fbpx
Connect with us

Pariwisata

Menelusuri Sejarah Terbentuknya Gunungkidul dan Pulau Jawa Dengan Berkunjung ke Etalase Taman Batu Ngingrong

Diterbitkan

pada tanggal

Wonosari,(pidjar.com)–Keberadaan Etalase Taman Batu Ngingrong yang berlokasi di jalur wista yakni di Desa Mulo, Kecamatan Wonosari terus dioptimalkan oleh Pemerintah Kabupaten Gunungkidul khususnya Dinas Pariwisata. Obyek wisata yang dibangun sejak beberapa tahun lalu ini sampai saat ini memang masih sepi kunjungan. Padahal, Etalase Taman Batu Ngingrong ini dapat menjadi salah satu pilihan berwisata dengan konsep wisata edukatif.

Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul, Harry Sukmono mengatakan, lokasi Etalase Taman Batu Ngingrong ini sebenarnya cukup strategis. Pasalnya lokasi ini tepat berada di jalur wisata. Jika para wisatawan bosan berkunjung ke obyek wisata layaknya air terjun, goa ataupun pantai, bisa memilih wisata sejarah ini. Pasalnya ada beragam edukasi yang bisa didapatkan saat berkunjung ke Etalasi Taman Batu Ngingrong.

Di sini, terdapat ratusan bebatuan berbagai jenis yang berasal dari kawasan Gunungsewu Unesco Global Geopark. Beragam batuan ini tak hanya berasal dari Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan saja, melainkan koleksi bebatuan ataupun fosil dari Kebumen, Jawa Tengah dan beberapa daerah lainnya pun juga dipajang di etalase ini.

Berita Lainnya  Infrastruktur Masih Buruk, Investor Pariwisata Tetap Semangat Tanamkan Modalnya di Gunungkidul

“Bisa jadi pilihan mengisi libur panjang akhir tahun ini. Pengunjung bisa belajar sejarah terbentuknya Gunungsewu maupun Pulau Jawa,” kata Harry Sukmono, Senin (23/12/2019).

Lebih lanjut ia mengatakan, pada bangunan ini terdapat 20 jenis bebatuan alam yang dikoleksi. Jumlah ini menurut Harry masih belum secara keseluruhan mencakup batuan yang ada di Gunungsewu. Pasalnya di kawasan bentang ini, memiliki 80 hingga 90an jenis batuan. Terdapat beberapa temuan seperti misalnya fosil biota laut, fosil kayu hingga batuan-batuan lainnya.

Dari Gunungkidul mayoritas temuan fosil yang dilindungi yakni fosil biota laut, mengingat Gunungkidul dulunya merupakan sebuah gunung yang berada di bawah permukaan laut sekitar 40 meter.

“Di Kali Ngalang itu juga kami lindungi, ada fosil-fosil biota laut yang ada di kawasan itu,” tambahnya.

Dalam pengumpulan fosil-fosil tersebut ada beberapa yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Mulai dari hunting bersama tim, tukar dengan wilayah lain maupun diberikan secara sukarela oleh masyarakat yang memiliki koleksi. Jumlahnya pun terus bertambah seiring berkembangnya daerah.

Berita Lainnya  Pantai Nglangkap, Pesona Pantai Perawan Dengan Banyak Terumbu Karang

“Dengan kondisi yang sesederhana ini etalase taman batu sudah dibuka dan dioptimalkan. Belakangan ini sudah ada pengunjung yang masuk untuk belajar sejarah,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Jaringan Geopark Indonesia, Budi Martono menjelaskan, berbagai langkah untuk promosi pengenalan Geopark Gunungsewu terus dilakukan oleh jajarannya dan.pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Tak hanya Etalase Taman Batu yang dioptimalkan, melainkan di Tourist Information Center yang berada di bekas Kantor Kecamatan Patuk pun juga ikut mempromosikan obyek wisata edukasi ini.

Jika di TIC merupakan tempat yang untuk mendapatkan informasi secara digital. Kemudian untuk di etalase merupakan pengenalan di out door. Sehingga langkah-langkah pengenalan pun terus dilakukan.

“Tentu berkesinambungan. Jadi untuk di TIC hanya sekilas pemahaman dengan digital, kemudian etalase ini merupakan visualnya secara nyata,” ujar dia.

Nantinya pengoptimalan wisata sejara ini akan terus dilakukan. Koleksi sendiri juga akan terus ditambah agar sejarah yang ada benar-benar dapat diketahui secara umum.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler