Connect with us

Peristiwa

Suarakan Dukungan Untuk Warga Boyolali, Aktifis Gunungkidul Tolak Penggunaan Isu SARA Demi Kepentingan Politik

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar.com)–Pidato kontroversial Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto mengenai tampang Boyolali terus mendapatkan kecaman dari banyak pihak. Tak hanya dari masyarakat Boyolali saja, akan tetapi kecaman juga datang dari para aktifis di Gunungkidul. Pernyataan-pernyataan semacam ini dianggap sebagai sebuah bentuk diskriminasi dan berpotensi memecah belah bangsa.

Kamis (08/11/2018) siang tadi, sekelompok massa yang mengatasnamakan diri sebagai Kesatuan Aksi Rakyat Gunungkidul turun ke jalan menggelar aksi di Titik Nol Kilometer Alun-alun Wonosari. Aksi tersebut merupakan bentuk dukungan moril warga Gunungkidul terhadap warga Boyolali.

Perlu diketahui, aksi serupa sebelumnya juga dilakukan oleh ribuan massa di Boyolali. Tak tanggung-tanggung, Bupati Boyolali Seno Samodro serta Ketua DPRD Boyolali S Paryanto turut dalam aksi tersebut. Hal itu lantaran pidato calon presiden Prabowo Subianto di Boyolali, Jawa Tengah, pada Selasa (30/10/2018) lalu dianggap meremehkan warga Boyolali.

Pantauan di lokasi, aksi yang dimulai sekitar pukul 10.15 WIB itu diawali dengan orasi di halaman Gedung DPRD Kabupaten Gunungkidul. Sejumlah papan bertuliskan Aku Tampang Gunungkidul turut dibawa oleh masyarakat. Selain itu, papan berukuran lebih kecil yang bertuliskan NKRI Harga Mati serta penolakan isu SARA turut dibawa rombongan yang diikuti remaja hingga ibu-ibu rumah tangga itu. Dalam aksi tersebut, puluhan orang peserta aksi sengaja mengenakan pakaian petani lengkap dengan caping maupun ikat kepalanya.

Berita Terkait  Fenomena Meluasnya Luweng Blimbing Dinilai Wajar di Tanah Karst

Koordinator aksi KARG, Ervan Bambang Darmanto mengatakan bahwa aksi yang digelar ini merupakan bentuk dukungan dari warga Gunungkidul kepada warga Boyolali. Sekaligus juga dalam kesempatan ini dirinya mengecam keras pernyataan yang dilontarkan capres nomor urut dua itu karena dianggap dapat memecah belah bangsa.

“Kita mengambil tema Aku Tampang Gunungkidul ini sebagai bentuk dukungan kita. Ucapan yang menjurus rasisme semacam ini sangat berbahaya,” kata Ervan, Kamis siang.

Ervan meminta kepada seluruh elit politik untuk tidak lagi mengangkat isu rasial maupun keagamaan dalam kampanye mereka. Dia menyebut bahwa hal semacam ini sangat rawan lantaran keberagaman bangsa Indonesia. Ada baiknya para politisi bersikap lebih elegan dan mementingkan persatuan bangsa daripada memenuhi ambisi politik pribadi maupun kelompok.

“Sangat sayang apabila Indonesia yang rukun ini terus diprovokasi oleh politisi-politisi sehingga pada akhirnya bisa muncul kebencian-kebencian yang menjadi bibit perpecahan,” tandas dia.

Para peserta aksi membentangkan poster penolakan terhadap penggunaan isu SARA dalam politik

Ia menambahkan, selain memberikan dukungan moril, aksi ini juga digelar sebagai penolakan terhadap berit-berita hoax serta ujaran kebencian yang digunakan oleh sekelompok golongan untuk kepentingan politik. Ia khawatir, nantinya jika kasus semacam ini tidak mendapatkan respon dari masyarakat akan berdampak besar bagi keamanan negara.

Berita Terkait  Sekeluarga Ditabrak Tronton di Jalan Wonosari-Jogja, Ibu Tewas, Suami dan Balita Luka Berat

“Kita berharap gerakan kecil di Gunungkidul ini dapat menular dan menjadi gerakan besar agar keutuhan NKRI selalu terjaga. Bahkan menurut saya, tindakan diskriminasi seperti yang dirasakan saudara kita di Boyolali ini harus kita lawan,” tandas dia.

Dalam aksi ini tak hanya diwarnai dengan orasi maupun parade pakaian petani saja, akan tetapi juga digelar aksi teatrikal oleh beberapa orang yang mengecat sebagian tubuhnya dengan berbagai warna. Pemuda-pemuda tersebut lalu menyiram dirinya dengan air kembang.

“Aksi itu melambangkan meskipun kita berbeda-beda, kita tetap satu, NKRI Harga Mati,” imbuh Ervan.

Ervan menambahkan, pihaknya menghimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menanggapi isu-isu yang berkembang. Jangan mudah terpancing menjadi kunci di tengah suasana yang panas semacam ini. Ia berharap nantinya dengan masyarakat yang cerdas dalam menelaah isu, maka nantinya isu bermuatan negatif tidak lagi menjadi komoditi utama para politisi dalam meraup dukungan suara.

“Perlu juga saya tegaskan bahwa aksi ini tidak ada muatan politik. Ini murni bentuk kepedulian kami terhadap persatuan bangsa. Kami menyuarakan pendapat dan kerinduan kami untuk kerukunan bangsa Indonesia khususnya Gunungkidul,” pungkas dia.

Berita Terpopuler

unique visitors counter