fbpx
Connect with us

Sosial

Pergeseran Budaya Wedangan Masyarakat Gunungkidul, Dari Teh Poci, Beralih ke Kopi

Diterbitkan

pada

BDG

Wonosari, (pidjar.com)–Seiring berkembangnya zaman, kebiasaan masyarakat juga mengalami perubahan. Salah satunya ialah mulai terbiasanya masyarakat khususnya kalangan pemuda yang menghabiskan waktu di warung kopi untuk menyelesaikan pekerjaan ataupun mendiskusikan suatu hal. Perubahan kebiasaan tersebut ditunjukkan oleh mulai banyaknya warung ataupun kedai kopi yang mulai menjamur di Gunungkidul, khususnya di Wonosari sebagai wilayah sub urban.

Adapun tradisi wedangan sendiri memang tak bisa lepas dari kebiasaan masyarakat Gunungkidul. Di berbagai tempat maupun waktu, wedangan menjadi salah satu cara masyarakat Gunungkidul dalam berinteraksi.

Salah satu pengusaha warung kopi, Franstella Rengga Andi, berpendapat, mulai menjamurnya warung kopi di Gunungkidul tak terlepas dari banyaknya pemuda yang membawa kebiasaan dari luar daerah ke Gunungkidul. Ia mencontohkan, banyaknya mahasiswa asal Gunungkidul yang berada di Yogyakarta. Kebiasaan mereka saat berada di Yogyakarta tentunya akan secara tidak langsung terbawa ke Gunungkidul termasuk kebiasaan berkunjung ke warung kopi.

Berita Lainnya  Perhatian Pemerintah Untuk Lansia Gunungkidul Masih Belum Maksimal

“Perkembangannya dibarengi dengan pergerakan manusia, banyak mahasiswa asal Gunungkidul yang membawa budaya atau kebiasaan pergi ke warung kopi dibawa pulang ke Gunungkidul. Dengan adanya itu kan mereka membawa gaya ngopi masing-masing.” ucap Andi, sapaan akrabnya, Senin (29/11/2021).

Menurutnya, bukan hanya mahasiswa saja yang membawa kebiasaan pergi ke warung kopi, namun juga masyarakat yang mencari kerja di wilayah urban. Ia menyampaikan jika sebenarnya Wonosari ialah kota teh. Di mana masyarakatnya cenderung lebih familiar dengan minuman jenis teh. Hal tersebut dibuktikan dengan sebelum menjamurnya warung kopi seperti saat ini, masyarakat lebih memilih pergi ke warung-warung teh poci.

“Karena juga alih generasi muda semakin banyak, itu juga butuh sarana prasarana untuk nongkrong. Mencari tempat yang tepat untuk sekedar nyantai, ngumpul, yang segmennya kelasnya agak menengah ke atas,” sambungnya.

Lebih lanjut, Andi mengatakan, menjamurnya warung kopi saat ini tak terlepas dari sebuah film yang mengangkat tentang jenis-jenis kopi di Indonesia beberapa tahun lalu. Setelah film tersebut meledak, gaya hidup tentang kopi mulai masuk ke masyarakat bahkan hingga ke pelosok-pelosok desa.

Berita Lainnya  Diwarnai Tanjakan dan Tikungan Ekstrim, Banyak Kendaraan Mogok di Jalur Alternatif Ini

“Bahkan sekarang itu kan banyak warung-warung kopi di pelosok desa,” terangnya.

Ia melihat hal tersebut merupakan sebuah potensi untuk mengembangkan sebuah bisnis warung kopi Singo di Jalan KRT Judodiningrat, Seneng, Siraman, Wonosari. Ia tak menampik jika saat ini kompetitor warung kopi di Gunungkidul belum sebanyak di Yogyakarta. Sehingga, pasar yang ada masih cukup besar. Meskipun beberapa warung kopi mulai bermunculan, ia harap dapat turut serta mengedukasi masyarakat terkait keberadaan kekayaan kopi di Nusantara.

“Selama ini kan yang diketahui tentang kopi itu yang hasil dari pabrikan, karena murah dan mudah dijumpai. Kalau mengenalkan kopi yang asli tanpa campuran kan perlu edukasi yang tepat, perlu pendekatan yang tepat juga. Itu tantangannya.” tutupnya.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler