Pemerintahan
Antisipasi Penurunan Produksi Pertanian, Petani Diminta Rutin Gunakan Pupuk Organik
Wonosari, (pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Dinas Pertananian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul terus mendorong agar petani menggunakan pupuk organik. Hal itu sebagai antisipasi dari dampak jangka panjang penggunaan pupuk kimia yaitu penurunan produktifitas pertanian.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, menyampaikan, Gubernur DIY telah menghimbau petani agar menggunakan pupuk berimbang dan pemanfaatan pupuk organik sebagai antisipasi menurunnya produktifitas pertanian melalui surat edaran pada akhir bulan April lalu. Menurutnya, secara keseluruhan petani di Gunungkidul sendiri telah banyak menggunakan pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan ternak.
“Kami dorong penggunaan pupuk organik melalui bantuan-bantuan agar petani bisa membikin sendiri pupuknya,” ucap Raharjo, Selasa (14/06/2022).
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Sustiwiningsih, mengungkapkan, pihaknya dalam dua tahun terakhir menaruh perhatian khusus dalam penggunaan pupuk organik di lahan pertanian. Dorongan penggunaan pupuk organik dilakukan melalui program Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO) di sejumlah kelompok tani.
“Beberapa kelompok tani bahkan sudah memproduksi pupuk organik sendiri,” ujarnya saat ditemui.
Penggunaan pupuk kimia dalam jangka waktu yang lama dan berlebihan sendiri dapat berdampak pada berkurangnya kesuburan tanah pertanian. Berkurangnya kesuburan tanah otomatis akan mempengaruhi tingkat efisiensi usaha tani yang berujung pada penurunan produksi pertanian. Menurutnya, petani di Gunungkidul sudah banyak yang menggunakan kotoran hewan ternak sebagai pupuk namun sebagian besar belum diolah.
“Kalau secara umum dari dulu kan sudah banyak yang pakai pupuk kandang, tapi itu belum diolah jadi masih banyak bibit rumput liarnya,” imbuhnya.
Dalam penerapan penggunaan pupuk organik, menurutnya yang menjadi tantangan ialah merubah pola pikir dan perilaku petani. Secara umum, petani ingin mendapatkan hasil yang cepat dan instan dari penggunaan pupuk kimia. Berbeda dengan cara kerja dan dampak pupuk organik terhadap lahan pertanian yang membutuhkan proses cukup lama.
“Pupuk organik ini kan butuh waktu untuk mengolah, petani juga pengennya cepat. Jadi itu tantangannya untuk merubah cara berpikir petani,” terangnya.
“Pemakaian pupuk organik ini kan harapannya harga jual juga tinggi karena beda kalau yang pakai pupuk organik dan kimia,” tutup dia.
-
Uncategorized4 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized5 hari yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluPeduli Kekeringan, GUBUK dan DWP BRIN Salurkan 37 Tangki Air Bersih untuk Warga Gunungkidul
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized1 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
