Pemerintahan
Serangan Hama Tikus Sempat Marak Pada Mei, Pemkab Intensifkan Pemberantasan Dari Predator Alami Hingga Metode Pengasapan
Wonosari,(pidjar.com)– Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus memperkuat upaya pengendalian hama tikus agar tidak merugikan para petani tanaman pangan. Berbagai metode dilakukan untuk pengendalian hama tersebut. Diantaranya adalah dengan melepaskan dan mengembangkan predator alami berupa burung hantu Tyto alba. Selain itu, metode penggunaan petasan asap serta racun tikus juga masih terus digalakkan sebagai program pemerintah.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi mengatakan hama tikus merupakan hama yang cukup meresahkan bagi petani di Gunungkidul. Jika terjadi serangan cukup banyak, maka hasil panen tanaman pangan para petani dapat berkurang cukup banyak. Untuk itu, pemerintah mengintensifkan gerakan pengendalian hama tikus ini.
“Pagi tadi kami lepaskan 2 burung ha tu Tyto Alba di kawasan Karangmojo dan Bendung, Semin. Ini merupakan program tahunan pemerintah dan telah berjalan 3 tahun,” kata Rismiyadi, Rabu (15/07/2026).
Program ini dinilai mampu membantu menekan populasi tikus secara alami. Saat ini, rumah burung hantu telah dikembangkan di beberapa wilayah seperti Banaran Kapanewon Playen dan Ponjong.
Selain dengan pelepasan predator, pemerintah juga mengintensifkan gerakan pengendalian menggunakan metode empos (pengasapan), petasan asap, serta umpan racun tikus di wilayah yang mulai terindikasi mengalami serangan.
“Program pengendalian secara alami dengan burung hantu dan metode lain masih terus berjalan. Sampai saat ini kondisi serangan tikus relatif masih terkendali,” ujarnya.
Pada Mei lalu sempat ditemukan peningkatan serangan di beberapa lokasi sehingga pemerintah segera menyalurkan bantuan rodentisida kepada kelompok tani.
“Untuk sekarang Alhamdulillah tidak ada laporan signifikan. Petani sudah selesai panen jagung dan kacang, kalau untuk padi hanya sebagian kecil saja yang saat ini produksi dan tergolong aman dari serangan hama,” tandas dia.
Beberapa waktu lalu, Wakil Bupati Gunungkidul Joko Parwoto memimpin langsung gerakan pengendalian hama tikus menggunakan metode empos bersama petani di wilayah Natah, Kapanewon Nglipar. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari gerakan pengendalian serentak untuk melindungi tanaman padi sekaligus menekan risiko penyebaran penyakit leptospirosis.
Menurutnya, metode empos dipilih karena lebih ramah lingkungan dibanding penggunaan racun secara berlebihan. Teknik tersebut mampu membunuh tikus di dalam sarangnya sehingga tidak meninggalkan bangkai yang berpotensi membahayakan predator alami seperti burung hantu.
“Dengan upaya yang dilakukan ini diharapkan serangan hama tikus tetap terkendali dan menekan populasi tikus tanpa merusak keseimbangan ekosistem pertanian,” ucap Joko Parwoto.
-
Uncategorized4 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized3 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized5 hari yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized3 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelor Berubah, Kelor Berbenah, Wayahe Ganti Lurah
-
Uncategorized3 minggu yang laluPintu Depan Terkunci, Suami Temukan Istri Meninggal
-
Uncategorized4 minggu yang laluKelok 18 Dibuka Uji Coba, Rest Area Baru Bisa Dipakai Sekitar Setahun Lagi
-
Uncategorized4 minggu yang laluPeduli Kekeringan, GUBUK dan DWP BRIN Salurkan 37 Tangki Air Bersih untuk Warga Gunungkidul
-
Uncategorized1 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Uncategorized3 minggu yang laluPemkab Gunungkidul Mulai Gunakan BTT Rp1,3 Miliar untuk Atasi Kekeringan
