film
Monster Pabrik Rambut Hadirkan Horor Segar Berbalut Satir bersama Monster
Jogja,(pidjar.com)–Film horor Indonesia kembali mencoba jalur baru lewat film Monster Pabrik Rambut yang dijadwalkan tayang pada 4 Juni 2026. Jika sebagian besar film horor lokal masih bertumpu pada sosok hantu, ritual mistis, dan jumpscare, film garapan sutradara Edwin ini justru menghadirkan teror dari dunia kerja modern yang terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut membuat Monster Pabrik Rambut terasa seperti perpaduan atmosfer horor psikologis ala Junji Ito dengan monster simbolik khas Guillermo del Toro. Kengerian tidak lahir dari penampakan setan semata, melainkan dari tubuh manusia yang perlahan rusak oleh tekanan kerja, kelelahan, dan budaya produktivitas tanpa batas.
Film produksi Palari Films itu mengikuti kisah tiga kakak beradik Putri, Ida, dan Bona yang terpaksa bekerja di sebuah pabrik rambut setelah ibu mereka meninggal secara misterius. Putri diperankan Rachel Amanda, Ida dimainkan Lutesha, sementara Bona diperankan Iqbaal Ramadhan.
Di dalam pabrik, mereka menemukan suasana kerja yang ganjil dan menyesakkan. Para pekerja tampak seperti manusia yang kehilangan identitasnya sendiri. Tubuh lelah, jam kerja panjang, dan tekanan produksi perlahan berubah menjadi teror psikologis yang membentuk “monster” baru. Nuansa inilah yang mengingatkan pada karya-karya Junji Ito, ketika rasa takut muncul dari sesuatu yang awalnya tampak biasa, lalu berubah grotesk dan mengganggu secara perlahan.
Edwin mengatakan film tersebut memang lahir dari keresahan terhadap budaya kerja modern yang membuat manusia terus bergerak tanpa jeda.

“Dunia kerja sering membuat orang terus bekerja tanpa henti demi produktivitas,” kata Edwin saat peluncuran trailer di Jogja City Mall, Kamis (21/5/2026).
Alih-alih mengandalkan efek digital berlebihan, Edwin memilih pendekatan visual yang lebih organik. Tim produksi meminimalkan penggunaan CGI dan memakai practical effect untuk menghadirkan monster secara nyata di lokasi syuting. Strategi ini membuat film terasa lebih mentah dan fisikal, serupa dengan gaya Guillermo del Toro yang sering menghadirkan makhluk-makhluk simbolik dengan detail tubuh yang nyata dan tidak nyaman dilihat.
Iqbaal Ramadhan menyebut horor dalam film ini justru terasa kuat karena berasal dari situasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat urban saat ini.
“Tidak ada setan dan jumpscare berlebihan. Horornya datang dari situasi dan monster di dalam cerita,” ujarnya.
Salah satu simbol paling menarik muncul lewat karakter Bona yang memiliki kemampuan meregenerasi tubuh seperti Axolotl, amfibi asal Meksiko. Kemampuan itu menjadi metafora tentang pekerja yang dipaksa terus pulih dan kembali produktif meski tubuh dan mental mereka sebenarnya sudah kelelahan. Tubuh menjadi mesin produksi yang dipaksa terus hidup.
Pemeran Putri, Rachel Amanda, menilai tema tersebut sangat relevan bagi generasi muda yang hidup di tengah budaya hustle culture dan overwork.
“Overwork itu nyata. Banyak orang harus lembur sampai kurang tidur demi pekerjaan,” katanya.
Selain membawa kritik sosial, film ini juga menjadi proyek kolaborasi internasional yang melibatkan Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis. Edwin menulis naskah bersama Eka Kurniawan, melanjutkan kerja sama mereka setelah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.
Film tersebut turut diproduseri Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, sementara Iqbaal Ramadhan juga terlibat sebagai produser eksekutif bersama Ernest Prakasa, Dian Sastrowardoyo, dan Maudy Ayunda.
Nuansa muram film semakin diperkuat lewat original soundtrack Kepala, Pundak, Kerja Lagi yang dibawakan Sal Priadi. Lagu tersebut lahir langsung saat proses syuting berlangsung dan menggambarkan siklus kerja tanpa henti yang menjadi inti cerita film.
Melalui Monster Pabrik Rambut, horor Indonesia tampaknya mulai bergerak ke arah yang lebih segar bukan sekadar menakut-nakuti penonton, tetapi juga mengajak mereka memikirkan ulang relasi manusia dengan pekerjaan, tubuh, dan rasa lelah yang selama ini dianggap normal. (rosa)
-
Pemerintahan2 minggu yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Uncategorized4 minggu yang laluMantan Kepala Benarkan Alat-alat Musik Studio SKB Gunungkidul Berada di Rumahnya, Sebut Untuk Kursus Musisi Muda Kawasan Selatan
-
Uncategorized2 minggu yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Uncategorized4 minggu yang laluTak Berhasil Saat Diminta Perbaiki Listrik, Dimas Dikeroyok Secara Brutal, Dari Diinjak Hingga Dihantam Senter
-
Peristiwa2 minggu yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Uncategorized2 minggu yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Peristiwa2 minggu yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized3 minggu yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized3 minggu yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Uncategorized4 hari yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized6 hari yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized5 hari yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
