fbpx
Connect with us

Budaya

Udik-Udik dan Gunungan Jadi Rebutan Warga di Acara Babad Dalan Desa Giring

Diterbitkan

pada tanggal

Paliyan,(pidjar.com)–Jumat Kliwon (20/04/2018) ini menjadi hari dimana semua warga Desa Giring, Kecamatan Paliyan ramai-ramai berkumpul di Balai Desa Giring. Pasalnya tepat di hari ini merupakan puncak dari tradisi babad dalan yang rutin dilaksanakan satu tahun sekali. Selain pawai budaya lokal, ada satu acara yang menarik perhatian massa, yakni prosesi sebar udik-udik dan rebut gunungan.

Sebar udik-udik merupakan prosesi akhir setelah weton, berupa ingkung ayam dan nasi uduk serta lauk pauk lainnya yang selesai didoakan atau istilahnya disebut kenduri. Prosesi tersebut secara langsung dilaksanakan oleh Kepala Desa Giring, Joko Tirto Wibowo.

Udik-udik berisi uang, beras gabah dan biji-bijian lainnya yang merupakan hasil dari bumi Giring tersebut, disebar ditengah kerumunan warga yang memadati halaman balai desa. Warga semakin menumpuk ketika udik-udik disebar berbarengan dengan dikeluarkannya gunungan berisi palawija serta hasil bumi masyarakat.

Ketika udik-udik disebar, warga pun seakan saling dorong untuk mendapatkannya. Namun meskipun bergesekan, tak ada satupun kemarahan atau tindakan anarkis yang memicu perpecahan. Justru aksi dorong tersebut memicu gelak tawa dan sebuah keharmonisan yang terlihat.

Berita Lainnya  Flashmob Puluhan Penari Muda Kejutkan Para Pengunjung Car Free Day

Udik-udik serta gunungan sendiri dipercaya menyimpan berkah bagi siapapun yang mendapatkannya. Meski hanya koin 500 perak serta potongan sayur mayur dan biji-bijian, hasil udik-udik dan gunungan yang didapat mereka simpan untuk kemudian dimasak.

Kepala Desa Giring, Joko Tirto Wibowo mengatakan, pada tahun ini pihaknya mengambil tema Giring Gumbregah. Artinya, ini merupakan suatu titik balik serta respon masyarakat terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan kebudayaan serta adat tradisi yang ada.

Dapat dilihat, seluruh perangkat desa serta panitia dan masyarakat yang mengikuti prosesi budaya babad dalan semuanya mengenakan pakaian tradisional. Hiburan yang ditampilkan juga merupakan seni lokal yang selama ini tumbuh dan berkembang di masyarakat.

“Giring Gumbregah menuju masyarakat yang berkualitas lahir dan batin. Selain itu juga momentum sebagai tombak membangun kebersamaan, antara pemerintah dan masyarakat dalam mmajukan desa terutama di bidang kebudayaan dan tradisi,” kata Bowo.

Bowo menjelaskan, meski tampak ramai, namun dalam tradisi babad dalan di Desa Giring ini tidak ada pesta yang meriah. Namun demikian hal itu ada alasannya, yakni momentum ini digunakan untuk anteng atau tidak reaktif namun tetap kreatif.

Berita Lainnya  Mbah Baut, Pelawak Campursari Dengan Dandanan Unik

“Kita tidak reaktif dengan berkembangnya hiburan yang ada. Tetapi kita tetap berkreasi dengan berpijak pada budaya dan tradisi yang ada,” imbuh dia.

Selain itu babad dalan juga dimaknai sebagai tindakan untuk intropeksi diri ke dalam. Artinya, kata Bowo, babad dalan sendiri dilaksanakan untuk melihat sosok Ki Ageng Giring yang erat kaitannya dengan wahyu Degan Gagak Emprit.

“Pada intinya babad dalan kita maknai untuk mawas diri, tidak egois sehingga bisa sumeleh atau menerima dan tentunya selalu bersyukur,” imbuh dia.

Sebagai informasi, dalam prosesi babad dalan juga dimeriahkan oleh perwakilan kesenian dari 9 padukuhan yang ada. Selain itu, sebelum acara puncak di mulai sempat dilakukan prosesi arak-arakan pusaka yang di ikuti dengan pasukan bergada dan kesenian.

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan
Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler