Connect with us

Pemerintahan

Tiga Kecamatan di Gunungkidul Masuk Kategori Miskin, Saptosari Paling Tidak Sejahtera

Diterbitkan

pada

Wonosari,(pidjar.com)–Pengangguran dan kemiskinan masih menjadi permasalahan sosial yang saat ini membelenggu masyarakat Gunungkidul. Pemerintah sendiri terus mengupayakan penuntasan masalah sosial yang terus terjadi ini. Berdasarkan analisis data yang diolah Pemda DIY dan Badan Pusat Statistik (BPS), di Kabupaten Gunungkidul masih terdapat 3 kecamatan yang masuk dalam kategori daerah miskin yaitu Kecamatan Saptosari, Tanjungsari dan Gedangsari. Data tersebut mengacu pada hasil analisa bedasarkan status kesejahteraan individu per wilayah.

Adapun Kecamatan Satposari diklaim menjadi daerah dengan tingkat kesejahteraan yang sangat rendah yakni dengan status kesejahteraan penduduknya hanya 67,47 persen. Kemudian disusul oleh kecamatan Tanjungsari dan Gedangsari. Sejumlah program pembangunan dan pemberdayaan pun terus difokuskan pada tiga kecamatan ini sehingga diharapkan mampu membawa perubahan terhadap masyarakatnya.

Selama beberapa tahun ini, pemerintah telah berupaya semaksimal mungkin dalam mengurangi angka kemiskinan di Gunungkidul. Tahun 2019 mendatang, terdapat 7 kecamatan yang tengah berkonsentrasi dalam penurunan angka kemiskinan.

Kepala Bappeda Gunungkidul, Sri Suhartono mengungkapkan, beberapa program terus digelontorkan oleh pemerintah daerah kepada masing-masing kecamatan guna meningkatkan pembangunan dan pemberdayaan. Beberapa waktu lalu program jambanisasi serta pemberdayaan lain memang difokuskan di Kecamatan Saptosari dan Gedangsari. Hal itu mengacu dengan kondisi masyarakatnya yang masih masuk dalam kategori miskin.

Berita Terkait  Nekat Sembelih Sapi Betina Produktif Diancam Denda Ratusan Juta

“Ada beberapa program yang kami fokuskan di daerah itu. Ya memang untuk penuntasan permasalahan ini kami sangat perlu bekerja ekstra dan dukungan dari masyarakat,” ungkap Sri Suhartono, Selasa (06/11/2018) sore kemarin.

Adapun dari masing-masing Organisasi Perangkat Daerah juga harus menyadari secara pasti tugas dan kewajiban mereka. Sehingga dalam penuntasan permasalahan ini dapat dilaksanakan secara bersama-sama. Gelontoran program dan dana pun terus diberikan agar nantinya angka kemiskinan di Gunungkidul dapat secara maksimal turun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Terpisah, Djarot Hadiadmojo, Camat Saptosari mengungkapkan, menyadari wilayahnya masuk dalam kategori termiskin, sejumlah program pun terus digenjot oleh masyarakat dan pemerintah kecamatan serta desa demi meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakatnya. Sejak beberapa tahun terakhir, geliat perekonomian dan lainnya telah mengalami kemajuan. Masyarakat pun mulai sadar dengan melejitnya pariwisata di Gunungkidul.

Berita Terkait  BPK Sambangi Pemkab Gunungkidul, Audit Apa?

Terbukti program-program pemerintah berkaitan dengan pembangunan dan pemberdayaan terus maju. Sektor pariwisata terus bermunculan menawakan pesona masing-masing, produk masyarakat juga telah muncul dan memiliki nilai jual tersendiri.

“Kami upayakan terus bebenah. Beberapa tahun ini pernikahan dini dan putus sekolah hampir sudah tidak ada. Bahkan menjadi percontohan,” ungkap Djarot.

Kemudian untuk perbaikan sarana dasar warga juga telah bebenah. Disinggung mengenai jambanisasi, dari pemerintah kecamatan sendiri mendapat alokasi dari pemerintah daerah setiap tahunnya melakukan pengadaan 70 unit jamban sehat. Sejak berlangsung program ini, di tahun 2018, Djarot mengklaim tinggal 20% jamban milik warganya yang masih masuk dalam kategori tidak layak atau jamban cemplung.

“Program bedah rumah dan lainnya terus kami upayakan. Bahkan beberapa tahun lalu kami juga lepas dari daerah kekeringan karena kami telah memanfaatkan air yang kami miliki. Semua padukuhan telah teraliri air,” tutup dia.

Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terpopuler

unique visitors counter