Info Ringan
Belalang Goreng, Gatot dan Tiwul Tetap Jadi Primadona Pemudik
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Meskipun sudah hidup di kota-kota besar, pemudik yang tiba di Gunungkidul tetap tidak lupa dengan olahan makanan khas Bumi Gaplek. Belalang goreng tetap eksis menjadi unggulan para pemudik setiap tahunnya. Wajar saja, olahan belalang goreng hanya bisa ditemui di Kabupaten Gunungkidul. Di musim mudik lebaran seperti sekarang, keberadaan pedagang belalang goreng banyak ditemui mulai dari barat lampu merah simpang empat Gading, Playen hingga kawasan Taman Hutan Rakyat Bunder.
Salah satu pedagang olahan belalang di bahu Jalan Wonosari-Yogyakarta, Sinuk mengatakan mulai berjualan pada Kamis kemarin. Ia mengaku belalangnya laku keras selama libur lebaran. Dengan harga kisaran Rp. 25.000,- hingga Rp. 30.000,- per toples, dalam sehari ia bisa menjual lebih dari 100 toples.
“Kalau ada yang nawar ya saya jual Rp. 25.000,- per toples ada tiga varian rasa yakni manis, pedas dan asin,” kata dia, Sabtu (08/06/2019).
Untuk mengantisipasi lonjakan penjualan belalang selama libur lebaran sudah ia persiapkan jauh-jauh hari. Dia mulai stok belalang berpuluh-puluh kilogram dan disimpan dalam kulkas.
“Yang penting membersihkannya dibelah di tengah nanti kalau matang awet sampai berbulan-bulan,” kata dia.

Benar saja, keberadaan belalang ternyata memang digemari banyak pemudik asal Gunungkidul. Bahkan para kerabat pemudik pun tidak sedikit yang menitip oleh-oleh belalang.
“Kebetulan teman kerja suami saya pernah dibawakan mertua saya belalang dari sini makanya mereka kalau ditanya oleh-oleh apa mintanya belalang,” kata Rahayu, salah satu pemudik dari Bogor, Jawa Barat.
Selain belalang goreng, olahan makanan khas Gunungkidul yang benyak dicari pemudik adalah gatot dan tiwul. Pusat oleh-oleh khas Kabupaten Gunungkidul, Tiwul Yu Tum meraup untung kurang lebih Rp 20 juta hingga Rp 25 juta dalam waktu dua hari pasca lebaran.
Pemilik Tiwul Yu Tum, Slamet Riyadi, mengatakan dalam waktu dua hari peningkatan penjualan tiwul mencapai 75% dibandingkan hari-hari biasa. Ia menyebutkan pemudik paling banyak membeli gatot dan tiwul.
“Tahun lalu kami dapat sekitar Rp20 juta tapi perlu waktu tiga atau empat hari,” katanya.
Kendati demikian, ia menyatakan pihaknya kekurangan stok untuk gatot dan thiwul yang instan lantaran kekurangan bahan baku. Menurutnya hasil panen singkong di Kabupaten Gunungkidul sendiri tidak banyak.
“Daerah lain saja biasanya ambil, kami tidak ambil singkong dari luar daerah untuk membuat gatot dan tiwul,” tandasnya. (Ulfah Nurul Azizah)
-
Uncategorized6 hari yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized4 minggu yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized4 minggu yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized4 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized4 minggu yang laluLurah di Gunungkidul Kompak Enggan Teken Berita Acara Serah Terima Aset KDMP, Ada Apa?
-
Uncategorized4 minggu yang laluCiptakan Pilur Jujur dan Bersih, Dinas Awasi Lurah Petahana
-
Uncategorized4 minggu yang laluLansia Asal Ponjong Ditemukan Gantung Diri di Kandang
-
Uncategorized3 minggu yang laluSakit Hati Sering Diejek Ketika Memulung Sampah, 2 Remaja Putri Nekat Bakar Sekolah
-
Uncategorized4 minggu yang laluGelombang Tinggi di Pesisir Gunungkidul, Rusak Perahu Nelayan Hingga Warung
-
Uncategorized2 minggu yang laluSempat Diancam Akan Dilindas Lehernya, Dua Remaja Babak Belur Dihajar Kelompok Pemuda Silat
-
Uncategorized3 minggu yang lalu9.000 Penerima Bansos Gunungkidul Disetop karena Terindikasi Judi Online
-
Uncategorized4 minggu yang laluDua SPPG di Gunungkidul Belum Kantongi SLHS
