fbpx
Connect with us

Peristiwa

Keracunan Nasi Berkat, 2 Keluarga Dilarikan ke Puskesmas Playen

Published

on

Playen,(pidjar.com)–Sebanyak 7 orang warga Padukuhan Tumpak, Desa Ngawu dan Padukuhan Getas, Desa Getas, Kecamatan Playen harus dilarikan ke rumah sakit pada Kamis (22/02/2018) siang tadi. Ketujuh warga dari 2 kepala keluarga tersebut mengalami keracunan massal setelah menyantap nasi berkat yang dikirimkan oleh salah seorang kerabatnya. Dari ketujuh orang yang dilarikan ke Puskesmas Kecamatan Playen, 1 orang sudah diperbolehkan pulang sementara 6 orang lainnya masih harus mendapatkan perawatan intensif.

Adapun ketujuh orang yang dilarikan ke rumah sakit lantaran mengalami gejala keracunan tersebut adalah Siti Wahidatun (37), Khamdani (37), Setyo Budi Wibowo (29), Subhan Khoirul (14), Maratu Solehah (29) kelimanya warga Padukuhan Tumpak, Desa Ngawu, Kecamatan Playen serta Tuji Hadi Prayitno (56) dan Jumarti (50) warga Padukuhan Getas, Desa Getas, Kecamatan Playen. Para korban rata-rata mengalami demam, pusing dan muntah setelah menyantap nasi berkat atau punjungan dari kerabat yang tengah menyelenggarakan hajatan.

Kepala Puskesmas Playen 1, dr Jolanda Barahama mengungkapkan, pihaknya menerima pasien dengan kondisi mual, demam, serta muntah sekitar pukul 11.00 WIB. Ketujuh pasien yang masuk tersebut kemudian langsung mendapatkan perawatan medis dari petugas.

“Ada 7 orang yang masuk, 6 diantaranya kita opname karena kondisinya masih lemah, sementara 1 orang lainnya, yaitu Tuji yang kondisinya membaik hanya kita rawat jalan,” ucap Jolanda, Kamis siang.

Menurut Jolanda, meski masih dalam kondisi lemah, keenam pasien yang harus menjalani rawat inap kondisinya berangsur membaik . Meski begitu, pihaknya tetap memberikan pantauan intensif terhadap para pasien tersebut untuk memantau perkembangan situasi yang mungkin terjadi.

Berdasarkan dugaan awal, indikasi yang dirasakan oleh para pasien tersebut merupakan gejala keracunan. Pihak Puskesmas pun telah mengambil sampel makanan maupun darah untuk kemudian diuji lab guna memastikan penyebab pasti dari peristiwa tersebut. Ia mengakui bahwa dari sampel makanan yang diambil, pada ayam, bakmi dan gudangan memang mengeluarkan bau yang cukup menyengat. Namun demikian, pihaknya masih belum bisa memastikan apakah makanan yang dikonsumsi tersebut telah mengandung bakteri sehingga menjadi penyebab keracunan. Ia lebih memilih menunggu hasil tes laboratorium guna memastikan hal tersebut.

“Sembari menunggu hasil tes laboratorium yang memang memakan waktu 2 minggu, sementara kita selamatkan pasien dulu dan melakukan observasi terhadap kondisinya mengingat untuk indikasi keracunan semacam ini, masa inkubasinya mencapai 12 jam. Alhamdulilah kondisi para pasien terus membaik,” urai dia.

Sementara salah seorang keluarga korban, Jamhari, warga Padukuhan Tumpak, Desa Ngawu, Kecamatan Playen menceritakan, peristiwa keracunan sendiri bermula ketika keluarganya mendapatkan kiriman nasi berkat atau punjungan pada Rabu (21/02/2018) sore kemarin. Tak berapa lama kemudian, ia bersama anggota keluarga yang lain bersama-sama memakan nasi berkat tersebut.

Menurutnya, awalnya berlangsung normal dan biasa-biasa saja. Baru pada Kamis pagi tadi, anggota keluarganya serempak merasakan pusing, demam serta muntah-muntah. Karena kondisinya cukup memburuk, baru pada siang harinya para korban dibawa ke rumah sakit.

“Saya sebenarnya juga ikut makan, tapi sampai sekarang Alhamdulillah baik-baik saja,” imbuh dia.

Sementara salah seorang korban, Jumarti memaparkan, nasi berkat tersebut ia terima dari salah seorang kerabatnya dari Giriwoyo, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Nasi berkat tersebut dikirimkan lantaran kerabatnya tersebut hendak menggelar hajatan pernikahan pada pekan mendatang. Tanpa curiga, ia bersama suaminya, Tuji Hadi Prayitno serta satu orang anggota keluarga yang lainnya menyantap hidangan tersebut. Saat menyantap hidangan, Jumarti tak merasakan keanehan baik bau maupun rasa.

“Malah sampai dua kali pada Rabu siang dan sore dimakan,” ucap Jumiarti yang tergolek di ranjang perawatan Puskesmas Playen.

Sama seperti yang dirasakan keluarga Jamhari, pada hari Rabu dia tak merasakan sakit apapun. Baru pada saat bangun tidur, sekitar pukul 06.00 WIB, ia merasakan sakit pada perutnya yang diiringi mual, demam dan pusing di kepala. Ia kemudian mengeluhkan sakit yang ia alami kepada suaminya yang kemudian mencarikan obat kepada bidan di desa setempat.

“Tapi meski sudah minum obat tapi malah semakin parah sehingga lalu dibawa ke Puskesmas,” tutup dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler