fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Belajar Dari Kampung, Pemkab Kaji Skema Beli Gabah Lokal Untuk Kebutuhan ASN

Published

on

Ngawen,(pidjar.com)–Kabupaten Gunungkidul merupakan penghasil padi atau gabah terbesar di DIY. Menyikapi hal tersebut, pemerintah kabupaten melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan tengah membahas upaya pemasaran beras lokal untuk pemenuhan kebutuhan ASN dan masyarakat Gunungkidul.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Gunungkidul, Kelik Yuniantoro mengatakan, pemerintah saat ini tengah menggencarkan program pengunaan dan pembelian produk lokal. Salah satunya adalah pembelian beras hasil pertanian lokal. Sebab seperti yang diketahui selama ini Gunungkidul memiliki potensi gabah yang sangat melimpah.

Di mana hampir setiap tahunnya produktifitas gabah mengalami surplus. Namun selama ini pula, gabah-gabah ini belum dijualbelikan dalam jumlah besar dan hanya digunakan sebagai cadangan pangan.

“Ini sebagai solusi pasca panen bagi petani,” terang Kelik Yuniantoro, Rabu (29/09/2021).

Belum lama ini, tim dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan berkunjung ke salah satu kelompok penggilingan gabah yang berada di Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen. Kelompok milik Suparna tersebut membeli gabah petani lokal yang kemudian digiling dan dijual untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Menurut Kelik, skema semacam ini nantinya bisa menjadi pilot project untuk kemudian bisa diterapkan secara lebih luas.

“Ada arah untuk kerjasama, nantinya beras dari kelompok ini untuk pemenuhan kebutuhan ASN. Namun ke depan bagaimana, masih kita bahas baik skema maupun mekanismenya,” imbuh dia.

Sementara itu, Suparna mengatakan zona utara seperti Semin, Nglipar, Ngawen memiliki potensi gabah yang luar biasa. Hasil pertanian, selain untuk pemenuhan kebutuhan petani juga banyak yang dijual. Sejak tahun 2002 silam, Suparna telah melakukan pembelian gabah lokal yanh kemudian ia giling sendiri dan dipasarkan ke wilayah Gunungkidul serta daerah perbatasan.

“Hasil padi di Gunungkidul itu melimpah, sisi utara justru penjualannya ke Cawas, Klaten. Makanya saya berusaha membeli dan menggiling sendiri untuk dijual dalam bentuk beras,” ucap Suparna.

Beras hasil gilingan tersebut masih harus ditapis kemudian baru bisa dijual. Harganya cukup beragam mulai dari Rp 7.500 sampai Rp 11.000 untuk beras lokal tergantung kondisi dan jenisnya. Dalam 1 bulan dirinya bisa menjual 5 ton beras pada saat kondisi sedang tidak stabil, jika kondisi stabil bahkan bisa lebih dari itu.

“Penanganan pasca panen dari petani sangat menentukan kualitas pertanian. Kemudian dengan arencana kerjasama pemerintah tentu saya sangat bersyukur ini menjawab solusi atas pemanfaatan gabah petani Gunungkidul, tapi memang masih butuh dikomunikasikan kembali,” imbuh dia.

Beberapa waktu lalu, Ketua DPRD Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih juga mengatakan bahwa perlu adanya terobosan baru untuk memperhatikan petani di Gunungkidul. Saat ini sektor pertanian menjadi tumpuan masyarakat Gunungkidul, progressnya setiap tahun sangat bagus dan hasilnya melimpah ruah.

Dari pemerintah sendiri selama ini memberikan pendampingan dan stimulan pada masa sebelum produksi. Padahal untuk pasca panen sendiri juga dibutuhkan program agar petani dapat sejahtera dan apa yang diperoleh sebanding dengan jerih payah mereka.

“Memang harus ada terobosan untuk menampung hasil mereka. Pendampingan pasca panen juga perlu dilakukab agar petani tidak rugi,” terang Endah.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler