Pemerintahan
Kemarau 2026 Diperkirakan Lebih Panjang
Wonosari,(pidjar.com)– Menghadapi musim kemarau 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul bersama dengan kapanewon mulai melakukan pemetaan daerah rawan terdampak kekeringan. Sebagai penanganan jangka pendek, pemerintah kapanewon dan BPBD menyiapkan anggaran untuk droping air ke wilayah-wilayah yang nantinya kesulitan dalam mendapatkan air bersih. Diperkirakan, pada tahun 2026 ini, musim kemarau diperkirakan akan berlangsung lebih panjang dari biasanya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Edy Winata mengatakan, dalam penanganan kekeringan khususnya droping air, nantinya BPBD tidak bekerja sendirian. Beberapa kapanewon di Gunungkidul saat ini telah memiliki anggaran sendiri untuk pendistribusian air bersih saat kemarau.
Adapun daftar kapanewon yang memiliki anggaran droping air diantaranya Kapanewon Patuk, Gedangsari, Purwosari, Panggang, Paliyan, Tanjungsari, Tepus, Girisubo, Rongkop, Semanu, Ponjong, dan Nglipar. Sedangkan yang tidak memiliki anggaran untuk pemenuhan air bersih yakni kapanewon Wonosari, Semin, Ngawen, Playen, Saptosari, Karangmojo.
“Untuk nominal anggaran masing-masing kapanewon tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan,” kata Edy Winarta, Rabu, (15/04/2026).
Disinggung mengenai daerah atau kalurahan mana saja yang berpotensi mengalami kekeringan, ia menjelaskan hal tersebut masih akan petakan kembali. Namun tidak menutup kemungkinan apabila wilayah kekeringan akan lebih luas dibandingkan dengan tahun lalu sebab kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang, sekitar 7 bulan dari bulan Mei.
“Kalau untuk titiknya masih perlu dikoordinasikan lagi,” jelasnya.
Tahun ini BPBD Gunungkidul menyiapkan anggaran sebesar Rp 500 juta untuk droping air. Anggarsn tersebut mampu mencukupi kebutuhan air bersih sebanyak 1.500 tangki.
Dalam proses pendistribusiannya ke depan, Edy mengatakan bahwa program droping air dari BPBD hanya akan mengcover 6 kapanewon yang tidak memiliki anggaran mandiri. Kemudian nantinya jika 12 kapanewon yang memiliki anggaran mandiri semuanya telah terpakai baru bisa mengakses droping air dari BPBD.
“Kalau di kapanewon sudah tidak mencukupi sedangkan permintaan (droping) masih tinggi maka nanti dari BPBD melakukan pendistribusian air baku ke masyarakat,” jelasnya.
Berdasarkan prediksi dari BMKG, kemarau 2026 akan bersifat kering dan lebih panjang. Di Gunungkidul kemarau akan mulai pada dasarian III April dengan puncak kemarau pada Agustus mendatang.
Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi BPBD Gunungkidul, Nanang Irawanto mengatakan, masing-masing kapanewon yang memiliki anggaran mandiri, akan melakukan droping air di bulan Juli, Agustus hingga September. Dimana pada bulan-bulan tersebut masuk pada puncak kemarau.
“BPBD mengcover untuk kapanewon yang tidak memiliki anggaran dan apabila di 12 kapanewon pemilik anggaran mandiri sudah kekurangan anggaran,” ucap Nanang Irawanto.
“Selain dari BPBD dan Kapanewon, nantinga dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak akan membantu 30 tangki air bersih. Dari PDAM Tirta Handayani berkomitmen untuk mengoptimalkan potensi sumber air yang ada,” tambah dia.
Sementara itu, Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Panggang, Sri Muryani mengatakan, berdasarkan pemetaan awal di Kapanewon Panggang terdapat beberapa wilayah yang masuk daftar rawan kekeringan.
Diantaranya Padukuhan Panggang I, Panggang II, Panggang III, Kalurahan Giriharjo; Padukuhan Gebang, Temuireng I, Temuireng II, Kalurahan Girisuko; Padukuhan Padem, Bolang, Dawung (1 RT), Wiloso (1 RT), Kalurahan Girikarto; Padukuhan Juruk, Pudak, Pejaten, Klepu, Petung (2 RT) Kalurahan Giriwungu.
Kemudian Padukuhan Tungu, Wintaos, Legundi, Kadisobo, prahu, Tanggung, Macanmati Kalurahan Girimulyo; dan Padukuhan Pijenan serta Jeruken Kalurahan Girisekar.
“Kami akan lakukan droping air di bulan Agustus. Untuk saat ini belum ada warga kami yang mengalami kekeringan karena ini masih sering terjadi hujan,” ucap Sri Muryani.
-
Uncategorized2 hari yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized7 hari yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya2 hari yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized2 hari yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Sosial3 hari yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized3 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized2 hari yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized2 hari yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
event4 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Uncategorized4 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Sosial3 minggu yang laluProfil AKBP Rosana, Kapolres Gunungkidul yang Pernah Ungkap Kasus 1 Ton Sabu
-
Pemerintahan3 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
