fbpx
Connect with us

Sosial

Gagal Panen Terparah Jadi Pelajaran, Petani Diminta Gunakan Benih Yang Tahan Kekeringan

Diterbitkan

pada

BDG

Wonosari,(pidjar.com)–Pertanian dan pariwisata disebut menjadi 2 komponen penting yang bisa menjadi potensi untuk menyejahterakan warga Kabupaten Gunungkidul. Seperti misalnya sektor pertanian yang memiliki luasan lahan cukup besar. Namun demikian, jika berbicara masalah pertanian, maka selalu akan berbenturan dengan masalah sulitnya air untuk kebutuhan lahan. Untuk itu, pemerintah berusaha mendorong para petani untuk menggunakan dua varietas benih padi pada musim tanam berikutnya yang dianggap tahan terhadap minimnya air.

Kabid Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengungkapkan, masalah pertanian di Gunungkidul baru akan muncul pada masa tanam kedua. Yakni di mana jumlah pasokan air mulai berkurang tak sebanyak seperti saat masa tanam di musim penghujan.

Sedangkan, lahan pertanian milik masyarakat saat ini masih banyak ditanami padi. Untuk itu, pihaknya merekomendasikan dua jenis padi hibrida dan non hibrida yang dirasa cocok terhadap kondisi alam di Gunungkidul.

Berita Lainnya  Telan Dana 6 Miliar, Pasar Legundi Mulai Beroperasi

“Padi Inpari 19 termasuk padi genjah bisa dipanen di umur 105 hari untuk lahan sawah. Sedangkan untuk tegalan kami sarankan jenis Segreng,” ucap Raharjo, Kamis (04/07/2019).

Pemilihan padi varietas umur pendek seperti Inpari 19 merupakan salah satu langkah alternatif yang dianggap tepat dalam menyiasati dampak perubahan iklim terutama kekeringan karena kemarau. Ia menyebut, jika waktu penanaman dilakukan secara tepat pada masa tanam ke dua, jenis padi tersebut mampu menghasilkan biji padi yang melimpah.

“Seperti pada lahan di wilayah Kecamatan Nglipar, lahan seluas 10 hektar bisa dipanen padi dengan rata-rata produksi 8,16 ton per hektar,” ungkap dia.

Namun begitu, saat ini masih banyak petani yang belum bisa menentukan masa tanam yang baik. Sebab para petani saat ini dianggap masih terlambat melakukan penanaman padi pada masa tanam ke dua.

Berita Lainnya  Bayarkan Gaji ke-13 Untuk PNS Minggu Ini, Pemkab Siapkan Anggaran Sebesar 36 Miliar

“Artinya tidak molor, biasanya permasalahan petani pada masa tanam 2 masih memikirkan panen masa tanam. Sehingga tanam masa tanam kedua bisa molor 1 sampai 2 minggu,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala DPP Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto menambahkan, pemilihan benih yang tepat dianggap mampu mengurangi risiko gagal panen. Sehingga terlepas dari masalah belum adanya sumur bor atau sumber air lainnya, petani dapat memulai antisipasi dengan memilih benih yang tepat dan mengantisipasi adanya gagal panen seperti tahun ini.

“Pada tahun 2019 merupakan tahun terparah lahan pertanian yang mengalami puso (gagal panen) di Kabupaten Gunungkidul. Sebagai perbandingan tahun 2017 lalu tidak ada yang mengalami puso lahan pertanian di Kabupaten Gunungkidul, 2018 ada 32 hektar yang mengalami puso, sedangkan pada tahun ini ada 1.918 hektar,” paparnya.

Ia menjelaskan pada akhir Mei kekeringan telah berdampak pada 400 hektar lahan pertanian di Gunungkidul, hingga saat ini jumlah luasan lahan yang terdampak semakin meluas yaitu mencapai 1918 hektar seluruh Kabupaten Gunungkidul.

Berita Lainnya  Pengunjung Tak Pakai Masker Akan Dilarang Masuk Pasar

“Puso diakibatkan karena curah hujan sudah tidak muncul lagi di Kabupaten Gunungkidul. Untuk tahun 2019 kali ini curah hujan sangat sedikit sekali karena pada curah hujan muncul baru pada bulan Desember 2018. Lalu pertengahan bulan April sudah tidak ada lagi curah hujan di Kabupaten Gunungkidul. Memang pada tahun ini iklim sangat berbeda dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya,” urai Bambang.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler