Pariwisata
Bulak Widoro, Menikmati Pemandangan Sawah Yang Penuh Bunga Sembari Berburu Spot Selfie Terkeren
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)--Masyarakat di Padukuhan Susukan II, Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong menyulap tanaman pembasmi hama menjadi lokasi wisata. Lokasi yang dipilih memang sangat menyejukkan mata. Pengunjung bisa melepas penat dengan melihat berbagai macam bunga yang tumbuh subur di tengah hijaunya padi.
Suasana khas persawahan memang menjadi daya tarik utama dari obyek wisata Bulak Widoro. Semilir angin serta kesejukan semakin menambah kedamaian yang dirasakan oleh para pengunjung, terutama yang penat dengan hiruk pikuk serta kesibukan di kota. Tempat ini juga bisa menjadi pereda dahaga memori bagi warga yang rindu dengan suasana pedesaan.
Keindahan yang ditawarkan di Bulak Widoro yang baru saja dibuka tersebut berawal dari hal yang sepele. Awal mulanya munculnya ide membuka obyek wisata tersebut lantaran tanaman padi milik para petani kerap kali terserang hama. Mereka kemudian mencoba menanam bunga di sekitar tanaman padi yang menghasilkan serbuk sari dengan tujuan hama tak menyerang lahan pertanian mereka.
Seiring berjalannya waktu, bunga matahari serta celosia yang tumbuh subur di tengah sawah itu kerap digunakan untuk ajang selfie masyarakat. Sejumlah warga yang melihat potensi wisata lantas berusaha mengembangkan dengan menambah sejumlah fasilitas.
Di lokasi tersebut, warga membangun jembatan bambu serta gubuk-gubuk yang semakin menambah daya taris serta eksotisme Bulak Widoro.

“Awalnya tumbuhan bunga ini hanya untuk mengurangi hama dan juga mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia,” kata salah satu warga desa Gejahan, Riptanto Edy Wibowo, kepada wartawan, Sabtu (03/11/2018) siang.

Ia mengatakan, meakipun masih dalam tahap pengembangan, di lokasi itu sudah banyak dikunjungi masyarakat baik lokal maupun dari luar kecamatan Ponjong. Riptanto mengaku bahwa pihaknya sangat terbantu dengan sejumlah foto selfie di Bulak Widoro yang saat ini banyak berlalu lalang di lini masa netizen Gunungkidul. Lambat laun, obyek wisata ini kemudian semakin dikenal dan berkembang hingga saat ini mulai ramai.
“Kami berharap nantinya ini bisa menjadi tonggak berkembangnya pariwisata di tempat kami,” papar dia.
Tak hanya melulu memikirkan kunjungan wisatawan, pengelola Bulak Widoro juga memikirkan faktor pendidikan. Di tengah pengembangan lokasi yang gencar dilakukan, Riptanto berharap nantinya obyek wisata yang ia kembangkan dapat memberikan wisata edukasi kepada khalayak luas mengenai pertanian lahan terpadu yang bisa dilakukan siapapun, sambil berwisata.
“Sudah banyak, tetapi memang belum dibuka resmi, nantinya ada tarif untuk memasuki spot selfie,” ucapnya.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Desa Gejahan, Heru Prasetyo menambahkan, pola lahan seperti itu dapat disebut sebagai pertanian dengan penerapan lahan terpadu. Sehingga banyak manfaat yang dihasilkan salah satunya adalah pengusir hama.
“Selain tanaman padi juga ditanam tanaman yang menghasilkan serbuk sari. Sehingga jika ada tanaman tersebut, tanaman berbunga itu bisa menarik perhatian hewan seperti capung dan tawon. Harapannya mereka juga bisa memakan hama yang biasa menyerang padi,” katanya.
Dijelaskannya, konsep ini juga untuk menarik anak muda yang ada di Desa Gejahan untuk turun ke sawah. Pasalnya saat ini masih sangat sendikit generiasi muda yang terjun ke dunia pertanian.
“Jadi yang mengelola bunga itu para pemuda di sini, para petani tetap mengelola sawahnya tanpa mengurusi bunga, sehingga tetap fokus bertani,” ujarnya.
Terpisah ketika dihubungi, Camat Ponjong, Johan Eko Sudarto mengatakan pihaknya mengapresiasi generasi muda dalam mengembangkan lahan pertanian. Pengembangan lahan pertanian menjadi lokasi wisata menurutnya sangat patut untuk diapresiasi.
“Langkah seperti ini harus didukung, karena tidak hanya sektor pertanian yang dikembangkan, tetapi sektor lainnya. Sehingga bisa meningkatkan sektor perekonomian, dan juga menarik generasi muda ke sektor pertanian,” kata dia.
Apalagi saat ini, lanjut dia, Kementrian Pariwisata sedang menggagas wisata digital dimana menyediakan lokasi untuk berswafoto dan promosi melalui media internet.
“Semua pihak harus mendukung pengembangan wisata disini, sehingga wilayah lainnya di sekitar Desa Gejahan, bisa ikut berkembang karena kehadiran wisatawan,” katanya.
-
Uncategorized4 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized3 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized4 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized2 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized4 minggu yang lalu7 Hektare Lahan Jati di Bodoyo Terbakar
-
Uncategorized4 minggu yang laluTabrakan di Jalan Lingkar Utara Piyaman, Pelajar 17 Tahun Tewas di Lokasi
-
Uncategorized4 minggu yang laluPilur Serentak Gunungkidul, 2 Kalurahan Ajukan Seleksi Tambahan
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized4 minggu yang laluKecelakaan Maut di Ponjong, Pengendara Vega Meninggal Usai Tabrakan dengan Karimun
-
Uncategorized2 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
