Sosial
Meski Tak Meriah, Warga Pesisir Tetap Gelar Sedekah Laut
Tanjungsari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Setiap menjelang pergantian tahun baru Islam, atau 1 Suro warga di kawasan pesisir selatan tepatnya Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari selalu menggelar upacara adat sedekah laut. Pada tahun sebelumnya, upacara selalu meriah dengan melabuh sejumlah sesaji gunungan sebagai wujud syukur. Namun pada tahun ini dikemas jauh dari kesan meriah.
Masih dalam upaya pencegahan penularan covid-19, upacara sedekah laut digelar di Pantai Kukup, Rabu (19/08/2020) dengan konsep yang sederhana. Jika tahun 2019 lalu, ada delapan gunungan yang dilarung, tahun ini hanya ada satu. Tumpeng nasi, buah, kelapa hijau, ingkung ayam utuh dan anekaragam pacitan (camilan), pohon asam hidup yang cukup kecil dan kembang tujuh rupa tertata di sebuah kotak yang mirip dengan miniatur rumah.
Warga yang hendak menghantarkan gunungan menuju bibir pantai menggunakan busana jawa lengkap. Dengan diatur jarak sekitar semeter dan menggunakan masker, mereka berjejeran di sisi utara lokasi parkir pantai. Sebelum diarak, sesaji didoakan terlebih dahulu. Begodo yang mengiring yang biasanya belasan personil hanya empat personil.
“Memang ini wujud rasa syukur kami, meskipun di tengah pandemi, masih ada kesempatan mendalatkan hasil laut yang berlimpah,” ucap salah satu tokoh masyarakat Pantai Kukup, Muji seusai acara.
Ia menyebut, upacara adat sedekah laut yang biasanya meriah dan disediakan hiburan, tahun ini memang hanya melibatkan 16 orang warga lokal. Sehingga acara ini tetap sakral dan terhindar dari kerumunan.

“Memang kami masih dalam rangka mencegah penyebaran virus corona,” kata dia.
Menurutnya, acara tradisi satu suro yang akan jatuh pada Kamis esok dengan sedekah laut ini tidak bisa ditinggalkan. Di tengah pandemi ini, warga sebenarnya sempat dilema.
“Di sisi lain ini wujud syukur, tradisi kita tapi di sisi lain kok takut ada kerumunan,” imbuh Muji.
Hingga akhirnya, warga memutuskan hanya membawa satu gunungan dan diarak ke bibir Pantai Kukup. Meskipun sederhana namun nuansa sakral sangat terasa
Sesampainya di bibir laut, pemangku adat setempat kemudian menyalakan obor yang diberi kemenyan. Iring-iringan pembawa gunungan kemudian menundukkan kepala. Mereka berdoa sebelum melarung gunungan yang sudah disiapkan.
“Dalam sedekah laut ini, terselip harapan kondisi segera pulih, sehingga masyarakat disini ekonominya segera membaik,” tutup Muji.
-
Pemerintahan3 minggu yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Uncategorized3 minggu yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Peristiwa3 minggu yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Peristiwa3 minggu yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized3 minggu yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Uncategorized2 minggu yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized4 minggu yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Uncategorized4 minggu yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized2 minggu yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized2 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized3 minggu yang lalu83 Tukik Dilepas ke Laut, Bupati Gunungkidul Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Penyu
-
Uncategorized2 minggu yang laluLurah di Gunungkidul Kompak Enggan Teken Berita Acara Serah Terima Aset KDMP, Ada Apa?
