fbpx
Connect with us

Sosial

Hiburan Sexy Dancer Dalam Acara Resmi, Bawaslu: Itu Tidak Masuk Acara Kami

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Acara Gelar Kesiapan Pengawasan yang diselenggarakan oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Gunungkidul pada Rabu (22/01/2020) kemarin menuai kontroversi. Hadirnya suguhan sexy dancer dalam acara yang dihadiri oleh sejumlah pejabat Forkompimda termasuk diantaranya Bupati Gunungkidul, Badingah menuai banyak kecaman. Banyak yang menyebut bahwa hiburan ini tidak pantas untuk disajikan dalam ajang resmi semacam ini.

Terkait kontroversi ini, Bawaslu membantah bahwa sajian sexy dancer ini masuk dalam acara yang telah disiapkan oleh internal Bawaslu. Lolosnya acara ini lantaran adanya miss komunikasi antara Bawaslu dengan Event Organizer yang disewa untuk menyusun acara.

Pihak Event Organizer Parama, sebagai penyelenggara Gelar Kesiapan Pengawasan Bawaslu, Aris Budiyono mengaku, kala itu pihaknya tidak melihat gladi resik tarian yang dibawakan oleh talent dari Gunungkidul tersebut. Sehingga tidak mengetahui secara rinci kaitannya dengan jenis tarian yang akan dibawakan oleh penampil.

“Saat itu kami minta izin dengan protokoler menggunakan HT, kalau akan menampilkan tarian rekreasi dengan tajuk pengawasan, diizinkan tapi setelah acara ditutup,” beber Aris, Kamis (23/01/2020).

Menurut Aris, sebelumnya, pihak Bawaslu meminta kepada EO untuk mempersiapkan sajian tarian sebagai hiburan dalam acara yang digelar ini. Di mana tarian yang diinginkan Bawaslu yakni tarian yang mengakomodir talenta asli Gunungkidul.

“Requestnya memang modern dance, tapi kemudian terjadi miss komunikasi. Niat kami ingin menyajikan sesuatu yang beda, tapi jika pada akhirnya membuat tidak nyaman kami ucapkan permintaan maaf,” imbuh dia.

EO Parama sendiri mengajak kerjasama dengan talent secara personal. Saat latihan pun, EO juga tidak melakukan pantauan secara langsung. Menjelang perform, EO baru melakukan cheking. Merasa ada yang janggal karena pakaian para talent yang cukup minim, EO lantas meminta izin kepada protokoler. Hasilnya, sajian sexy dancer ini diizinkan ditampilkan namun setelah acara seremonial selesai.

“Dalam rundown, sajian tarian tersebut seharusnya dihelat sebelum acara sambutan, tapi kemudian berubah lantaran pihak protokoler tidak setuju,” jelas Aris.

Sementara itu, Ketua Bawaslu Gunungkidul Is Sumarso menjelaskan, pada Selasa (21/01/2020) malam, pihaknya sempat melakukan cheking kesiapan hingga pukul 00.00 WIB. Namun demikian keempat talent tersebut tidak hadir dalam gladi bersih.

“Setelah masuk acara, rundownnya sebelum sambutan tampil, kok tidak tampil kami mbatin, lha ada apa?,” kata Is.

Melihat busana talent, dikatakan Is, pihak Bawaslu sendiri mengaku cukup kaget. Pakaian yang dikenakan para talent disebutnya terlalu terbuka untuk ditampilkan di hadapan para pejabat dalam acara resmi.

“Kami menyayangkan adanya hal ini, tapi kamu juga mengapresiasi kepada langkah EO meminta izin kepada protokoler dulu dan tidak ditampilkan di acara inti,” imbuh dia.

Menurutnya banyak pertimbangan yang pada akhirnya penampilan tarian tersebut ditampilkan. Salah satunya adalah persiapan dari talent yang sudah latihan sejak jauh-jauh hari.

“Terlebih ini tidak masuk pada acara kami, setelah doa penutupan jadi saya rasa tidak masalah,” tandasnya.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler