fbpx
Connect with us

Sosial

Gugur Gunung, Potret Semangat Gotong Royong yang Tetap Lestari di Gunungkidul

Published

on

Tanjungsari,(pidjar.com)–Gugur gunung adalah sebuah istilah di Gunungkidul yang menggambarkan semangat gotong royong di tengah masyarakat yang masih lestari sampai dengan saat ini. Budaya tersebut biasanya dapat dilihat ketika masyarakat berbaur menjadi satu di sebuah lokasi untuk bersama-sama menyelesaikan pekerjaan tanpa diberikan upah.

Seperti dapat dilihat di wilayah Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari, Minggu (13/09/2020) pagi tadi. Ratusan masyarakat dari 6 padukuhan berkumpul menjadi satu membuka akses jalan menghubungkan dua padukuhan yakni Padukuhan Jambu dengan Sangen II.

Dapat dilihat, pria maupun wanita baik muda maupun tua membaur menjadi satu. Apa yang mereka kerjakan pun terlihat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Nampak ada warga yang memecah batu menggunakan linggis dan palu, ada pula mereka yang mengangkat dan menata batu serta meratakannya. Para ibu-ibu juga bersemangat mengais tanah-tanah mengunung agar rata kemudian menutup rongga-rongga bebatuan.

Tak nampak dari mereka perasaan susah ataupun berat hati untuk melakukan pengerjaan pembukaan jalan itu. Pasalnya, mereka menyadari bahwa apa yang dikerjakan ini untuk mempermudah aktifitas mereka sendiri.

Berita Lainnya  Tempat Hiburan Malam dan Kota Wonosari Jadi Ladang Tersubur Peredaran Miras di Gunungkidul

Menariknya dalam kesempatan tersebut, salah satu bakal Calon Bupati Gunungkidul, Sunaryanta turut hadir di tengah-tengah masyarakat. Ia juga membagikan ratusan nasi bungkus dan dawet kepada para pekerja. Ia juga nampak berbaur tanpa canggung bersama masyarakat.

“Baru pertama ini dihadiri calon bupati, bisa duduk jejer bersama. Tentu sangat senang tadi juga difoto,” kata salah seorang warga Kasidi.

Sementara itu, Sunaryanta sendiri menyampaikan bahwa semangat gotong royong ini menjadi pondasi untuk Gunungkidul membangun. Dalam arti, budaya ini sangat berperan penting dalam kemajuan yang bermuara kepada kesejahteraan masyarakat.

“Semangat gotong royong gugur gunung ini mungkin hanya ada di Gunungkidul. Semangat kebersamaan penting untuk membawa Gunungkidul lebih baik,” ujar Sunaryanta.

Sunaryanta juga terheran dengan hadirnya lansia yang ikut gugur gunung tanpa terlihat rasa lelah dan semangat. Hal ini menurutnya juga dapat dipetik menjadi kaca untuk kaum muda agar terus semangat melestarikan semangat gotong royong untuk Gunungkidul kedepannya.

Berita Lainnya  Geramnya Sumiyati Tanahnya Dipasang Plakat Lelang Meski Tak Pernah Merasa Punya Hutang

Gotong royong atau gugur gunung sendiri merupakan cerminan warga Gunungkidul. Eros kerja tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan imbalan sangatlah melekat dalam kegiatan seperti ini, sejak dulu gugur gunung menjadi salah satu aktifitas yang menujukkan karakter sebagai warga Gunungkidul.

Sebagai informasi, Sunaryanta dalam satu hari ini bertemu dengan ribuan orang. Selain di Banjarejo, ia juga datang ke lokasi kebakaran yang menghanguskan rumah warga di Kalurahan Banyusoca. Di lokasi tersebut, ia juga melihat semangat gotong royong dan kepedulian dengan sesama, terlebih yang sedang dirundung lara akibat musibah kebakaran.

“Artinya dalam gotong royong dan gugur gunung ini ada kebersamaan, semangat kepedulian di tengah masyarakat, saya optimis, Gunungkidul membangun,” pungkas dia.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler