event
Prambanan Jazz 2026 Usung “Celebrate the Joy”, Padukan Musik, Seni Rupa, dan Wayang Kontemporer
Jogja,(pidjar.com)–Prambanan Jazz Festival 2026 menghadirkan pengalaman baru dengan menggabungkan musik, seni rupa, dan seni pertunjukan dalam satu ruang perayaan. Mengusung tema Celebrate the Joy, festival yang digelar di kawasan Candi Prambanan itu ingin menjadi ruang bagi setiap orang untuk menikmati seni dalam berbagai bentuk sekaligus menghadirkan suasana “pulang ke rumah”.
Founder Prambanan Jazz, Anas Syahrul Alimi, mengatakan tema tersebut dipilih karena festival bukan sekadar tempat menikmati konser, tetapi juga ruang yang menghadirkan kegembiraan bagi semua orang.
“Tahun ini kami mengusung tema Celebrate the Joy di mana kami merayakan kegembiraan. Sebuah festival haruslah menyenangkan, semuanya harus bisa bersenang-senang. Kami memposisikan Prambanan Jazz layaknya sebuah rumah untuk pulang,” ujar Anas dalam konferensi pers di Candi Prambanan (2/7).
Konsep “rumah” tersebut diwujudkan melalui berbagai elemen artistik yang tersebar di area festival. Untuk pertama kalinya, Prambanan Jazz menggandeng perupa internasional Eko Nugroho sebagai commissioned artist yang bertanggung jawab menghadirkan instalasi visual bagi para pengunjung.
Anas mengungkapkan, kolaborasi itu telah lama direncanakan sejak 2019 dan baru dapat terealisasi pada penyelenggaraan tahun ini.

“Saya sengaja menggandeng seniman kebanggaan Jogja yang sudah berkiprah di dunia internasional, Mas Eko Nugroho, sebagai commissioned artist. Alhamdulillah, saya sudah mengincar beliau sejak tahun 2019, dan akhirnya tahun ini bisa terwujud,” katanya.
Menurut Anas, kehadiran karya Eko menjadi dialog antara warisan budaya masa lalu dengan seni kontemporer masa kini.
“Candi Prambanan adalah karya seni kontemporer masa lalu yang kini direspons secara kontemporer oleh Mas Eko Nugroho. Itu sangat luar biasa,” ujarnya.
Selain memperkuat unsur seni visual, Prambanan Jazz juga melakukan pembaruan pada konsep musikalnya. Tahun ini, posisi kurator diisi oleh Shadu Rasjidi yang menyusun program Playing Jazz, yakni menghadirkan musisi lintas genre untuk mengaransemen ulang karya mereka dalam nuansa jazz.
“Ada Perunggu dan beberapa musisi lain yang genre utamanya bukan jazz, namun kami minta untuk mengaransemen konsep musik mereka menjadi jazz,” jelas Anas.
Ia menyebut sekitar 63 persen konten festival tahun ini mengandung unsur jazz. Selain menghadirkan pianis muda Joey Alexander dari Amerika Serikat, festival juga akan mempertemukan Joey dengan Dewa Budjana dan Natasha Socius dalam sebuah kolaborasi khusus.
Sementara itu, Eko Nugroho mengaku kolaborasi dengan Prambanan Jazz berawal dari rasa saling mengagumi karya masing-masing antara dirinya dan Anas.
“Sama-sama saling penasaran, ternyata tidak ada yang menghubungkan. Pada akhirnya kita ketemu dan gayung bersambut, proyeknya baru bisa terealisasi untuk tahun 2026,” kata Eko.
Baginya, Prambanan Jazz merupakan fenomena festival yang unik dan membanggakan karena tumbuh di Yogyakarta. Berangkat dari tema “pulang”, Eko menghadirkan karya visual yang mengajak pengunjung merasakan perjalanan emosional sejak memasuki area festival.
“Sebagai penunggu rumah karena saya juga asli Jogja, makanya saya menyambut yang pulang ke rumah ini dengan karya-karya visual saya,” ujarnya.
Melalui konsep Celebrate the Joy, Eko membagi pengalaman pengunjung ke dalam dua atmosfer berbeda. Area gerbang festival akan didominasi karya hitam putih yang terinspirasi dari kain poleng di Bali sebagai simbol penyucian sebelum memasuki ruang perayaan.
“Di pintu masuk para tamu akan ‘dibersihkan’. Seperti ada ritual kecil dengan visual karya saya yang hanya menampilkan warna hitam putih,” katanya.
Menurut Eko, warna monokrom menjadi simbol harapan sekaligus refleksi terhadap realitas sosial yang selama ini banyak hadir dalam karya-karyanya.
“Hitam putih menjadi bagian pembuka dan selamat datang bagi para tamu. Di situ akan tampak banyak visual yang merespons joy dengan cipratan, ekspresi, visual-visual yang membuncah dan kadang terasa seperti bersuara,” ujarnya.
Setelah melewati gerbang, pengunjung akan memasuki ruang festival yang dipenuhi instalasi penuh warna sebagai simbol keberagaman, demokrasi, dan kebahagiaan.
“Kita akan masuk ke dunia yang penuh warna-warni. Dunia yang sangat demokratis. Kita merayakan kebahagiaan secara realistis dengan warna-warna yang muncul dari perbedaan yang ada,” tutur Eko.
Ia menegaskan karya yang dihadirkannya bukan sekadar dekorasi, melainkan bagian dari pengalaman artistik yang melibatkan publik.
“Para tamu bisa merasakan bahwa ini sebuah perayaan kesenian yang utuh dan kompleks. Tidak hanya tentang seni suara, tetapi juga seni rupa dan visual art dengan publik menjadi bagian dari karya itu sendiri,” katanya.
Tak hanya menghadirkan instalasi visual, Eko juga membawa proyek Wayang Bocor, pertunjukan wayang kontemporer yang telah dikembangkannya sejak 2008 sebagai media penyampaian kritik dan pesan sosial.
“Wayang Bocor sebenarnya pentasnya di desa-desa, tapi karena responsnya meluas akhirnya banyak tempat yang kami isi. Tahun 2017 kami bahkan sempat pentas di New York,” ungkapnya.
Di Prambanan Jazz 2026, Wayang Bocor akan tampil sebagai pembuka utama setiap malam di panggung utama pukul 20.00 WIB. Hari pertama menampilkan pertunjukan murni Wayang Bocor, hari kedua berkolaborasi dengan koreografer Eko Supriyanto, dan hari terakhir bersama maestro tari Didik Nini Thowok.
“Ini sebuah kolaborasi yang sifatnya membaur dan penuh kejutan khas Wayang Bocor. Nanti akan ada wayang-wayang yang saya kreasikan khusus untuk pentas di Prambanan Jazz yang ukurannya raksasa,” tutup Eko.
Melalui perpaduan konser musik, instalasi seni, hingga pertunjukan wayang kontemporer, Prambanan Jazz 2026 berupaya memperluas makna festival sebagai ruang perjumpaan lintas disiplin seni. Tak hanya menghadirkan hiburan, festival ini juga menawarkan pengalaman artistik yang mengajak pengunjung merayakan keberagaman, kreativitas, dan kegembiraan dalam satu perhelatan budaya.(Rosa)
-
Kriminal2 minggu yang laluDisiksa Dari Dipukuli Hingga Lukanya Dilumuri Garam, Remaja 17 Tahun Mengaku Sempat Diancam Ditembak Oknum
-
Peristiwa2 minggu yang laluPerempuan Muda di Ponjong Ditemukan Meninggal Dunia dengan Seutas Tali Dipohon
-
Sosial2 minggu yang laluKisah Sedih Andheng Pasca Kecelakaan, Saat di RS Nurohmah Hanya Dijahit Telinga, Ternyata Patah Tulang Belakang dan Terancam Lumpuh
-
Peristiwa4 minggu yang laluLaka Maut Dinihari, Pemotor Tewas Dihantam Pick Up
-
Uncategorized7 hari yang laluMBG Libur, Harga Sembako Mulai Turun Drastis
-
Pemerintahan1 minggu yang laluDinas Bongkar Upaya Kecurangan Pendaftar SMP N 1 Wonosari, Dari ASN Manipulasi Data Bansos Hingga Gunakan Sertifikat Palsu
-
Uncategorized3 minggu yang laluHeboh Bola Api Berekor Panjang Melintas di Langit Gunungkidul, Warga Kaitkan dengan Pulung Gantung Jelang Bulan Suro
-
Peristiwa4 minggu yang laluPeriode Maut Jalanan Gunungkidul, Ratusan Kecelakaan Puluhan Korban Meninggal Dunia
-
Pemerintahan4 minggu yang laluPrihatinnya Kalangan Dewan, Pelaku Bunuh Diri Mulai Merambah Remaja Hingga Anak
-
Peristiwa2 minggu yang laluDalam Posisi Terduduk, Lansia 81 Tahun Ditemukan Gantung Diri di Belakang Rumah
-
Hukum4 minggu yang laluTagih Utang Rp350 Ribu Berbuntut Panjang, Polisi Amankan 5 Orang dan 2 Sajam
-
Peristiwa7 hari yang laluRS Nur Rohmah “Cuek” di Tengah Operasi-operasi Yang Harus Dijalani Andheng, Keluarga Pilih Tempuh Jalur Hukum
