Connect with us

Sosial

Fasilitas Publik Masih Belum Ramah, Kaum Disabilitas Keluhkan Sampai Harus Jumatan di Luar Masjid

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Komitmen pemerintah Gunungkidul untuk menjadikan daerah inklusi terus dikuatkan. Hal ini sebagai bentuk keperdulian pemerintah dan meningkatkan kesadaran khalayak mengenai pentingnya kesetaraan kewajiban dan pemenuhan hak terhadap kaum disabilitas. Selama beberapa tahun ini, pemenuhan hak terhadap kaum ini di Gunungkidul masih belum optimal. Seperti misalnya bahwa ternyata baru 2 desa yang telah menerapkan pemberdayaan dan pembangunan yang melibatkan kaum disabilitas yakni Desa Plembutan dan Desa Rejosari. Selain itu juga ada beberapa hak yang belum layak sesuai dengan standar yang telah ditentukan, seperti misalnya sarana prasarana yang memadahi untuk menunjang aktifitas serta keterlibatan mereka di masyarakat.

Seperti yang diungkapkan oleh Ketua Pusat Pemberdayaan Disabilitas Mitra Sejahtera, Hardiyo. Ia mengeluhkan perihal masih banyaknya fasilitas publik masih belum maksimal dalam menunjang aktifitas kaum disabilitas. Hardiyo mencontohkan seperti saat di masjid, para penyandang disabilitas tidak memiliki ruang dalam beribadah. Banyak diantara kaum disabilitas yang harus menjalankan Sholat Jumat di luaran masjid.

Berita Lainnya  Kisah Guru Hingga Pegawai SD Ini, Rela Berangkat Pagi Buta dan Patungan Antar Jemput Siswa

“Sangat rentan memang kalau tidak ada tempat yang disediakan. Atau di beberapa gedung pemerintahan yang juga belum begitu maksimal membangun akses penunjang bagi kami,” imbuh dia.

Sementara untuk pemberdayaan sebenarnya sudah dirasakan namun memang belum seberapa. Masih ada masyarakat yang seolah membeda-bedakan kaum disabilitas dalam pemberdayaan. Ia menyebut perlu adanya kesadaran masyarakat tentunya agar penyetaraan pemenuhan kebutuhan, hak dan kewajiban tetap berjalan.

Di Gunungkidul sendiri terdapat 200 lebih kaum disabilitas yang telah ikut aktif dalam forum ini. Aktif dalam segala hal memperjuangkan apa yang benar-benar mereka butuhkan demi menunjang segala aktifitas. Jumlah secara menyeluruh kaum disabilitas sendiri yakni mencapai 8000 jiwa. Dari jumlah tersebut tentu belum sepenuhnya mereka mendapat perhatian dari lembaga atau pemerintah.

“Perhatian lembaga dan pemerintah memang terus ditingkatkan, namun memang belum maksimal. Untuk mewujudkan daerah inklusi terus dikembangkan oleh pemerintah,” tambah dia.

Menanggapi keluhan ini, Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi, mengungkapkan selama ini komitmen pemerintah daerah untuk menjadikan daerah inklusi terus diperkuat. Berbagai upaya pembangunan dan pemberdayaan telah dilakukan, namun demikian dari pemerintah menyadari belum begitu maksimal. Di Gunungkidul sendiri, tentu ada tantangan yang dihadapi.

Berita Lainnya  Menelisik Rumah Persinggahan Jendral Sudirman di Paliyan Saat Perang Gerilya

“Menjadikan daerah inklusi tentu tidak semudah yang dibayangkan. Pola pikir dan beberapa aspek perlu dilakukan penyesuaian,” ucap dia.

Di Gunungkidul terdapat Perda yang mengatur mengenai daerah inklusi. Sayangnya, dari 144 desa yang ada baru 2 desa yang menerapkan pemberdayaan dan pembangunan dengan basis memperhatikan kaum disabilitas dan kaum rentan. Sejak tahun lalu 2 desa yang telah menerapkan pemberdayaan dan pembangunan dengan melibatkan disabilitas yakni Desa Plembutan dan Rejosari.

“Ada dua desa lagi yang sebenarnya aktif namun untuk peraturannya masih ada yang belum mau. Terus kami lakukan pendekatan baik dari pemerintah atau instansi lain sehingga ada lah perubahan,” tambah dia.

Ia berharap dengan semakin gencarnya lembaga melakukan pembinaan menuju daerah inklusi dapat merubah pola pikir masyarakat. Sehingga disabilitas tidak dipandang sebelah mata dan bisa ikut terlibat dalam segala hal. Untuk di wilayah Plembutan sendiri akses di kantor kepala desa sendiri telah memenuhi unsur bagi kaum disabilitas.

Berita Lainnya  Penerapan PPKM Level 4 di Gunungkidul, Pentas Kesenian, Hajatan Hingga Wisata Masih Dilarang

“Kesadaran dari diri sendiri yang perlu dipupuk seolah untuk kebutuhan sendiri, kemudian dikembangkan dan nantinya akan bermanfaat bagi semua kalangan khususnya penyandang disabilitas,” tutupnya.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Pariwisata1 minggu yang lalu

Pony Park Dibanjiri Wisatawan, Hadirkan Puluhan Satwa Lucu nan Unik

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Jogja,(pidjar.com) – Destinasi wisata edukasi satwa terbaru, Pony Park, resmi dibuka di Kabupaten Klaten. Kehadiran Pony Park mendapat sambutan...

Pariwisata2 minggu yang lalu

Hampir Capai Target Tahunan, Baru Juni Pendapatan Retribusi Wisata Telah Capai 35,8 Miliar

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari,(pidjar.com)- Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Kabupaten Gunungkidul hampir mencapai target tahunan meski baru di pertengahan tahun 2026...

Pariwisata2 minggu yang lalu

Gunungkidul Geopark Night Specta 8.0 Masuk KEN 2026, Siap Promosikan Geopark Gunung Sewu ke Dunia

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari(pidjar.com)– Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) kembali menggelar Gunungkidul Geopark Night Specta (GNS) Vol. 8.0 di...

Pariwisata3 minggu yang lalu

Listrik Kerap Padam, Sistem Pungutan Retribusi Non Tunai di Pantai Gunungkidul Terganggu

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Wonosari, (pidjar.com)–Penerapan sistem pembayaran retribusi wisata secara non-tunai di sejumlah Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) kawasan wisata pantai selatan Gunungkidul...

bisnis4 minggu yang lalu

Pony Park Klaten Usung Konsep Wisata Ramah Hewan, Edukasi Interaktif Jadi Daya Tarik Utama

https://pidjar.com/wp-content/uploads/2026/03/VID-20260314-WA0005.mp4 Klaten,(pidjar.com)– Kehadiran Pony Park Klaten (POPA) yang dijadwalkan resmi dibuka pada 28 Juni 2026 tidak hanya menawarkan destinasi wisata...

Berita Terpopuler