Pemerintahan
Rupiah Melemah, Harga Oli dan Onderdil Motor di Gunungkidul Naik hingga 30 Persen
Wonosari, (pidjar.com)- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan pelaku usaha dan masyarakat di sektor otomotif. Dalam sekitar tiga pekan terakhir, harga oli mesin dan berbagai onderdil sepeda motor di Kabupaten Gunungkidul mengalami kenaikan cukup signifikan. Kenaikan bahkan mencapai 20 hingga 30 persen.
Kondisi tersebut dikeluhkan pemilik bengkel maupun konsumen karena berdampak langsung pada biaya perawatan kendaraan. Akibatnya, banyak pemilik sepeda motor memilih menunda penggantian komponen yang dianggap belum terlalu mendesak.
Pemilik bengkel di Kapanewon Wonosari, Supriyono, mengatakan kenaikan harga paling terasa terjadi pada produk oli mesin. Menurutnya, hampir seluruh merek mengalami penyesuaian harga dalam beberapa minggu terakhir.
“Konsumen sekarang lebih mirit, yang penting ganti oli dulu. Kalau ada komponen lain yang masih bisa dipakai, biasanya ditunda,” ujar Supriyono saat ditemui, Selasa (23/6/2026).
Ia menjelaskan, oli standar yang sebelumnya dijual di kisaran Rp30 ribuan kini naik menjadi sekitar Rp38 ribu per botol. Sementara oli kategori menengah yang sebelumnya dibanderol sekitar Rp52 ribu kini mencapai Rp75 ribu per botol.
“Naiknya berbeda-beda tergantung merek dan jenis oli, tapi hampir semuanya mengalami kenaikan,” katanya.
Tak hanya oli, sejumlah suku cadang sepeda motor juga ikut terdampak. Harga busi, aki hingga ban luar tercatat mengalami kenaikan sehingga membuat biaya servis kendaraan menjadi lebih mahal dibanding sebelumnya.
Menurut Supriyono, kondisi tersebut membuat konsumen semakin selektif dalam melakukan perawatan kendaraan. Mereka cenderung hanya mengganti komponen yang benar-benar sudah rusak atau berpotensi mengganggu keselamatan berkendara.
“Dampaknya jelas, konsumen hanya mengganti bagian yang benar-benar penting karena harganya sama-sama naik,” ungkapnya.
Di sisi lain, salah seorang warga Wonosari, Suyati, mengaku terpaksa menunda penggantian sejumlah suku cadang kendaraan miliknya karena harus memprioritaskan kebutuhan rumah tangga.
Menurutnya, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan berbagai kebutuhan pokok turut menekan kondisi ekonomi keluarga sehingga anggaran perawatan kendaraan harus dikurangi.
“Terpaksa menunda penggantian suku cadang karena dananya lebih dibutuhkan untuk kebutuhan lain, meskipun risikonya kendaraan bisa mengalami kerusakan yang lebih parah,” tuturnya.
-
Uncategorized1 minggu yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized2 minggu yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya1 minggu yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized1 minggu yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Uncategorized2 hari yang laluKnalpot Brong Jadi Incaran Khusus Operasi Patuh Progo 2026
-
Sosial1 minggu yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized1 minggu yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized1 minggu yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
Uncategorized4 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Pemerintahan4 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
-
Uncategorized3 minggu yang laluKonser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196 Raup Rp124 Juta, Donasi Sepenuhnya Untuk Droping Air
-
Uncategorized5 hari yang laluDua Oknum Kejaksaan di Gunungkidul Diduga Terlibat Skandal Asusila
