Connect with us

Sosial

Imaji Menilai Pelaku Gantung Diri Itu Orang yang Kesepian

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Maraknya kasus gantung diri di Kabupaten Gunungkidul mengundang respon dari berbagai pihak. Sejumlah lembaga maupun instansi secara fokus melakukan penelitian dari setiap perkara yang terjadi. Diharapkan dengan hasil penelitian tersebut bisa mendapat solusi untuk pencegahan bunuh diri.

Seperti hasil penelitian yang disampaikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Yayasan Inti Mata Jiwa (Imaji). Masalah kesehatan jiwa disebut menjadi faktor resiko terbesar terjadinya gantung diri di Kabupaten Gunungkidul. Selain itu, para pelaku diketahui merasa kesepian lantaran lemahnya perhatian dari lingkungan sekitar.

Ketua Imaji, Joko Yunu Widiasta mengatakan, diperoleh data sejak 2015 kasus bunuh diri di Gunungkidul rata-rata berjumlah 30 kasus. Dari jumlah yang ada terjadi karena berbagai faktor resiko.

“Ragamnya banyak seperti depresi, sakit menahun sakit fisik. Tapi imbasnya itu adalah masalah psikologi atau kejiwaan,” kata Joko, Rabu (02/01/2019).

Ia menyebut, masalah kejiwaan ini mempunyai dampak serius di balik beberapa kasus bunuh diri yang terjadi di Gunungkidul selama ini. Banyak kasus menunjukan para pelaku memang berperilaku depresi namun minim perhatian dari lingkungan keluarga dan warga sekitar.

“Dari beberapa kasus yang ada diketahui para pelaku bunuh diri ini sering mondar mandir, mengurung diri di kamar dan suka menyendiri. Itu kan hanya pengamatan orang di sekelilingnya. Tapi sebenarnya itu menunjukan masalah kejiwaan yang perlu ditolong,” kata dia.

Para pelaku bunuh diri menurut Joko, sebenarnya membutuhkan pendekatan dari orang-orang sekitar. Namun kebutuhan tersebut tidak mereka dapatkan sehingga merasa hidup sendirian.

Berita Lainnya  Sejumlah Masjid Terpantau Masih Laksanakan Tarawih Berjamaah

“Pelaku bunuh diri itu kan orang yang kesepian. Merasa sudah tidak berguna hidup jadi mereka memilih lari dari masalah dengan cara bunuh diri,” kata dia.

Masalah kejiwaan sendiri, imbuh Joko, terjadi karena pengalaman buruk di masa lalu. Selain itu juga masalah atau kejadian-kejadian yang membuat mereka merasa tertekan dan seolah tidak bisa menerima kenyataan.

Mengenai masalah kemiskinan, tidak berbanding lurus dengan kasus bunuh diri yang terjadi. Sebab, beberapa kasus sendiri ditemukan dengan korban berkemampuan ekonomi mapan.

“Kalau menurut saya, kemiskinan tidak begitu menjadi faktor. Karena banyak masyarakat miskin yang hidupnya sejahtera. Menurut saya masih masalah psikologi,” ungkap dia.

Untuk usia pelaku bunuh diri sendiri, disampaikan Joko lebih banyak dilakukan oleh mereka yang berada di usia dewasa muda sampai dengan usia dewasa lanjut. Sebab, dari jumlah yang ada usia produktif lebih mendominasi dibanding dengan lansia.

“Usia produktif dari 18-60 tahun itu lebih banyak dibanding dengan yang lansia. Jadi disini usia produktif itu banyak yang bunuh diri,” ungkap dia.

Disinggung mengenai mitos pulung gantung, Joko menyatakan permasalahan bunuh diri terjadi juga bukan karena adanya pulung ataupun adanya bisikan roh gaib atau sejenisnya. Namun lagi-lagi itu merupakan masalah psikologi.

Berita Lainnya  Antisipasi Caleg Stres Pasca Pencoblosan Pemilu 2019, RSUD Wonosari Optimalkan Poli Layanan Kejiwaan

“Pernah ada orang mau bunuh diri di Paliyan. Dirinya mengaku seperti dibisiki oleh orang disuruh lari dan terjun ke luweng. Tapi secara logika, itu kan dia termasuk berhalusinasi,” ungkapnya.

Namun kadang, masalah seperti itu masih dianggap enteng oleh masyarakat. Mereka lebih mempercayai adanya mitos tersebut dari pada mengurai masalah secara logis. Kasus bunuh diri pun tidak sebanding lurus dengan ilmu keagamaan atau dengan seberapa jauh mendalami agama.

“Kejiwaan itu lebih luas dari agama, meskipun kerohanian atau agama itu juga penting. Kekakuan beragama itu justru membuat orang melakukan tindakan-tindakan yang mengejutkan,” jelasnya.

Joko menambahkan, untuk dapat mengatasi masalah gantung diri di Gunungkidul memang diperlukan peran seluruh elemen masyarkat. Bahkan menurutnya, media perlu berhati-hati dalam menyajikan pemberitaan terkait masalah gantung diri.

“Kita memang perlu berhati-hati. Dalam ilmu sosiologi/kriminologi ada fenomena copy cat atau peniruan tindakan akibat paparan berita yang terus menerus. Tindakan tersebut terkadang dilakukan dalam alam bawah sadar,” kata dia.

“Memberitakan bunuh diri dengan foto fulgar disertai detail cara bunuh diri terkadang memicu orang yang rentan risiko bunuh diri justru segera melakukan aksi bunuh diri,” sambung dia.

Sementara itu, Kapolres Gunungkidul AKBP Ahmad Fuady mengatakan, penyebab bunuh diri di Gunungkidul sendiri didasari faktor geografis yang cukup luas. Jarak atau tempat tinggal antar warga berjauhan.

Berita Lainnya  Manfaatkan Lahan Sempit Untuk Bercocok Tanam, Pemkab Dampingi Ratusan Kawasan Rumah Pangan Lestari

“Padahal untuk mencegah kasus bunuh diri diperlukan keterlibatan atau kepedulian lingkungan,” ungkap Fuady.

Terpisah, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Priyanta Madya Satmaka mengungkapkan, persoalan bunuh di Gunungkidul selama ini terjadi lantaran faktor depresi. Terkait layanan kesehatan untuk mengantisipasi kasus bunuh diri sudah ada penekanan melalui standar pelayanan minimal (SPM) berdasarkan Permenkes no 43 tahun 17 tentang SPM bidang kesehatan.

“Ada 12 point SPM salah satunya tentang gangguan jiwa yaitu setiap orang dengan gangguan jiwa mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar,” kata Priyanta.

Implementasinya di Puskesmas sudah memberikan pelayanan kesehatan jiwa. Standar pelayanan kesehatan jiwa yakni pelayanan diberikan oleh perawat dan dokter Puskesmas dan mencegah kekambuhan serta pemasungan.

“Untuk kasus penyakit menahun sepanjang yang bersangkutan punya kartu BPJS akan dilayani di Puskesmas sampai paripurna kalau tidak sembuh akan dirujuk pada rumah sakit sesuai prosedur,” lanjut dia.

Ditambahkan Priyanto, pada dasarnya penyebab depresi sendiri faktornya kompleks. Justru lebih banyak di luar aspek kesehatan (sosial dan ekonomi). Artinya persoalan bunuh diri bukan semata mata tanggung jawab kesehatan saja tetapi melibatkan banyak pihak.

“Kita sudah menyediakan layanan secara maksimal. Tinggal bagaimana kesadaran masyarakat terhadap kesehatan pribadi maupun keluarganya. Jangan sampai hanya dibiarkan saja tanpa ada tindakan pengobatan atau pencegahan lainnya,” tutup Priyanta.

 

 

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Pariwisata12 jam yang lalu

Pony Park Dibanjiri Wisatawan, Hadirkan Puluhan Satwa Lucu nan Unik

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Jogja,(pidjar.com) – Destinasi wisata edukasi satwa terbaru, Pony Park, resmi dibuka di Kabupaten Klaten. Kehadiran Pony Park mendapat sambutan...

Pariwisata1 minggu yang lalu

Hampir Capai Target Tahunan, Baru Juni Pendapatan Retribusi Wisata Telah Capai 35,8 Miliar

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)- Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Kabupaten Gunungkidul hampir mencapai target tahunan meski baru di pertengahan tahun 2026...

Pariwisata1 minggu yang lalu

Gunungkidul Geopark Night Specta 8.0 Masuk KEN 2026, Siap Promosikan Geopark Gunung Sewu ke Dunia

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari(pidjar.com)– Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) kembali menggelar Gunungkidul Geopark Night Specta (GNS) Vol. 8.0 di...

Pariwisata2 minggu yang lalu

Listrik Kerap Padam, Sistem Pungutan Retribusi Non Tunai di Pantai Gunungkidul Terganggu

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)–Penerapan sistem pembayaran retribusi wisata secara non-tunai di sejumlah Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) kawasan wisata pantai selatan Gunungkidul...

bisnis3 minggu yang lalu

Pony Park Klaten Usung Konsep Wisata Ramah Hewan, Edukasi Interaktif Jadi Daya Tarik Utama

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Klaten,(pidjar.com)– Kehadiran Pony Park Klaten (POPA) yang dijadwalkan resmi dibuka pada 28 Juni 2026 tidak hanya menawarkan destinasi wisata...

Berita Terpopuler