fbpx
Connect with us

Info Ringan

Belalang Goreng, Gatot dan Tiwul Tetap Jadi Primadona Pemudik

Published

on

Wonosari,(pidjar.com)–Meskipun sudah hidup di kota-kota besar, pemudik yang tiba di Gunungkidul tetap tidak lupa dengan olahan makanan khas Bumi Gaplek. Belalang goreng tetap eksis menjadi unggulan para pemudik setiap tahunnya.  Wajar saja, olahan belalang goreng hanya bisa ditemui di Kabupaten Gunungkidul. Di musim mudik lebaran seperti sekarang, keberadaan pedagang belalang goreng banyak ditemui mulai dari barat lampu merah simpang empat Gading, Playen hingga kawasan Taman Hutan Rakyat Bunder.

Salah satu pedagang olahan belalang di bahu Jalan Wonosari-Yogyakarta, Sinuk mengatakan mulai berjualan pada Kamis kemarin. Ia mengaku belalangnya laku keras selama libur lebaran. Dengan harga kisaran Rp. 25.000,- hingga Rp. 30.000,- per toples, dalam sehari ia bisa menjual lebih dari 100 toples.

“Kalau ada yang nawar ya saya jual Rp. 25.000,- per toples ada tiga varian rasa yakni manis, pedas dan asin,” kata dia, Sabtu (08/06/2019).

Untuk mengantisipasi lonjakan penjualan belalang selama libur lebaran sudah ia persiapkan jauh-jauh hari. Dia mulai stok belalang berpuluh-puluh kilogram dan disimpan dalam kulkas.

“Yang penting membersihkannya dibelah di tengah nanti kalau matang awet sampai berbulan-bulan,” kata dia.

Benar saja, keberadaan belalang ternyata memang digemari banyak pemudik asal Gunungkidul. Bahkan para kerabat pemudik pun tidak sedikit yang menitip oleh-oleh belalang.

“Kebetulan teman kerja suami saya pernah dibawakan mertua saya belalang dari sini makanya mereka kalau ditanya oleh-oleh apa mintanya belalang,” kata Rahayu, salah satu pemudik dari Bogor, Jawa Barat.

Selain belalang goreng, olahan makanan khas Gunungkidul yang benyak dicari pemudik adalah gatot dan tiwul. Pusat oleh-oleh khas Kabupaten Gunungkidul, Tiwul Yu Tum meraup untung kurang lebih Rp 20 juta hingga Rp 25 juta dalam waktu dua hari pasca lebaran.

Pemilik Tiwul Yu Tum, Slamet Riyadi, mengatakan dalam waktu dua hari peningkatan penjualan tiwul mencapai 75% dibandingkan hari-hari biasa. Ia menyebutkan pemudik paling banyak membeli gatot dan tiwul.

“Tahun lalu kami dapat sekitar Rp20 juta tapi perlu waktu tiga atau empat hari,” katanya. 

Kendati demikian, ia menyatakan pihaknya kekurangan stok untuk gatot dan thiwul yang instan lantaran kekurangan bahan baku. Menurutnya hasil panen singkong di Kabupaten Gunungkidul sendiri tidak banyak.

“Daerah lain saja biasanya ambil, kami tidak ambil singkong dari luar daerah untuk membuat gatot dan tiwul,” tandasnya. (Ulfah Nurul Azizah)

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler