Sosial
Harga Cabai Melambung Tinggi, Petani Tetap Hanya Gigit Jari
Playen,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Kenaikan harga cabai dan beberapa jenis komoditas hortikultura di pasaran pada momentum Natal dan Tahun Baru kali ini tak sepenuhnya bisa dirasakan oleh kalangan petani. Seperti yang dialami oleh kalangan petani cabai di wilayah Kalurahan Gading, Kapanewon Playen. Pasalnya, meski harga cabai tengah naik, para petani hanya bisa gigit jari karena hasil panen pada akhir tahun ini yang kurang maksimal. Sehingga kenaikan harga yang terjadi sejak beberapa waktu terakhir ini tak sepenuhnya bisa mereka nikmati.
Diungkapkan oleh Antonius Marsudi Nugroho (35), Ketua Taruna Tani “Jaka Berek” Kalurahan Gading, Kapanewon Playen, harga komoditas cabai di tingkat petani saat ini memang sedang baik. Salah satu yang mengalami kenaikan cukup tinggi adalah cabai rawit merah yang berada pada kisaran Rp 65.000 sampai Rp70.000 per kilogramnya.
Melonjaknya harga cabai di pasaran sendiri dipengaruhi sedikit banyak oleh minimnya hasil produksi para petani. Cuaca yang buruk serta merebaknya penyakit anthraxnosa membuat panen memang menjadi tak maksimal. Penyakit tersebut menyebabkan cabai busuk dan kemudian hasilnya tidak bisa dipanen. Permintaan yang naik dan disusul dengan kenaikan harga tak bisa diimbangi para petani dengan hasil produksinya.
“Yang jelas karena cuaca, jadi penyakit yang timbul di tanaman cabai sulit untuk dikendalikan. Dengan kurangnya hasil panen ini, terkait dengan kenaikan harga cabai tidak berpengaruh banyak terhadap pendapatan petani,” keluh Marsudi, Minggu (02/01/2022).
Sebenarnya, sejak awal kemunculannya, segala upaya telah dilakukan guna membasmi penyakit tersebut. Namun menurut Marsudi, penyakit Anthraxnosa ini memang tergolong penyakit yang sulit untuk dikendalikan terutama pada saat musim hujan seperti ini.
Marsudi menambahkan, pada musim panen kali ini, omset yang ia dapatkan justru mengalami penurunan. Adapun hal tersebut karena jumlah cabai yang ia panen dan yang layak dijual tidak terlalu banyak.
“Tadinya panen bisa 18 kilogram sampai 20 kilogram setiap kali panen, sekarang cuma bisa setengahnya dan yang layak jual pun hanya 6 sampai 7 kilogram saja, yang lain busuk jadi tidak bisa di jual,” imbuh dia.
Dengan hasil panen yang sangat minim ini, tentu berpengaruh pada omset yang ia dapatkan. Saat ini, dari hasil panen cabai, omset yang ia dapat berkisar Rp 1.750.000. Di mana seharunya jika hasil panen maksimal, omset yang didapat dapat jauh lebih tinggi dibandingkan saat ini.
“Ketika harga cabai tinggi saat ini sebagai pengganti modal produksi yang beberapa waktu yang lalu harga anjlok dan saat ini harga tinggi karena memang populasi tanaman tidak banyak,” urai Marsudi.
Dirinya berharap ketika nanti ada kemungkinan harga anjlok kembali, pihak-pihak terkait bisa mencarikan solusi bagi petani dalam hal untuk menstabilkan harga dan kebutuhan pasar sehingga harga tidak fluktuatif. Dengan harga yang pasti, tentunya akan menjadi jaminan bagi para petani dalam berproduksi.
“Sehingga kita tak harus was-was,” lanjutnya.
Sementara itu Penyuluh Pertanian Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Wilayah Kalurahan Gading, Kapanewon Playen, Subekti menyampaikan, lonjakan harga cabai juga ditimbulkan karena sebelumnya harga cabai sempat anjlok. Sehingga kemudian minat para petani untuk menanam cabai berkurang drastis. Sehingga kala permintaan sedang banyak, komoditas cabai sangat terbatas.
“Apalagi covid 19 sudah mulai reda, wisata sudah mulai buka dan hajatan juga sudah diperbolehkan. Jadinya permintaan semakin meningkat sedangkan produksinya turun,” ujarnya.
Terkait dengan hasil panen yang tidak maksimal saat harga cabai tengah naik, dirinya menjelaskan bahwa pihak Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul juga sudah ikut berkontribusi dalam memberikan penyuluhan dan pemberian sarana produksi yang dibutuhkan oleh para petani.
“Dari Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul sendiri memberikan bantuan berupa sarana produksi, ada benih, ada mulsa dan sebagainya,” ucap Subekti.
-
Uncategorized3 hari yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Uncategorized2 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized3 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
event3 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Sosial2 minggu yang laluProfil AKBP Rosana, Kapolres Gunungkidul yang Pernah Ungkap Kasus 1 Ton Sabu
-
Pemerintahan2 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
-
Uncategorized3 minggu yang laluSempat Terdengar Mendengkur, Pria 30 Tahun di Siraman Justru Ditemukan Tak Bernyawa
-
Pariwisata2 minggu yang laluOnsen Resort Kaliurang, Tawarkan Pengalaman Menginap Bernuansa Jepang di Lereng Merapi
-
Pemerintahan2 minggu yang laluKekeringan Meluas, 92.055 Jiwa di Gunungkidul Terdampak Krisis Air Bersih
-
Uncategorized1 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Pemerintahan2 minggu yang lalu5 Kampung Nelayan Merah Putih Dibangun di Gunungkidul, Ditarget Rampung Desember
-
Uncategorized4 minggu yang laluCek Kualitas 6 Sumber Air Gunungkidul, BBWSSO Temukan Amonia hingga Coliform
