Uncategorized
Pendapatan Retribusi Naik 262% Capai 29 Miliar, Efek Pergantian Petugas TPR?
Wonosari,(pidjar.com)–Perubahan besar-besaran pada jajaran petugas penarik retribusi Kabupaten Gunungkidul mulai menunjukkan hasil signifikan untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) Gunungkidul. Baru 5 bulan berjalan pada tahun 2026 ini, pendapatan dari retribusi pariwisata telah mencapai puluhan miliar. Jumlah ini meningkat hingga 262% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Semester pertama tahun 2026 ini bisa dibilang merupakan rekor tertinggi pendapatan retribusi wisata sepanjang waktu.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif Pemuda dan Olahraga Gunungkidul, Yohanes Nanang Putranto mengatakan, per 1 Juni 2026 ini tercatat realisasi pendapatan asli daerah (PAD) pariwisata yang masuk telah mencapai Rp 29.354.411.740 atau 81,39 persen dari target yang hanya Rp 36.064.663.400. Sedangkan untuk pengunjung yang masuk sebanyak 2.383.892 orang atau 73,59% dari target 3.239.205 orang.
Ia menambahkan, pada periode yang sama pada 2 Juni 2025 silam, tercatat PAD masuk hanya sebesar Rp 11.166.506.275 dengan jumlah pengunjung 1.067.827 orang. Selisih dengan tahun 2026 ini mencapai lebih dari Rp 18 miliar.
“5 bulan ini menunjukkan tren yang sangat baik,” kata Nanang Putranto.
Disinggung mengenai faktor yang mempengaruhi tingginya kunjungan wisatawan ke Gunungkidul akhir-akhir ini, Nanang menjelaskan hal ini karena daya tarik wisata yang telah banyak banyak pilihannya. Di samping pariwisata alam, saat ini wisata buatan yang mulai tumbuh subur juga banyak dibanjiri wisatawan.
“Wisata buatan juga memiliki magnet tersendiri dalam menarik wisatawan, sehingga berbondong bondong untuk pingin berwisata ke tempat tersebut,” tandasnya.
Meski jumlah pengunjung yang tergolong tinggi. Namun diakuinya bahwa potensi ekonomi yang didapat Kabupaten Gunungkidul masih belum.optimal. hal ini lantaran lama tinggal dan nilai belanja wisatawan masih belum begitu tinggi.
Ketua Tim Kerja Industri Pariwisata Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif Pemuda dan Olahraga Gunungkidul, Erlangga Singgih Anandito, mengatakan, capaian lama tinggal wisatawan di Gunungkidul masih berada di bawah Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta. Menurutnya, posisi Gunungkidul saat ini masih menjadi bagian dari pola perjalanan wisata DIY secara keseluruhan.
Berdasarkan hasil kajian Disparekrafpora, wisatawan nusantara yang berkunjung ke Gunungkidul masih didominasi pola perjalanan hanya day trip atau satu hari saja, hal ini yang menjadikan lama tinggalnya yang masih sangat singkat. Rata-rata lama tinggal wisatawan hanya berkisar antara 1,01 hari dengan nilai belanja sekitar Rp499.208 per orang untuk wisatawan nusantara.
Sedangkan untuk wisatawan asing lama tinggal rata-rata 1,35 hari dengan nilai belanja Rp 1.024.041.
Adapun Belanja wisatawan sebagian besar terserap pada transportasi dan konsumsi makanan serta minuman. Kunjungan wisatawan asing ke Gunungkidul juga masih bersifat musiman dan umumnya meningkat pada periode tertentu yakni low season setelah libur akhir tahun.
“Gunungkidul sebagai bagian dari “Destinasi Wisata DIY”, sehingga Gunungkidul saat ini menjadi tujuan daya tariknya atau melakukan aktivitas pariwisatanya. Sedangkan untuk jasa akomodasi banyak di Kota Jogja atau Sleman, perspektif pasar terkait ini sangat berpengaruh terhadap lama tinggal di Gunungkidul dan perputaran uang yang terjadi,” kata dia.
Data Disparekrafpora menunjukkan lima daerah asal wisatawan nusantara terbesar yang berkunjung ke Gunungkidul berasal dari DIY, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Riau. Sedangkan wisatawan mancanegara didominasi oleh Malaysia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Tiongkok.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif Pemuda dan Olahraga Gunungkidul, Eko Nur Cahyo mengatakan pemerintah kabupaten Gunungkidul terus berbenah dalam segala hal yang berkaitan dengan kepariwisataan. Mulai dari inovasi pelayanan hingga infratruktur.
Untuk meningkatkan lama tinggal dan nilai belanja wisatawan, Disparekrafpora terus melakukan berbagai upaya melalui program pemasaran dan promosi destinasi, termasuk penyelenggaraan event berskala nasional seperti Geopark Night Specta (GNS) serta publikasi Calendar of Events. Pembinaan dan sertifikasi sumber daya manusia (SDM) juga dilakukan untuk meningkatkan kualitas layanan kepada wisatawan.
“Semakin lama wisatawan tinggal di Gunungkidul, maka semakin besar pula belanja yang dikeluarkan dan semakin banyak perputaran ekonomi yang diterima masyarakat maupun daerah,” pungkas Eko.
-
Uncategorized4 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized5 hari yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized4 minggu yang laluPeduli Kekeringan, GUBUK dan DWP BRIN Salurkan 37 Tangki Air Bersih untuk Warga Gunungkidul
-
Uncategorized1 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
