Pendidikan
Fenomena Baru PPDB di Wonosari: SD Negeri Kekurangan Murid, Sekolah Favorit Diserbu hingga Inden Tahun 2031
Wonosari, (pidjar.com)- Peta pendidikan dasar di Kabupaten Gunungkidul mulai menunjukkan fenomena yang kontras. Saat sejumlah sekolah dasar negeri di Kapanewon Wonosari kesulitan mendapatkan peserta didik baru sementara beberapa sekolah swasta justru kebanjiran peminat. Bahkan, ada sekolah yang mengaku telah menerima pendaftaran calon siswa hingga tahun 2031.
Fenomena tersebut terlihat dalam pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2026/2027. Sejumlah SD negeri di wilayah perkotaan Wonosari mencatat jumlah siswa baru yang lebih sedikit dibandingkan lulusan kelas VI yang mereka lepas pada akhir tahun ajaran lalu.
Kondisi ini menjadi sinyal adanya perubahan preferensi masyarakat dalam memilih sekolah dasar bagi anak-anak mereka.
Di SD Negeri Singkar, jumlah siswa baru tahun ini hanya mencapai 14 anak. Padahal sekolah tersebut baru saja meluluskan 22 siswa kelas VI. Artinya, terdapat selisih delapan siswa yang tidak tergantikan oleh peserta didik baru.
Situasi serupa terjadi di SD Negeri Siraman 2. Sekolah itu hanya memperoleh 11 siswa baru, turun hampir separuh dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 21 siswa.

Penurunan juga dialami SD Negeri Duwet. Pada PPDB tahun ini, sekolah tersebut menerima 10 siswa baru, lebih sedikit dibandingkan tahun lalu yang mencapai 16 anak.
Sementara itu, SD Negeri Mulo Baru masih mampu menjaga keseimbangan jumlah peserta didiknya. Tahun ini sekolah tersebut menerima 27 siswa baru, hanya berkurang satu anak dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 28 siswa. Jumlah tersebut hampir setara dengan lulusan kelas VI yang juga sebanyak 28 siswa.
Meski ada sekolah yang relatif stabil, tren penurunan peserta didik baru mulai dirasakan sejumlah SD negeri di Wonosari.
Kepala SD Negeri Siraman 2, Tri Harsanti, mengatakan berkurangnya jumlah siswa baru dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah menurunnya jumlah lulusan taman kanak-kanak yang selama ini menjadi sumber utama peserta didik sekolah.
Menurut dia, TK Masyitoh yang berada di dekat sekolah tahun ini hanya meluluskan 12 anak.
“Dari 12 lulusan TK Masyitoh, sebanyak 11 anak masuk ke SD Negeri Siraman 2 dan satu anak memilih SD Negeri Singkar,” ujar Tri, Jumat (12/6/2026).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat ruang perekrutan siswa baru semakin terbatas. Apalagi, SD Negeri Siraman 2 berada di kawasan yang dikelilingi empat sekolah dasar dengan jarak yang berdekatan sehingga persaingan mendapatkan siswa baru tidak terhindarkan.
Di tengah jumlah anak usia sekolah yang terus menurun, sekolah-sekolah negeri kini harus berbagi sumber peserta didik yang semakin terbatas.
Di saat sejumlah sekolah negeri mengalami penurunan siswa, sekolah swasta menunjukkan kondisi yang berbeda.
Kepala SD Al Azhar Wonosari, Danar Kusuma, mengatakan sekolahnya memang belum memenuhi target penerimaan siswa baru tahun ini. Dari target dua rombongan belajar, jumlah siswa yang mendaftar saat ini baru mencukupi satu kelas.
“Kami menargetkan dua kelas, tetapi saat ini jumlah siswa yang masuk baru memenuhi satu kelas,” kata Danar.
Meski demikian, ia menyebut mayoritas calon siswa yang mendaftar tidak hanya berasal dari Wonosari. Mereka datang dari berbagai wilayah di Gunungkidul, seperti Ngawen, Ponjong, Nglipar, Semanu hingga Patuk.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sebagian orang tua kini tidak lagi menjadikan faktor kedekatan lokasi sebagai pertimbangan utama dalam memilih sekolah.
Cerita berbeda datang dari SD Muhammadiyah Al Mujahidin Wonosari. Sekolah ini menjadi salah satu tujuan favorit masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala SD Muhammadiyah Al Mujahidin, Joko Kiswanto, mengatakan pada tahun ajaran 2026/2027 sekolahnya menerima 140 siswa baru yang terbagi dalam empat rombongan belajar reguler dan satu rombongan belajar boarding school.
Tingginya animo masyarakat membuat sekolah tersebut tidak hanya menerima pendaftar untuk tahun ajaran berjalan, tetapi juga membuka daftar tunggu hingga beberapa tahun mendatang.
“Bahkan pendaftaran sudah masuk sampai tahun 2031,” ungkap Joko.
Artinya, sejumlah orang tua telah mendaftarkan anak mereka yang saat ini masih berusia sekitar satu hingga dua tahun agar kelak dapat bersekolah di SD Muhammadiyah Al Mujahidin.
Fenomena yang lazim ditemui pada pembelian kendaraan atau properti itu kini merambah dunia pendidikan. Para orang tua rela mengamankan kursi sekolah sejak anak masih balita demi mendapatkan akses pendidikan yang dianggap berkualitas.
Tak hanya itu, untuk tahun ajaran 2027/2028 sekolah tersebut juga telah menerima pendaftar dalam jumlah besar. Data sekolah menunjukkan jumlah pendaftar yang masuk sudah mencapai 2.012 calon siswa.
-
Uncategorized1 minggu yang laluMantan Kepala Benarkan Alat-alat Musik Studio SKB Gunungkidul Berada di Rumahnya, Sebut Untuk Kursus Musisi Muda Kawasan Selatan
-
Uncategorized1 minggu yang laluTak Berhasil Saat Diminta Perbaiki Listrik, Dimas Dikeroyok Secara Brutal, Dari Diinjak Hingga Dihantam Senter
-
Sosial3 minggu yang laluKisruh Tunggakan Capai 85 Juta Dalam Dua Tahun Terakhir, Penyetoran Pembayaran PBB-P2 di Kalurahan Sawahan “Bocor”?
-
Uncategorized3 minggu yang laluSuhu Terendah di Gunungkidul Capai 19 Celcius
-
Uncategorized2 minggu yang laluStudio Musik dan Rekaman SKB Gunungkidul Kini Lumpuh Total Gegara Alat Hingga Sound Dibawa Pulang Mantan Pejabat
-
Uncategorized2 minggu yang laluTragis, Wanita Muda Ditemukan Gantung Diri di Kamarnya
-
Pemerintahan2 minggu yang laluProyek Pengeboran Bekah Gagal Total Karena Salah Anilisis, PDAM Tirta Handayani Diminta Gandeng Akademisi
-
Uncategorized2 minggu yang laluDua Kasus Gantung Diri Terjadi dalam Sehari di Gunungkidul, Lansia Pria dan Perempuan Ditemukan Meninggal
-
Uncategorized6 hari yang laluLaka Beruntun Maut 4 Kendaraan di Selang, Seorang Remaja Tewas
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemuda 22 Tahun Ditemukan Gantung diri di Dapur Rumah
-
Peristiwa3 minggu yang laluTragis, Lansia di Candirejo Ditemukan Meninggal Terbakar
-
Kriminal4 minggu yang laluPenipuan Program Koperasi Desa Merah Putih Terbongkar, Pelaku Minta Uang hingga Rp80 Juta ke Kalurahan
