninggal Dunia
-
Pemerintahan1 minggu yang laluPrihatinnya Kalangan Dewan, Pelaku Bunuh Diri Mulai Merambah Remaja Hingga Anak
-
Peristiwa1 minggu yang laluLaka Maut di Semanu, Pembonceng Tewas Tersambar Truk
-
Hukum1 minggu yang laluTagih Utang Rp350 Ribu Berbuntut Panjang, Polisi Amankan 5 Orang dan 2 Sajam
-
Uncategorized3 minggu yang laluProses Hukum Kasus Pencurian di Pantai Drini Berlanjut, Begini Penjelasan Polisi
-
Uncategorized4 minggu yang laluSewindu Mengabdi untuk Pendidikan, SMA Muhammadiyah Al Mujahidin Catatkan 1.000 Prestasi
