Uncategorized
Berburu Foto Estetik di Pantai Ngobaran, Pemgunjung Rela Antre Pakai Busana Adat Demi Jepretan Berlatar Pura
Saptosari, (pidjar.com)- Seorang wisatawan tampak merapikan kain batik yang melilit pinggangnya. Di sampingnya, pengunjung lain mengenakan kebaya, sementara beberapa wisatawan memilih balutan busana khas Bali lengkap dengan selendang. Mereka berdiri berjejer menunggu giliran. Tujuannya sama, mengabadikan momen berlatar Pura Segara yang berdiri megah di atas tebing Pantai Ngobaran, Gunungkidul.
Di sela deburan ombak Samudra Hindia dan semilir angin pantai, suara rana kamera terus bersahutan. Satu per satu wisatawan diarahkan berganti pose oleh fotografer. Ada yang berdiri menghadap laut, ada pula yang membelakangi kamera sambil menikmati siluet pura yang menjulang di bibir tebing.
Pemandangan semacam itu kini hampir setiap hari ditemui di Pantai Ngobaran, Kalurahan Kanigoro, Kapanewon Saptosari. Pantai yang selama ini dikenal karena perpaduan budaya Jawa dan Bali tersebut berkembang menjadi salah satu destinasi favorit berburu foto estetik di Gunungkidul.
Fenomena itu turut membuka peluang ekonomi baru bagi warga sekitar. Puluhan fotografer, penyedia busana adat, hingga jasa transportasi lokal kini menggantungkan penghasilan dari tren wisata fotografi tersebut.
Salah satunya Arda. Warga Dusun Kanigoro itu bersama rekannya, Yoseph, mengelola jasa fotografi yang melayani wisatawan ingin mengabadikan momen mengenakan pakaian adat Jawa maupun Bali.

Hobi memotret yang digelutinya sejak kelas 1 SMP kini berubah menjadi profesi. Berbekal kamera Canon 6D, Arda bersama tim melayani pemotretan dengan latar panorama laut selatan dan Pura Segara yang menjadi ikon Pantai Ngobaran.
“Kami melayani wisatawan yang ingin berfoto dengan konsep tradisional. Lokasinya sangat mendukung karena ada pura dan pemandangan laut yang indah,” kata Arda, Minggu (5/7/2026).
Wisatawan dapat memilih beberapa paket yang disediakan. Paket tunggal dibanderol Rp300 ribu, paket pasangan Rp450 ribu, sedangkan paket keluarga Rp600 ribu. Seluruh hasil foto diberikan dalam bentuk file digital.
Dalam satu sesi selama kurang lebih satu jam, fotografer akan mengajak wisatawan berpindah ke tiga titik favorit. Mulai dari kawasan Pura Segara, lantai bambu yang menghadap langsung ke Samudra Hindia, hingga area bernuansa kejawen yang menghadirkan suasana tradisional Jawa.
Dari ketiga lokasi tersebut, Pura Segara menjadi spot yang paling banyak diburu. Berdiri di atas tebing karang dengan latar birunya laut lepas, pura itu menghadirkan komposisi foto yang sulit ditemukan di tempat lain. Menjelang sore, cahaya matahari keemasan membuat suasana semakin dramatis.
Tak heran jika antrean wisatawan menjadi pemandangan biasa, terutama saat akhir pekan maupun musim libur sekolah.
Arda mengaku, dalam sehari dirinya bersama tim mampu melayani sekitar lima rombongan wisatawan. Jumlah itu terus meningkat dibandingkan beberapa tahun lalu.
“Setelah COVID-19, pengunjung semakin ramai. Paling padat saat Sabtu, Minggu, dan liburan sekolah,” ujarnya.
Menurut Arda, ketika tren fotografi mulai muncul beberapa tahun lalu, persewaan pakaian adat hanya dikelola segelintir warga di sekitar pura. Kini, semakin banyak masyarakat ikut membuka usaha serupa karena tingginya permintaan wisatawan.
Tak hanya itu, warga juga menyediakan layanan shuttle menuju Pantai Ngobaran dan Pantai Nguyahan dengan tarif Rp10 ribu pulang pergi. Kehadiran layanan tersebut memudahkan wisatawan menikmati dua pantai yang lokasinya berdampingan tanpa harus berjalan kaki melewati jalur menanjak.
Berkembangnya wisata fotografi turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat pesisir. Penyedia busana adat, fotografer, jasa transportasi, hingga pedagang makanan sama-sama merasakan dampak meningkatnya kunjungan wisatawan.
Saat ini sedikitnya terdapat sekitar 130 fotografer yang aktif melayani wisatawan di kawasan Pantai Ngobaran dan Pantai Nguyahan. Jumlah itu menjadi gambaran bagaimana tren berburu foto estetik telah melahirkan lapangan pekerjaan baru di sektor pariwisata lokal.
Bagi wisatawan, Pantai Ngobaran kini bukan sekadar tempat menikmati panorama laut selatan. Destinasi ini menawarkan pengalaman berbeda, mengenakan busana tradisional, berdiri di tepi tebing menghadap Samudra Hindia, lalu membawa pulang selembar foto yang tak hanya indah dipandang, tetapi juga menyimpan cerita tentang perpaduan alam, budaya, dan kreativitas masyarakat pesisir Gunungkidul.
-
Kriminal3 minggu yang laluDisiksa Dari Dipukuli Hingga Lukanya Dilumuri Garam, Remaja 17 Tahun Mengaku Sempat Diancam Ditembak Oknum
-
Peristiwa2 minggu yang laluPerempuan Muda di Ponjong Ditemukan Meninggal Dunia dengan Seutas Tali Dipohon
-
Sosial2 minggu yang laluKisah Sedih Andheng Pasca Kecelakaan, Saat di RS Nurohmah Hanya Dijahit Telinga, Ternyata Patah Tulang Belakang dan Terancam Lumpuh
-
Uncategorized1 minggu yang laluMBG Libur, Harga Sembako Mulai Turun Drastis
-
Peristiwa4 minggu yang laluLaka Maut Dinihari, Pemotor Tewas Dihantam Pick Up
-
Pemerintahan1 minggu yang laluDinas Bongkar Upaya Kecurangan Pendaftar SMP N 1 Wonosari, Dari ASN Manipulasi Data Bansos Hingga Gunakan Sertifikat Palsu
-
Uncategorized3 minggu yang laluHeboh Bola Api Berekor Panjang Melintas di Langit Gunungkidul, Warga Kaitkan dengan Pulung Gantung Jelang Bulan Suro
-
Peristiwa4 minggu yang laluPeriode Maut Jalanan Gunungkidul, Ratusan Kecelakaan Puluhan Korban Meninggal Dunia
-
Peristiwa2 minggu yang laluDalam Posisi Terduduk, Lansia 81 Tahun Ditemukan Gantung Diri di Belakang Rumah
-
Peristiwa1 minggu yang laluRS Nur Rohmah “Cuek” di Tengah Operasi-operasi Yang Harus Dijalani Andheng, Keluarga Pilih Tempuh Jalur Hukum
-
Uncategorized3 minggu yang laluCetak Sejarah di Moto3, Veda Dapat Hadiah Mobil Impian Dari Konglomerat
-
Peristiwa2 minggu yang laluDiserempet Pemotor Tak Dikenal di Baleharjo, Pemotor Wanita Luka Parah Terjun ke Tegalan
