fbpx
Connect with us

Peristiwa

Penampilan Sexy Dancer Dalam Acara Bawaslu Bikin Risih Para Pejabat

Published

on

Playen,(pidjar.com)–Badan Pengawas Pemilu melaksakan Gelar Kesiapan Pengawasan Pemilihan Kepala Daerah 2020 pada Rabu (22/01/2020) siang tadi. Dalam kegiatan ini turut hadir Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kabupaten Gunungkidul, Ketua Bawaslu DIY, dan Komisioner Bawaslu se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Bawaslu sendiri berkomitmen dalam pengawasan Pesta Demokrasi di tingkat daerah akan melakukan pendekatan yang berbudaya.

Meski bertajuk pendekatan yang berbudaya, acara ini sempat memancing kontroversi lantaran munculnya empat penari sexy yang disuguhkan panitia tepat di akhir acara. Entah lantaran risih atau apa, sejumlah tamu undangan pun memilih untuk meninggalkan acara saat para penari seksi dengan pakaian celana mini tersebut tampil. Beberapa lontaran kata-kata juga keluar dari sejumlah tamu undangan melihat suguhan ini.

“Ga tega saya lihatnya,” ungkap salah satu tamu sembari keluar ruangan, Rabu siang.

Tak ayal, tarian dengan durasi kurang lebih sepuluh menit itu sempat membuat heboh suasana di akhir acara. Selain celana mini yang dikenakan, tarian yang dibalut dengan nama rekreasi tersebut juga menampilkan gerakan yang cukup erotis.

Nampak anggota Forkompinda Gunungkidul memilih tidak terlalu melihat tarian ini. Memang, selain tamu dari perangkat desa, camat, kepolisian dan TNI, hadir pula siswa-siswi sekolah yang mewakili kaum milenial.

Saat dikonfirmasi, Humas Bawaslu, Rosita mengatakan, tarian tersebut di luar dari acara resmi. Suguhan tontonan ini disebutkannya di luar dari konsep acara dan merupakan kemasan dari Event Organizer yang disewa untuk penyelenggaraan acara.

“Kita semua kaget, awalnya cuma bilang akan ada dancer, untuk mewakili tamu pemilih pemula tapi gak ngecek sampai kostum yang dipakai,” ujar Rosita.

Terpisah, Ketua Bawaslu Gunungkidul, Is Sumarso mengatakan tarian tersebut hanya merupakan tambahan. Setelah dilihat tidak pas, maka ditampilkan setelah doa.

“Artinya bukan dari acara inti, dan hanya kreasi mungkin dilihat ada anak muda anak sekolah, ini juga kerjasama dengan EO,” beber Is.

Pada kesempatan tersebut, Bawaslu Gunungkidul juga mengeluarkan jinggle pengawasan Pemilu. Dengan pembuatan jingle tersebut terdapat pesan-pesan khusus berupa netralitas Aparatur Sipil Negara, TNI/Polri termasik pelanggaran lainnya.

“Kami ada dan siap menerima laporan terkait Pilkada,” imbuh Is.

Kendati demikian, dalam pelaksanaan pengawasan, Is akan mengedepankan pendekatan humanis dan berbudaya. Pihaknya juga dalam waktu dekat akan giat melakukan sosialisasi mengenai ketugasan Bawaslu.

“Dengan demikian diharapkan masyarakat paham tugas kami, dan jika ada yang sekiranya melanggar bisa segera dilaporkan,” beber dia.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul, Badingah memaparkan, dalam kontestasi Pilkada tahun 2020 ini, para calon pemimpin harus menggunakan cara-cara yang humanis untuk merebut hati rakyat. Cara yang humanis menurut Badingah dapat membuat masyarakat kian menyadari bahwa cara yang baik tidak melanggar untuk mendapatkan jabatan akan menentukan arah Gunungkidul menuju kemajuan.

“Saya kira masyarakat Gunungkidul sudah dewasa dalam berpolitik, bisa menentukan mana yang berkualitas dan tidak,” ucap Badingah.

Di samping itu, Badingah juga berpesan kepada Bawaslu agar senantiasa mengawasi sosial media. Yang mana selama ini sosial media bisa menjadi media penyebaran hoax bernada fitnah dan black campaign.

“Mari kita jadikan Pilkada sebagai sarana mencari pimpinan yang baik berkualitas dan berintegrasi mampu membawa arah Gunungkidul yang lebih maju lagi,” tandasnya.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler