Sosial
Komunitas LGBT Terdeteksi Mulai Berkembang di Gunungkidul, Dinkes Peringatkan Resiko Paparan Virus HIV/AIDS
Wonosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)–Selama beberapa tahun terakhir Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul melakukan pemetaan populasi kunci orang berisiko terpapar virus mematikan, HIV di Gunungkidul. Hal yang paling mencolok yakni makin meluasnya Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Gunungkidul.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Priyanta Madya Satmaka mengatakan, dari hasil pemetaan populasi kunci pada tahun 2018 kemarin, orang yang berisiko terkena HIV di Gunungkidul terdiri dari wanita pekerja seks, lelaki suka lelaki (LSL) dan Waria. Namun demikian, terkait dengan jumlah, pihaknya tidak bisa menyampaikan lantaran adanya berbagai pertimbangan.
“Ini kan masalah sensitif sebenarnya, terutama pada aspek pariwisata dan juga respon masyarakat yang belum semuanya siap menerima kondisi tersebut,” ujar Priyanta kepada pidjar-com-525357.hostingersite.com, Rabu (27/02/2019).
Ia menambahkan, LGBT di Gunungkidul sendiri saat ini terpantau melakukan aktivitas pada malam hari. Sejumlah tempat terpantau digunakan untuk berkumpulnya “komunitas” tersebut.
“Tempat potensial untuk berkumpul orang berisiko tersebut meliputi rumah pribadi, tempat makan, karaoke, losmen, fasilitas umum dan tempat usaha. Mereka berkumpul atau berinteraksi umumnya pada malam hari,” beber Priyanta.

Meskipun sudah terdeteksi, namun pihaknya masih kesulitan untuk menentukan asal muasal mereka. Sebab, menurutnya dalam komunitas tersebut sangat rapi dan tertutup.
“Tapi populasi mereka belum bisa kita pastikan apakah semua lokal gunungkidul atau ada juga yang dari luar Gunungkidul. Karena untuk melakukan pemetaan pada kelompok biresiko tersebut tidak bisa semua orang bisa masuk,” ungkap dia.
Dikatakan lebih lanjut, tentu saja pemetaan akan berjalan cukup sulit. Sebab dimungkinkan, komunitas yang ada tersebut justru akan menghindar. Untuk itu pihaknya akan menggandeng pihak ketiga untuk melakukan pendataan.
“Kalau yang datang dari dinas pasti akan ada penolakan. Kita menggandeng LSM yang sudah terbiasa untuk masuk ke dalam (komunitas),” terang dia.
Diakui Priyanta isu LGBT sendiri sudah ada sejak mencuatnya beberapa orang positif terinfeksi HIV/AID. Sebab kelompok tersebut merupakan kelompok rawan penularan.
“Sejak ada kasus HIV/AIDS su itu berkembang. Karena salah satu kelompok risiko adalah LGBT,” imbuhnya.
LGBT merupakan fenomena yang harus ditangani dengan tepat. Sebab selain menjadi faktor pemicu persebaran penyakit menular, LGBT juga dapat menjadi masalah sosial di tengah masyarakat.
-
Info Ringan1 minggu yang laluResep Lamian Kuah Daging Sapi
-
Peristiwa4 hari yang laluTragis, Pelajar SMP di Semanu Ditemukan Meninggal G4ntung D1r1 di Pohon Jambu Mete
-
Info Ringan4 hari yang laluResep Soto Tangkar
-
Uncategorized2 minggu yang laluLomba Rebahan Pertama di Indonesia Digelar di JCM, Siapkan Hadiah Rp5 Juta
-
Budaya4 minggu yang laluWujudkan Kedaulatan Budaya, Kampung Gambiran Yogyakarta Semai Biji Pohon Gambir
-
Uncategorized4 minggu yang laluMotor Pelajar Raib Saat Jam Sekolah, Polisi Bekuk Pelaku di Alun-Alun Wonosari
-
Uncategorized4 minggu yang laluPerkuat Transformasi Birokrasi di Era Pemerintahan Digital, Diskominfo Luncurkan Inovasi Sadulur
-
Uncategorized4 hari yang laluKecelakaan Beruntun di Baleharjo Gunungkidul, Pengendara Vixion Meninggal Dunia
-
Uncategorized4 minggu yang laluMuncul Titik-titik Amblasan Baru, BPBD Gunungkidul Gandeng Universitas Diponegoro Teliti Struktur Tanah di Tileng
-
Pemerintahan3 minggu yang laluAntisipasi Kasus Kekerasan Layaknya di Kota Yogyakarta, Pemkab Gunungkidul Perketat Pengawasan di Daycare
-
Uncategorized2 minggu yang laluProses Hukum Kasus Pencurian di Pantai Drini Berlanjut, Begini Penjelasan Polisi
-
Uncategorized3 minggu yang laluSewindu Mengabdi untuk Pendidikan, SMA Muhammadiyah Al Mujahidin Catatkan 1.000 Prestasi
