fbpx
Connect with us

Sosial

Pentas Teater Keblinger, Dinamika Kehidupan Masyarakat Gunungkidul Dalam Satu Frame

Diterbitkan

pada tanggal

Patuk, (pidjar.com)–Suasana berbeda nampak kental dalam penampilan Grup Tayub Egol Lestari pada suatu malam. Grup yang biasanya tampil di sebuah kampung dan pasar itu diundang untuk menghibur salah seorang orang terkaya di kampungnya yang bernama Den Reso. Den Resso sendiri adalah orang kaya yang baru satu tahun pulang dari perantauan. Yang menarik, di tengah kekayaan yang melimpah tersebut, tidak ada satupun orang di desa yang paham betul apa pekerjaan Den Reso.

Semenjak orangtua Den Reso meninggal, seluruh warisannya dijual kecuali sepetak tanah dan sebuah rumah. Dia menikah dengan pembantunya saat masih berada di perantauan bernama Den Ayu Salindri.

Sekelumit cerita di atas adalah penggalan kisah dalam pentas teater bertajuk Keblinger yang ditampilkan dalam Wulenpari Kali Oyo Festival, Senin (09/07/2019) petang kemarin. Menjadi sangat menarik dalam penampilannya, para seniman teater ini tampil di lokasi eksotis di tepi Kali Oya.

Menurut Sutradara Keblinger, Lukas Priyo Arintoko, meski terkesan cukup sederhana, namun dalam cerita dan tampilan yang disajikannya bersama para artis banyak mengandung makna. Di balik cerita ini, ia ingin menunjukkan perihal kondisi dan pola kehidupan nyata dari masyarakat di Gunungkidul. Keragaman, dinamika serta kebersamaan yang ada ini yang selama ini sangat kental dengan kekhasannya. Agar semakin similar, dialog dari para pemain teater sendiri dikemas dengan bahasa jawa, dan banyak diantaranya istilah yang mungkin hanya dipahami oleh warga Gunungkidul.

“Karakteristik sosial budaya masyarakat yang ada di Gunungkidul dalam kesehariannya kita tampilkan sesuai dengan realitas yang ada,” kata Lukas.

Selain itu, pada teater Keblinger ini juga bertujuan menceritakan masyarakat Gunungkidul yang masih memegang teguh tradisi dan budaya leluhur. Namun dalam kondisi seperti sekarang ini, tradisi tersebut tentu ada permasalahan dan dinamika sosial yang mewarnainya.

Berita Lainnya  Identitas Mayat di Pantai Parangendog Masih Gelap, Polisi Lakukan Tes DNA ke Keluarga Sutardi

“Sehingga harapannya masyarakat yang menonton tidak akan keblinger dalam pilihan hidupnya,” ucapnya.

Pentas teater Keblinger sendiri akan tampil di 3 lokasi. Selain pada Senin malam kemarin, pertunjukan sudah digelar pada Sabtu (06/07/2019) lalu di Balai Padukuhan Gedangsari, Desa Baleharjo, Kecamatan Wonosari. Ke depan, pentas yang sama akan dihelat di Baturhill Bobung, Desa Putat, Kecamatan Patuk pada Rabu (10/07/2019) mendatang.

“Yang paling penting adalah pesan yang ingin kita sampaikan bisa menyentuh masyarakat banyak. Untuk itu sengaja kita mencoba untuk tampil di sebanyak mungkin tempat,” bebernya.

Adapun pementasan kesenian lokal dengan percakapan bahasa daerah di ruang terbuka saat ini memang sedang gencar digalakkan oleh Direktorat Kesenian Kemendikbud. Dengan adanya pementasan semacam ini, nantinya bisa memantik para muda-mudi generasi bangsa untuk mencintai kebudayaan daerahnya.

    Penampilan para artis teater dalam pementasan bertajuk Keblinger/Pict: Andi Gunawan

Lokalitas ini sangat penting karena di tengah globalisasi ini, masyarakat khususnya generasi muda harus kembali mengembangkan seni sesuai dengan Undang-undang Kebudayaan. Diantara yang sangat penting dikembangkan melalui hal ini adalah untuk menggali kembali nilai-nilai kearifan lokal misalnya tentang hubungan dengan air, hubungan dengan alam, hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia.

“Kita ingin memicu dan memantik nilai-nilai budaya lokal kepada generasi muda,” ucap Direktur Kesenian Kemendikbud RI, Restu Gunawan yang turut hadir dalam pementasan tersebut.

Menurut Restu, saat ini di tengah era globalisasi, pihaknya mengakui ada banyak nilai-nilai khususnya pada generasi muda yang mulai bergeser. Menurutnya, pergeseran tersebut merupakan sesuatu yang lumrah, namun apa yang menjadi identitas bangsa seyogyanya terus dipupuk agar hidup kembali.

Berita Lainnya  Fantastis, 37 Usaha Mikro Desa Gading Disuntik Dana oleh UPK Satu Hati Playen

“Khususnya untuk siswa-siswi sekolah, paling tidak mereka harus bisa mengapresiasi adanya kesenian yang dimiliki oleh Indonesia, jangan sampai kesenian misalnya di Yogyakarta khususnya sandiwara Bahasa Jawa ini luntur. Apalagi banyak anak-anak yang sudah tidak paham dengan Bahasa Jawa. Jangankan paham, ngomong Bahasa Jawa saja tidak bisa,” lanjutnya.

Pihaknya mengapresiasi Kelompok Teater Gunungsewu yang tengah menggelar Sandiwara Basa Jawa dengan Judul Keblinger dalam Rangka Wulenpari Kali Oya Festival 2019. Ia berharap Teater Gunungsewu ini nantinya bisa mendorong generasi muda untuk tampil kembali dengan bahasa lokalnya dan membawa pengaruh bagi kelestarian kebudayaan di Indonesia.

“Mudah-mudahan sanggarnya nanti bisa memberikan virus kebaikan kepada anak-anak muda di Indonesia untuk menggali kembali nilai-nilai yang ada di masyarakat itu sendiri. Mudah-mudahan dari Kabupaten Gunungkidul yang memiliki kekayaan budaya bisa merawat para penikmat seni,” tandasnya.

Sementara itu, salah seorang penonton teater, Dita Ayu mengatakan cukup takjub dengan pementasan teater Keblinger tersebut. Ia berharap ke depannya pemerintah terus memfasilitasi para seniman untuk tampil di ruang-ruang publik.

“Intinya dari sisi lighting, lakon, alur cerita sangat luar biasa. Saya sebagai penonton bangga menjadi bagian dari Indonesia yang kaya akan budaya,” ucap remaja yang masih duduk di bangku SMP ini.

Iklan
Klik untuk Komentar
Iklan

Facebook Pages

Iklan
Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler