Sosial
Belasan Ribu Warga Gunungkidul Sandang Buta Aksara, Rawan Jadi Sasaran Kejahatan
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Permasalahan sosial yang dihadapi oleh pemerintah daerah tentu tidak melulu mengenai perekonomian dan kemiskinan. Namun ada pula mengenai buta aksara. Menyikapi masih banyaknya penyandang buta aksara di Gunungkidul ini, pemerintah kabupaten terus menggenjot program penuntasan buta aksara terutama dengan menyasar para lanjut usia.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Bahron Rosyid melalui Kepala Seksi Peserta Didik dan Pengembangan Karakter Bidang Paudni dan PNF Disdikpora Gunungkidul, Suhadi SIP, S.Pd mengatakan, bedasarkan data yang ada melalui survei yang dilakukan petugas, jumlah warga yang masih buta huruf tercatat mencapai 16.937 jiwa. Akan tetapi menurutnya dari jumlah tersebut masih berpeluang untuk bertambah mengingat diperkirakan cukup banyak pula warga yang belum terdata.
Berkaca pada kondisi seperti ini, pihaknya pemerintah menyelenggarakan berbagai kegiatan demi mencerdaskan masyarakat Gunungkidul. Pengentasan penyandang buta huruf ini cukup penting lantaran di zaman modern seperti sekarang ini, masyarakat yang buta huruf tersebut sangat rentan menjadi korban penipuan atau korban kejahatan lainnya lantaran tak dapat mengenal huruf maupun berhitung. Sehingga saat ini, tidak hanya kawula muda yang mengenyam pendidikan untuk mengenal aksara, namun mereka yang tergolong lansia juga mendapatkan pendidikan agar tuntas dari buta aksara.
“Sejak dari tahun 2014 silam hingga 2018 ini kami sudah bisa menuntaskan 16.816 warga Gunungkidul yang masuk dalam kategori buta aksara. Tapi memang sebenarnya di lapangan masih sangat banyak sekali mereka yang tidak mengenal angka atupun huruf,” tambah ucap Suhadi, Senin(31/12/2018).
Banyaknya penyandang buta aksara tentu menjadi pekerjaan rumah pemerintah yang perlu segera dituntaskan. Tak hanya satu tahap melainkan melewati tahapan lain. Sehingga pendidikan dan kualitas masyarakat Gunungkidul akan menjadi jauh lebih baik.

Adapun selain pembelajaran mengenal angka dan huruf serta membaca, para para penyandang buta hueuf juga dibekali dengan keterampilan yang dapat menghasilkan materi. Sehingga ada selingan dan tidak hanya mpengetahuan yang mereka peroleh. Memang, menurut Suhadi mayoritas penyandang buta aksara berkisar pada usia 40 tahun hingga lebih dari 60 tahun.
“Mereka tidak pernah mengenyam pendidikan, maka dari itu, mereka cukup sulit untuk memahami atau mengerti tulisan,” tambah dia.
Untuk tetap mempertahankan daya ingat para lansia yang telah mendapat pembekalan baca tulis, pemerintah daerah di tahun 2019 mendatang memiliki program keaksaraan lanjutan. Di mana dari belasan ribu orang yang telah tuntas buta aksara itu akan mengikuti pelajaran atau pembekalan ulang. Hal ini agar nantinya mereka tidak lupa dan mengaplikasikan pemahaman yang meraka dapat selama ikut dalam program ini.
“Nantinya juga akan ada program memperdalam keterampilan yang dimiliki. Sehingga ada kesinambungan, dari sini mereka dapat membuka pandangan lebar dan berinovasi untuk menghasilkan pendapatan,” imbuh dia.

Sementara itu, Ismiharyati salah seorang tutor keaksaraan mengatakan, program seperti ini memang patut terus dijalankan. Mengingat memang masih ada banyak masyarakat Gunungkidul yang tidak membaca dan menulis. Seperti di daerahnya di Desa Semanu, ada banyak orang yang sama sekali tidak mengenal aksara. Untuk melakukan hal-hal yang berkaitan dengan huruf dan angka mereka yang tergolong lanjut usia sangat sulit, sehingga harus meminta bantuan orang lain.
“Masih banyak memang. Harus getol dalam pengenalan aksara, biar semuanya seimbang. Tapi memang ada tantangan tersendiri menyalurkan pengetahuan kita kepada orang tua yang awalnya sama sekali tidak paham aksara,” kata dia.
Program pemerintah untuk mencerdaskan warga Gunungkidul ini tentunya ia dukung penuh. Namun demikian perlu ada kesadaran pula dari masyarakat. Di era yang semakin maju tentunya harus diimbangi pula dengan kualitas masyarakat dan pengetahuan yang lebih. Sehingga tidak mudah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pula.
Salah seorang peserta pendidikan keaksaraan, Kuniyem (58) warga Desa Semanu mengatakan, dengan adanya program semacam ini sangat membantunya dalam menjalani kehidupan. Saat belum mengenal aksara untuk menulis nama di sebuah amplop kondangan ia harus meminta bantuan dari sanak saudara atau tetangga, namun berkat adanya program semacam ini, ia kini dapat melakukannya dengan mandiri.
“Ya meski tulisannya jelek tapi paling tidak bisa nulis sendiri atau baca sendiri. Sering lupa memang, maklum daya ingat sudah berkurang tapi ya tetep berusaha. Malah kadang lucu kalau salah-salah,” terangnya.
-
Info Ringan7 hari yang laluResep Lamian Kuah Daging Sapi
-
Peristiwa2 hari yang laluTragis, Pelajar SMP di Semanu Ditemukan Meninggal G4ntung D1r1 di Pohon Jambu Mete
-
Info Ringan3 hari yang laluResep Soto Tangkar
-
Peristiwa4 minggu yang laluUang Pembangunan Masjid Al Uswah Senilai Rp 13 Juta Raib
-
Uncategorized2 minggu yang laluLomba Rebahan Pertama di Indonesia Digelar di JCM, Siapkan Hadiah Rp5 Juta
-
Budaya4 minggu yang laluWujudkan Kedaulatan Budaya, Kampung Gambiran Yogyakarta Semai Biji Pohon Gambir
-
Uncategorized4 minggu yang laluMotor Pelajar Raib Saat Jam Sekolah, Polisi Bekuk Pelaku di Alun-Alun Wonosari
-
Uncategorized4 minggu yang laluPerkuat Transformasi Birokrasi di Era Pemerintahan Digital, Diskominfo Luncurkan Inovasi Sadulur
-
Peristiwa4 minggu yang laluLansia di Rongkop Ditemukan Tewas Gantung Diri di Dalam Rumah
-
Uncategorized4 minggu yang laluMuncul Titik-titik Amblasan Baru, BPBD Gunungkidul Gandeng Universitas Diponegoro Teliti Struktur Tanah di Tileng
-
Pemerintahan3 minggu yang laluAntisipasi Kasus Kekerasan Layaknya di Kota Yogyakarta, Pemkab Gunungkidul Perketat Pengawasan di Daycare
-
Uncategorized2 minggu yang laluSewindu Mengabdi untuk Pendidikan, SMA Muhammadiyah Al Mujahidin Catatkan 1.000 Prestasi
