Budaya
Warga Giripurwo Gelar Upacara Adat “Njaluk Udan”
Purwosari,(pidjar.com)– Tradisi, adat dan budaya masih begitu lestari di Kabupaten Gunungkidul. Salah satunya adalah upacara adat “Njaluk Udan” yang setiap tahunnya masih digelar oleh warga Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Purwosari.
Lurah Giripurwo, Supriyadi mengatakan upacara adat “Njaluk Udan” merupakan upacara adat peninggalan nenek moyang mereka yang hingga sekarang masih terus dilestarikan Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Purwosari. Upacara ini dilakukan pada musim kemarau panjang yang seperti sekarang.
Para warga berdua kepada Yang Maha Kuasa untuk bisa segera turun hujan. Mengingat jika hitungan bulan sudah hampir memasuki masa tanam pertama.
“Upacara adat Njaluk Udan dilakukan setiaphari Jumat Kliwon di bulan-bulan September atau Oktober. Tepatnya menjelang masa tanam namun hujan tidak kunjung turun,” kata Lurah Giripurwo, Supriyadi saat dikonfirmasi.
Di hari dan tanggal yang telah ditentukan, warg Padukuhan Klampok dan sekitarnya mulai sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk melakukan doa bersama dan upacara adat di Pertapaan Andongsari yang berada di puncak perbukitan atau gunung. Uborampe yang wajib dibawa adalah ingkung ayam kampung dan kelapa muda.

Siang harinya, para warga bersama sesepuh daerah beririt-irutan menuju Pertapaan Andongsari diiringi kesenian tradisional. Tiba di pertapaan Andongsari, sesepuh di wilayah tersebut atau Rois kemudian mengajak para warga untuk memanjatkan doa dan ada beberapa teriakan warga “hujan” sebagai pertanda permintaan hujan kepada Allah SWT.
Usai doa bersama dan genduri ini, warga kemudian menyantap ingkung dan makanan yang telah dibawa termasuk meminum air kelapa yang telah tersedia.
“Makanan yang dibawa itu kemudian dibagi ke warga yang hadir dalam acara upacara adat ini dan meminum air kelapa. Besar harapan para warga setelah dilakukan upacara adat hujan akan segera turun,” jelas dia.
Kalurahan Giripurwo merupakan daerah yang berada di sisi barat dan selatan Gunungkidul. Meski sudah ada saluran air namun, sejak beberapa bulan lalu warga setempat sudah kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Sumber air sudah mengering di pertengahan kemarau kemarin. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan air mereka harus membeli dan mengandalkan bantuan dari oihak-pihak tertentu.
“Dampak kemarau ini tentu kesulitan mendapat air, kemudian monyet ekor panjang yang masuk ke lahan dan pekarangan warga, serta kegiatan pertanian benar-benar terhenti,” tambahnya.
Adapun untuk jika membeli air tangki swasta, harganya mulai dari Rp 150.000 sampai Rp 200.000. Besaran harganya sendiri disesuaikan dengan medan rumah para warga.
-
Uncategorized3 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized1 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluSempat Diancam Akan Dilindas Lehernya, Dua Remaja Babak Belur Dihajar Kelompok Pemuda Silat
-
Uncategorized4 minggu yang lalu9.000 Penerima Bansos Gunungkidul Disetop karena Terindikasi Judi Online
-
Uncategorized3 minggu yang laluKelok 23 Tuntas 100 Persen, Akses Gunungkidul-Bantul dengan View Laut Selatan Segera Dibuka
-
Uncategorized3 minggu yang laluSaling Bajak Kader Antara PSI dan NasDem Gunungkidul Makin Seru, Ini Tanggapan Sang Ketua
-
Uncategorized4 minggu yang laluPenerima PKH di Gunungkidul Turun 2.000 Orang, Ini Penyebabnya
-
Uncategorized3 minggu yang laluBupati Turun Tangan, Polemik Seleksi Ulu-Ulu Siraman Mulai Ditelusuri
-
Uncategorized3 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized3 minggu yang laluGunungkidul Jajaki Kerjasama dengan Korea Selatan, Buka Peluang Jadi Pekerja Musiman
-
Uncategorized2 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
-
Uncategorized3 minggu yang laluKemarau Panjang, 53 Kejadian di Gunungkidul Hanguskan 51 Hektare
