Pemerintahan
Anggaran Dipangkas, Jatah Droping Air Bersih Anjlok Hampir 50 Persen
Wonosari, (pidjar.com)–Di tengah ancaman kekeringan yang diprediksi berlangsung lebih panjang, anggaran droping air bersih BPBD Gunungkidul justru dipangkas. Akibatnya, kapasitas distribusi air bersih turun hampir separuh, dari target 1.500 tangki hanya menjadi sekitar 800 tangki. Penurunan jatah distribusi ini dikhawatirkan akan membuat masyarakat Gunungkidul, khususnya yang terdampak kekeringan akan semakin sengsara lantaran bantuan pemerintah tak bisa optimal mereka dapatkan.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan pada awalnya pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp380,5 juta untuk program droping air bersih selama musim kemarau 2026. Dengan pagu tersebut, BPBD memperkirakan mampu mendistribusikan sekitar 1.500 tangki air bersih ke wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan.
Namun, kebijakan efisiensi anggaran daerah membuat alokasi dana mengalami pemangkasan menjadi sekitar Rp350 juta. Dampaknya, kemampuan distribusi air bersih ikut menurun signifikan.
“Jumlah bantuan yang dikirim sifatnya dinamis karena juga dipengaruhi kenaikan harga BBM,” kata Purwono, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, jumlah tangki yang dapat didistribusikan sewaktu-waktu masih bisa berubah mengikuti kondisi di lapangan. Selain besaran anggaran, biaya operasional armada tangki juga sangat dipengaruhi oleh harga bahan bakar minyak (BBM).
Meski demikian, Purwono memastikan pelayanan kepada masyarakat tidak akan terhenti. BPBD telah menyiapkan pola penanganan baru agar kebutuhan air bersih warga tetap dapat dipenuhi meski anggaran terbatas.
Salah satunya dengan mengoptimalkan anggaran yang telah disiapkan pemerintah kapanewon. Dari total 18 kapanewon di Gunungkidul, sebanyak 12 kapanewon telah mengalokasikan anggaran khusus untuk penanganan kekeringan.
Kapanewon tersebut meliputi Purwosari, Panggang, Paliyan, Tanjungsari, Tepus, Rongkop, Girisubo, Patuk, Gedangsari, Nglipar, Semanu, dan Ponjong.
Dengan adanya anggaran mandiri tersebut, pemerintah kapanewon dapat bergerak lebih cepat melakukan droping air bersih ketika warga mulai mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air tanpa harus menunggu bantuan dari BPBD.
Sementara itu, enam kapanewon lainnya, yakni Wonosari, Saptosari, Karangmojo, Playen, Semin, dan Ngawen, hingga kini belum memiliki anggaran khusus untuk penanganan kekeringan. Apabila kekeringan meluas ke wilayah tersebut, kebutuhan air bersih akan lebih banyak mengandalkan dukungan dari BPBD Gunungkidul.
Purwono menjelaskan, anggaran milik BPBD akan difungsikan sebagai dana cadangan. Mekanisme tersebut diterapkan agar penggunaan anggaran lebih efektif sekaligus menghindari tumpang tindih pembiayaan antara pemerintah kabupaten dan kapanewon.
“Anggaran BPBD bersifat cadangan dan digunakan jika anggaran di kapanewon sudah habis,” ujarnya.
Kebijakan itu juga merupakan tindak lanjut atas rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) agar tidak terjadi duplikasi penggunaan anggaran dalam penanganan bencana kekeringan.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Gunungkidul telah menetapkan Status Siaga Bencana Hidrometeorologi Kekeringan sejak 1 Juni hingga 31 Agustus 2026. Status tersebut menjadi dasar bagi seluruh perangkat daerah, pemerintah kapanewon, pemerintah kalurahan, hingga relawan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi krisis air bersih selama musim kemarau.
Purwono juga mengimbau masyarakat mulai menghemat penggunaan air sejak dini. Menurutnya, keberhasilan menghadapi musim kemarau tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran pemerintah, tetapi juga kesadaran masyarakat dalam menggunakan air secara bijak.
“Dengan ancaman kemarau yang diprediksi lebih panjang tahun ini, kami berharap seluruh pihak dapat bersinergi sehingga distribusi air bersih kepada masyarakat tetap berjalan optimal,” pungkasnya.
-
Uncategorized2 hari yang laluDerita Suami Pasien Bersalin RSUD Wonosari, Bayi Meninggal, Luka Bekas Operasi Istri Bernanah Berbulan-bulan
-
Uncategorized7 hari yang laluAbsen Dalam Puncak HUT Gunungkidul Buat Rumor Bupati dan Wakil Bupati Jothakan Makin Santer, Ini Klarifikasi Joko Parwoto
-
Budaya2 hari yang laluTradisi Bukaan Kyai Cupu Panjolo, Berikut Simbol-simbol yang Muncul
-
Uncategorized2 hari yang laluTak Ada Sengketa Pilur, Lurah Terpilih Bakal Dilantik 26 November
-
Sosial3 hari yang lalu9.500 Hektare Lahan Jagung di Gunungkidul Disiapkan untuk Pengembangan Energi Berbasis Hayati
-
Uncategorized3 minggu yang laluPerkuat Layanan Kedaruratan, Klinik Utama Wizula Medica Resmi Kerjasama dengan Jasa Raharja Tangani Korban Kecelakaan
-
Uncategorized2 hari yang laluGadaikan Motor Rekannya, Seorang Pemuda Diringkus Polisi
-
Uncategorized2 hari yang laluDukung Program Strategis Pemerintah, KSPSI Dorong Penguatan Pengawasan Hingga Level Bawah
-
event4 minggu yang laluZAP Fest 2026: The Glowverse Dimulai dari Yogyakarta, Raisa hingga Nassar Siap Meriahkan Perayaan Anniversary ZAP
-
Uncategorized4 minggu yang laluIkuti Google Maps, Minibus Wisatawan Terperosok di Tanjakan Bundelan, 1 Penumpang Meninggal
-
Sosial3 minggu yang laluProfil AKBP Rosana, Kapolres Gunungkidul yang Pernah Ungkap Kasus 1 Ton Sabu
-
Pemerintahan3 minggu yang laluBrandu Masih Ditemukan, Pemkab Gunungkidul Perkuat Edukasi Cegah Penularan Antraks
