fbpx
Connect with us

Sosial

Kembangkan Pertanian Lahan Kering, Sadimin Raup Ratusan Ribu Per Hari

Diterbitkan

pada

Ngawen,(pidjar.com)–Lahan kering di sekitar pekarangan rumah saat ini mulai banyak dilirik menjadi peluang usaha di bidang pertanian dan pangan. Selain sayur mayur, sejumlah petani juga memelihara bebek dan juga lele. Bahan-bahan pangan ini tentunya selain memiliki nilai ekonomi, juga bisa digunakan sebagai bentuk ketahanan pangan di lingkup keluarga.

Seperti petani di Banteng Wareng, Kalurahan Tancep, Kapanewon Ngawen. Di sebuah lahan milik Sadimin (47) terdapat 500 ekor bebek yang dipelihara di sekitar rumahnya. Memang jumlahnya cukup banyak sebab tanah pekarangannya juga cukup luas.

Di sana, ratusan ekor bebek tersebut dibagi di 4 petak yang tersambung. Dulu, kandang bebeknya tidak sebagus sekarang, masih terbuat dari bambu. Namun seiring kemajuan usahanya, kandang kandang bebek telah ditingkatkan mutunya dengan baja ringan.

Berita Lainnya  Tambahan Kasus Positif Corona di Gunungkidul, Dua Warga Wonosari Diisolasi di RSUD Wonosari

Selain untuk budidaya bebek petelur, sisa lahan yang ada dikembangkan oleh Sadimin untuk berkebun sayur dengan polybag serta budidaya lele dalam kolam kolam kecil di pinggir kebun sayur.

Dirinya juga membuat kolam kolam kecil berisi lele di pinggir kebun. Selain menghasilkan lele, juga sebagai penampung air sehingga dengan mudah menyuplai kebutuhan air untuk sayuran.

“Untuk sayur yang bernilai jual seperti terong, kol, sawi, dan cabai serta daun bawang,” kata Sadimin, Selasa (07/07/2020).

Berkaitan dengan pendapatan dari produksi telur bebek, Sadimin menjelaskan bahwa produksi setiap harinya mencapai 70% dari total populasi atau sekitar 350 butir telur bebek setiap harinya. Harga per butirnya antara Rp 1.600 sampai dengan Rp 1.900 tergantung besar kecilnya telur. Ia juga tidak kesulitan untuk menjual telur itu, sebab selama ini telur tersebut sudah ada yang menampungnya.

Berita Lainnya  Didominasi Pasar dan Rumah Tangga, Volume Sampah Meningkat Hingga 20%

“Sudah ada yang menampung dan membelinya,” kata dia.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto mengaku bahwa DPP telah mendatangi pekarangan Sadimin tersebut.

Menurut perhitungan keuntungannya, dalam sehari dia membutuhkan konsentrat dan bekatul sejumlah Rp 400 ribu untuk jumlah 500 ekor bebek. Sehingga jika penjualan telor mencapai Rp 665 ribu maka keuntungan dari telor dia dapatkan Rp. 265 ribu per hari, bersih.

“Kalau sebulan dia akan mendapatkan pendapatan sekitar Rp 7.950.000 bersih. Untuk budidaya bebek mulai produksi telur sejak umur 6 bulan dan produksi telur kurang lebih berlangsung hingga 2 tahun. Ini sangat menjanjikan tentunya,” ucap Bambang.

Bambang menjelaskan, keuntungan tersebut baru dari sektor bebek saja. Sedangkan di sana juga mampu memanen lele dan sayuran. Dalam praktik kesehariannya, kotoran bebek itu oleh Sadimin ditampung dan diolah dengan fermentasi menjadi pupuk untuk sayurannya. Sehingga dirinya tidak perlu lagi membeli pupuk untuk sayuran.

Berita Lainnya  Tenaga Kesehatan Banyak Terpapar Covid19, Layanan Rawat Inap Puskesmas 1 Semanu Ditutup Sementara

“Kami berharap kelompok wanita tani dapat berkunjung ke kelompok atau perseorangan yang telah berhasil memberdayakan pekarangan seperti pak Sadimin. Sehingga program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) dapat berkembang, dan meningkatkan pendapatan anggotanya selain menambah ketahanan pangan keluarga,” imbau Bambang.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler