Pemerintahan
Cegah Meluasnya Fenomena Wong Jowo Ilang Jawane, Dinas Getol Dorong Penggunaan Bahasa dan Aksara Jawa
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Eksistensi bahasa Jawa dan aksara Jawa seiring berkembangnya teknologi saat ini semakin memudar. Tentu terdapat kekhawatiran dan keprihatian tersendiri atas kondisi seperti ini. Maka dari itu pemerintah daerah terus berupaya melakukan pelestarian dan memberikan pengarahan bagi masyarakat luas untuk terus melakukan interaksi menggunakan bahasa jawa serta mempelajari aksara jawa sebagai budaya atau kekayaan daerah.
Sebagaimana diketahui, bahasa dan aksara Jawa merupakan warisan leluhur yang perlu dilestarikan. Namun sayangnya, generasi sekarang justru kaum muda enggan dan seolah merasa malu untuk menggunakan bahasa maupun mempelajari aksara jawa. Bagi kalangan muda, belajar perihal bahasa atau aksara jawa hanya sebagai hal wajib mereka untuk menyelesaikan persoalan akademis. Selepas dari kewajiban tersebut, para generasi muda itu sangat jarang menggunakannya, terlebih aksara Jawa. Mereka justru lebih memilih mendalami bahasa asing dan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa keseharian.
Terlebih mereka yang berada di luar daerah, meski sama-sama bertemu dengan orang Jawa namun memilih bahasa Indonesia atau asing untuk berkomunikasi. Lantaran kondisi ini, kemudian dari pemerintah provinsi maupun daerah memiliki gagasan untuk menghidupkan kembali bahasa Jawa terlebih penggunaan aksara Jawa.
Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Agus Kamtono mengungkapkan, dewasa ini memang penggunaan aksara jawa dan bahasa jawa di Gunungkidul agak bergeser. Terlebih anak muda sekarang justru seolah enggan mempelajari budaya yang dimiliki. Maka dari itu, sejumlah gagasan untuk melestarikan budaya yang dimiliki telah diterapkan oleh pemerintah daerah maupun provinsi.
“Untuk melestarikan budaya terus kami upayakan semaksimal mungkin. Khusus untuk bahasa Jawa kami tekankan pada masyarakat memang, terlebih mereka yang memiliki Desa Budaya. Jadi berkesinambungan,” papar Agus Kamtono, Rabu (12/12/2018).
Namun meski penekanan untuk melestarikan bahasa Jawa telah dilakukan, untuk penggunaan aksara Jawa sendiri masih belum dapat dioptimalkan. Ke depan pemerintah daerah memiliki wacana untuk mensosialisasikan Gerakan Bangga Penggunaan Aksara Jawa, sesuai dengan program dari pemerintah provinsi.
“Kalau untuk gerakan itu juga akan kami terapkan. Sifatnya himbauan bagi masyarakat, kalau untuk paksaan ya tidak meski memang disadari ada keprihatian tersendiri atas penggunaan bahasa dan aksara jawa,” imbuh dia.
Menggunakan bahasa Indonesia memang tidak dipersalahkan. Sesuai dengan peraturan yang ada justru seseorang sangatlah disarankan untuk mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah dan menguasai bahasa asing. Bukan tidak mungkin seiring majunya daerah, dan hal-hal lain kemampuan untuk berbahasa asing juga sangat dibutuhkan.
Akan tetapi, pada bahasa daerah khususnya penggunaan bahasa jawa dan aksara jawa perlu tetap diterapkan. Sehingga tidak ada yang terlupakan atau istilahnya wong Jowo ilang Jowone. Hal itulah yang dihindari oleh pemerintah daerah. Adapun beberapa program yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah yakni dengan mengadakan lomba geguritan, mocopat, dan beberapa lainnya.
Berbagai pelatihan dan bimbingan juga telah dilakukan oleh Dinas Kebudayaan, jajarannya juga terus mendorong dan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga untuk lebih menggetolkan pembelajaran muatan lokal khususnya Bahasa Jawa dan aksara Jawa. Dunia pendidikan juga memiliki kontribusi yang luar biasa dalam menekan keperdulian anak muda maulun masyarakat luas dalam penggunaan aksara Jawa dan bahasa Jawa.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Gunungkidul, Bahron Rosyid mengatakan jika penggunaan bahasa Jawa maupun aksara Jawa sudah cukup baik. Pihaknya juga telah berusaha semaksimal mungkin dalam menekankan dan mengajarkan pada siswa Gunungkidul dalam penggunaan bahasa Jawa maupun aksara Jawa. Terkait penerapannya, dari Disdik telah mewajibkan muatan lokal Bahasa Jawa menjadi mata pelajaran yang perlu lebih digetolkan, sehingga bahasa dan aksara Jawa tidak punah.
“Terus kami upayakan, tidak hanya tahu tapi juga mendalami dan menerapkan,” paparnya.
Penggunaan bahasa Jawa sendiri dianggap sangat penting sebagai sarana pendidikan karakter. Mengingat bahasa Jawa memiliki keunikan dan filosofi tersendiri. Sebuah budaya atau sastra yang perlu dilestarikan dari generasi ke generasi.
-
Uncategorized22 jam yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized5 hari yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Uncategorized3 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
event3 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Uncategorized3 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Sosial2 hari yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Sosial3 minggu yang laluProfil AKBP Rosana, Kapolres Gunungkidul yang Pernah Ungkap Kasus 1 Ton Sabu
-
Pemerintahan2 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
-
Uncategorized1 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Pariwisata3 minggu yang laluOnsen Resort Kaliurang, Tawarkan Pengalaman Menginap Bernuansa Jepang di Lereng Merapi
-
Uncategorized20 jam yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized17 jam yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
