Budaya
Pesan 7 Dalang Cilik di Balik Cerita Aji Narantaka Hingga Bimo Bothok Kepada Calon Pemimpin Bangsa
Semanu,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Tujuh dalang cilik membawakan cerita Aji Narantaka, Jabang Tetuko hingga Bimo Bothok di Joglo Bakmi Jawa Mijahan dalam rangka perayaan malam tahun baru 2019 kemarin. Ada pesan tersirat dari para dalang belia itu melalui cerita yang dibawakan untuk seluruh penonton yang hadir. Maka biarpun hujan mengguyur sejak sore tak menyurutkan minat penonton untuk menikmati pagelaran wayang kulit tersebut. Apalagi tuan rumah menyediakan sajian Bakmi Jawa gratis kepada setiap penonton yang hadir.
Tak sembarangan memilih lakon, Ki Slamet Haryadi, sang sutradara sekaligus guru para dalang cilik itu menjelaskan kisah Aji Narantaka, Jabang Tetuko hingga Bimo Bothok semuanya bercerita tentang nilai patriotisme. Perkelahian antara Gatot Kaca dan Dursala di Aji Narantaka didasari misi membela kebenaran dan keadilan. Putra-putra Pandawa saat itu mempertahankan haknya atas Astina.
Aji Narantaka merupakan kesaktian yang dimiliki Gatot Kaca dan digunakan saat melawan Dursala, sang pimpinan Kurawa. Meski memiliki kekuatan besar, Gatot Kaca tak sembarangan menggunakannya.
Kekuatan ini bisa dimiliki Gatot Kaca dengan berbagai syarat, di antaranya dia harus berbakti kepada Yang Maha Kuasa, mengasihi sesama, menjaga alam semesta, berguna bagi orang lain dalam kehidupan, dan rendah hati.
Dikisahkan, Gatot Kaca sudah melalui berbagai cara dialog dengan Dursala. Hingga di saat-saat terakhir dan keadaan terpaksa. Gatot Kaca menggunakan Aji Narantaka sehingga tubuh Dursala hancur tak berdaya.
“Kita punya merah-putih, merah artinya berani. Berani karena benar. (Gatot Kaca berkelahi melawan Dursala) bukan karena senang berkelahi dan arogan, tapi untuk membela kebenaran dan keadilan,” ucap pemilik Sanggar Pengalasan Wiladek yang menjadi kawah candradimuka para dalang cilik belajar mendalang.
Lewat Aji Narantaka, dalang belia Kenzi Wardani dan Alif Nur Afif ingin menunjukkan nilai patriotisme bangsa Indonesia kepada Benyamin Sudarmadi, SH, M.Si, yang menjadi caleg DPR RI nomor urut 8 dari dapil DIY Partai Nasdem.
“Ringkas cerita, siapa pun yang memiliki niat yang baik, dilakukan dengan sepenuh hati, dengan semangat dan keyakinan, dia akan mendapat pertolongan. Toh akhirnya kebenaran akan menang dari kejahatan. Saya percaya Pak Benyamin mampu membawa amanah masyarakat Gunungkidul dan DIY jika terpilih,” tutur Ki Slamet Haryadi.
Sementara di babak kedua, kembali 2 dalang bocah Pandu dan Ahmad Rosyid tampil membawakan lakon Jabang Tetuko yang menceritakan kisah kelahiran ksatria Raden Gatotkaca.
“Lewat Jabang Tetuko dalang memberikan pesan lewat kelahiran Raden Gatotkaca yang fenomenal ketika dilemparkan ke Kawah Candradimuka. Akhirnya justru mampu membunuh Prabu Kala Pracona dan Patih Sekipu yang mengamuk di kahyangan Jonggring Saloka,” tambahnya.
Kisah Jabang Tetuko menarik untuk melakukan renungan di tahun baru 2019. Suasana damai, tenteram penuh kebahagiaan akan selalu diharapkan pada tahun yang baru. Sedangkan lewat Bimo Bothok, 3 dalang remaja Rainnori Gandi, Ikhsan Kurniawan dan Erlangga Bertrand Pashandaru membawakan kisah ksatria Pandawa, Raden Bimasena yang berani berkorban tanpa pamrih demi membela kepentingan rakyat kecil.
“Pengorbanan Raden Werkudara melawan Prabu Bakah akhirnya berhasil menyelamatkan negara dari kehancuran. Dan ini layak diteladani setiap calon pemimpin bangsa agar kelak jika terpilih benar-benar mampu membawa amanah rakyat,” pungkasnya.
Bagi Benyamin Sudarmadi, pagelaran wayang kulit yang menampilkan dalang bocah merupakan salah satu upayanya melestarikan budaya Jawa yang adiluhung agar tidak terkikis oleh kebudayaan mancanegara yang kadang tidak sesuai dengan adat ketimuran.
“Kalau bukan kita yang melestarikan lantas akan siapa lagi ? Sudah jarang anak-anak yang hafal tokoh-tokoh pewayangan, maka lewat pagelaran ini saya berharap wayang kulit akan tetap lestari. Salah satu caranya mereka saya beri ruang untuk mengasah kemampuannya dalam dunia pedalangan,” tegas Benyamin.
Disisi lain Benyamin menilai penampilan 7 dalang cilik lumayan memuaskan. Walaupun suaranya masih kekanak-kanakan, namun dalam hal mengolah dan memainkan wayang tidak kalah dengan dalang yang sudah dewasa. Jika diberikan banyak ruang untuk sering pentas, kelak mereka akan mampu menjadi dalang kondang yang tak kalah dibanding para pendahulunya.
-
Uncategorized2 minggu yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized3 minggu yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya2 minggu yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized2 minggu yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Uncategorized1 minggu yang laluKnalpot Brong Jadi Incaran Khusus Operasi Patuh Progo 2026
-
Uncategorized6 hari yang laluDiduga Bermuatan Solar Ilegal, Truk Tangki Berkapasitas Ribuan Liter Diamankan Polisi
-
Uncategorized5 hari yang laluManajer KDKMP Sudah Ditempatkan di Gunungkidul, Beberapa Kalurahan Belum Punya Gerai
-
Sosial2 minggu yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized2 minggu yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized2 minggu yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized3 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Uncategorized1 minggu yang laluSerangan Binatang Liar Ancam Ternak di Wilayah Selatan Gunungkidul, Warga Diminta Waspada
