Sosial
Lajolie Aesthetic Bakti Sosial ke Panti Asuhan Bina Siwi
Bantul,(pidjar.com)– Bertepatan pada tanggal 4 Oktober 2025, klinik kecantikan Lajolie Aesthetic Yogyakarta menggelar acara bakti sosial di Panti Asuhan Bina Siwi, Pajangan, Bantul. Sebuah panti yang menaungi anak-anak berkebutuhan khusus.
Pemilik Lajolie Aesthetic, dr. Dyah Firstya menjelaskan bakti sosial ini secara khusus untuk mewujudkan rasa syukur.
“Baksos ini menjadi wujud nyata rasa syukur atas pencapaian Lajolie selama tiga tahun terakhir. Sebagai respons atas antusiasme dan kepercayaan pasien yang tinggi terhadap layanan klinik, terutama pada Eyebag Fat Removal, treatment andalan yang telah berjalan selama dua tahun,” ujar dr. Dyah di Panti Asuhan Bina Siwi (4/10/2025).
dr. Dyah melanjutkan perawatan ini tidak hanya populer di kalangan warga lokal, tetapi juga menarik minat banyak pasien dari luar kota, bahkan hingga harus masuk daftar tunggu. Keberhasilan ini menjadi motivasi utama bagi Lajolie Aesthetic untuk berbagi rezeki dan kebahagiaan.
“Acara bakti sosial di Panti Asuhan Bina Siwi mencakup penyerahan bantuan berupa bahan makanan pokok, seperti beras, telur, gula, minyak goreng, dan mie instan. Bantuan ini disalurkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari 48 penghuni panti,”kata dia.
Baginya, momen ulang tahun ini adalah waktu yang tepat untuk memberikan sesuatu kepada masyarakat yang membutuhkan. Komitmennya tidak hanya sebagai penyedia layanan kecantikan, tetapi juga sebagai entitas bisnis yang peduli dan berkontribusi positif bagi komunitas.

Pengurus Panti Asuhan Bina Siwi, Jumilah mengucapkan rasa syukurnya atas kegiatan tersebut. Baginya, warga panti memang sangat membutuhkan bantuan baik material dan moral.
“Anak-anak di sini memiliki berbagai macam keterbatasan yang disandang. Mulai dari tunanetra, low vision, autisme , hingga tunarungu wicara,”kata Jumilah.
Tak sekedar merawat saja, pihak panti juga membimbing warganya untuk belajar seni dan enterpreneur.
“Kami memberikan pelatihan karawitan sebgai terapi untuk warga panti. Meski anak-anak tidak mampu calistung, tapi mereka mampu menjahit. Mereka bisa membuat baju, tas, hingga dompet. Selain itu mereka bisa membuat keset dari perca yang bisa dijual dengan harganya mulai Rp.5.000,- sampai Rp.30.000,-,”ujarnya. (rosa)
-
Pemerintahan2 minggu yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Uncategorized4 minggu yang laluMantan Kepala Benarkan Alat-alat Musik Studio SKB Gunungkidul Berada di Rumahnya, Sebut Untuk Kursus Musisi Muda Kawasan Selatan
-
Uncategorized2 minggu yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Uncategorized4 minggu yang laluTak Berhasil Saat Diminta Perbaiki Listrik, Dimas Dikeroyok Secara Brutal, Dari Diinjak Hingga Dihantam Senter
-
Peristiwa2 minggu yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Uncategorized2 minggu yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Peristiwa2 minggu yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized3 minggu yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized3 minggu yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Uncategorized4 hari yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized6 hari yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized5 hari yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
