Pemerintahan
Baru Muhammadiyah Yang Telah Tetapkan Awal Ramadhan
Wonosari,(pidjar.com)–Ramadhan tinggal menghitung hari lagi. Walau demikian, dari berbagai majelis Keagamaan, baru Muhammadiyah yang telah menetapkan awal puasa. Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa pada tanggal 18 Februari 2026. Sedangkan untuk Nahdlatul Ulama (NU), pemerintah dan lainnya, masih belum menentukan awal dimulainya bulan Ramadhan.
Adapun penentuan sendiri baru akan dilakukan usai pemantauan hilal dan sidang Isbat pada 17 Februari 2026 mendatang. Yang menarik pada Ramadhan kali ini, Jamaah Masjid Aolia, Panggang yang biasanya menetapkan awal puasa lebih awal dan sering menjadi sorotan khalayak, kini memutuskan untuk mengikuti keputusan resmi dari pemerintah.
Kepala Kantor Kemenag Gunungkidul, Mukhotib mengatakan, Jamaah Masjid Aolia yang dipimpin oleh Kiai Haji Raden Ibnu Hajar Sholeh Pranowo atau Mbah Benu telah mengkonfirmasi ke Kantor Kemenag Gunungkidul bahwa untuk penetapan awal puasa akan mengikuti keputusan dari pemerintah. Dengan demikian, tidak ada lagi perbedaan awal puasa seperti yang terjadi selama kurun waktu beberapa tahun lalu.
“Beliau (pimpinan Aolia) sudah menyatakan tidak mau lagi berkecimpung dalam dialog perbedaan itu. Pernyataan demikian sudah disepakati sejak tahun lalu, yang mana tahun lalu pun dari penetapan awal puasa serta idul Fitri mengikuti keputusan Menteri Agama,” kata Mukhotib.
Lebih lanjut ia mengatakan, untuk Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa pada Rabu, 18 Februari. Dengan demikian, jamaah Muhammadiyah akan melaksanakan tarawih pertama pada Selasa, 17 Februari. Sedangkan pemerintah belum melakukan penetapan awal puasa karena sidang isbat baru akan digelar Selasa besok.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pemantauan hilal penentuan awal Ramadhan 1447 hijriah akan dipusatkan di Bukit Syekh Belabelu, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul dengan menggunakan 10 alat teropong dan disaksikan oleh sejumlah lembaga.
Adapun hasil pemantauan ini nantinya akan dilaporkan ke Kementerian Agama. Apakah awal Ramadhan akan jatuh di 18 Februari atau ada perbedaan dengan Muhammadiyah.
“Keputusan sidang adalah hasil musyawarah yang ditetapkan negara. Kami menunggu hasil sidang yang ditetapkan,” ucapnya.
Mukhotib menambahkan, masing-masing majelis memiliki tolok ukur penghitungan atau penetapan awal Ramadhan. Ia berpesan agar perbedaan metode (hisab maupun rukyat) dan hasil hitungan tidak menjadi bahan perselisihan dan tetap menjaga keimanan.
“Jalankan dengan senang dan nilai agama yang baik. Yang terpenting adalah umat tetap bersatu, bersemangat, dan ibadah dengan baik,” pungkas dia.
-
Uncategorized1 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized4 minggu yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized4 minggu yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized4 minggu yang laluLurah di Gunungkidul Kompak Enggan Teken Berita Acara Serah Terima Aset KDMP, Ada Apa?
-
Uncategorized4 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized4 minggu yang laluLansia Asal Ponjong Ditemukan Gantung Diri di Kandang
-
Uncategorized3 minggu yang laluSakit Hati Sering Diejek Ketika Memulung Sampah, 2 Remaja Putri Nekat Bakar Sekolah
-
Uncategorized2 minggu yang laluSempat Diancam Akan Dilindas Lehernya, Dua Remaja Babak Belur Dihajar Kelompok Pemuda Silat
-
Uncategorized3 minggu yang lalu9.000 Penerima Bansos Gunungkidul Disetop karena Terindikasi Judi Online
-
Uncategorized2 minggu yang laluSaling Bajak Kader Antara PSI dan NasDem Gunungkidul Makin Seru, Ini Tanggapan Sang Ketua
-
Uncategorized4 minggu yang laluDua SPPG di Gunungkidul Belum Kantongi SLHS
-
Uncategorized2 minggu yang laluPenerima PKH di Gunungkidul Turun 2.000 Orang, Ini Penyebabnya
