Pemerintahan
Khotib Sholat Idul Fitri Dilarang Sampaikan Khotbah Berisi SARA dan Politik
Wonosari,(pidjar.com)– Selain mengeluarkan mengenai imbauan tentang larangan pelaksanaan takbir keliling dan penggunaan sound horeg, Kementerian Agama Gunungkidul juga mengeluarkan imbauan tentang materi khotbah atau ceramah yang perlu disampaikan oleh para khotib atau imam shalat Idul Fitri 1447H/2026 masehi. Para khotib dilarang untuk membawakan ceramah yang menyinggung SARA serta masuk ke ranah politik.
Kepala Kemenag Gunungkidul, Mukhotib mengatakan, pihaknya telah mengeluarkan surat atas materi khotbah yang perlu disampaikan kepada jamaah shalat Idul Fitri. Pihaknya meminta Khotib Shalat Idul Fitri di seluruh Gunungkidul untuk memberikan materi yang mengandung salam kebahagiaan, kerukunan dan perdamaian. Menurutnya hal ini penting disampaikan di tengah kondisi perbedaan yang ada. Sehingga dapat menciptakan kondisi daerah yang adem, ayem, toto, titi, tentrem.
“Para Dai kami minta untuk menyampaikan salam kebahagiaan lulus dari puasa Ramadan, semoga menjadikan diri kita menjadi orang yang takwa, menumbuhkan rasa saling menghargai persatuan, kesatuan, toleransi dan menjunjung tinggi persaudaraan walau di tengah perbedaan yang ada,” kata Mukhotib.
Pihaknya melarang keras para Dai memberikan materi khotbah yang menyinggung mengenai SARA, politik praktis dan yang berkaitan dengan perpecahan. Hal ini sangatlah dihindari untuk menjaga perdamaian, kerukunan dan persatuan di kalangan masyarakat.
“Pada prinsipnya materi khotbah Idul Fitri yang bersifat konstruktif dan adem ayem untuk kesatuan pembangunan dalam segala bidang di Gunungkidul,” jelasnya.

Lebih lanjut Mukhotib mengatakan, sesuai dengan amanat Bupati Gunungkidul, materi yang disampaikan saat khotbah Idul Fitri juga berhubungan dengan solusi problem sosial yang sering dihadapi oleh masyarakat saat ini. Mulai dari membentuk keluarga dan masa depan yang lebih tertata, menghindari bahaya minuman keras, menghindari judi online, menghindari pinjaman online serta jualan gelap.
Mengingat hal-hal tersebut cukup meresahkan dan memberikan dampak negatif pada diri sendiri, keluarga hingga masa depan.
“Tantangan saat ini dalam menjaga kerukunan dan perdamaian, membentuk keluarga dan masa depan yang bahagia, merawat jiwa dan keperdulian sosial serta menjaga keselamatan jiwa,” pungkasnya.
-
Uncategorized6 hari yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized4 minggu yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized4 minggu yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized4 minggu yang laluLurah di Gunungkidul Kompak Enggan Teken Berita Acara Serah Terima Aset KDMP, Ada Apa?
-
Uncategorized4 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized4 minggu yang laluCiptakan Pilur Jujur dan Bersih, Dinas Awasi Lurah Petahana
-
Uncategorized4 minggu yang laluLansia Asal Ponjong Ditemukan Gantung Diri di Kandang
-
Uncategorized3 minggu yang laluSakit Hati Sering Diejek Ketika Memulung Sampah, 2 Remaja Putri Nekat Bakar Sekolah
-
Uncategorized4 minggu yang laluGelombang Tinggi di Pesisir Gunungkidul, Rusak Perahu Nelayan Hingga Warung
-
Uncategorized2 minggu yang laluSempat Diancam Akan Dilindas Lehernya, Dua Remaja Babak Belur Dihajar Kelompok Pemuda Silat
-
Uncategorized3 minggu yang lalu9.000 Penerima Bansos Gunungkidul Disetop karena Terindikasi Judi Online
-
Uncategorized4 minggu yang laluDua SPPG di Gunungkidul Belum Kantongi SLHS
