fbpx
Connect with us

Sosial

Dibangun Dengan Dana Miliaran, Bangunan Megah Pusat Informasi Pariwisata Justru Terbengkalai

Diterbitkan

pada tanggal

––>

Patuk,(pidjar.com)–Sejumlah bangunan yang merupakan gedung Pusat Informasi Pariwisata atau Tourist Information Centre (TIC) yang berada di wilayah Kecamatan Patuk nampak sangat tidak terawat. Bangunan yang dibangun dengan biaya miliaran rupiah sejak 2016 lalu itu hingga kini bahkan penggunaannya jauh dari kata optimal.

Dari pantauan di lapangan, bangunan yang berada di sebelah kiri jalan jika berjalan dari arah Yogyakarta tepatnya di bekas kantor Kecamatan Patuk itu nampak kurang begitu terlihat jelas. Sejumlah tanaman penghias mulai tumbuh tak teratur bersamaan dengan rerumputan liar.

Tak ada plang atau penunjuk arah yang memperlihatkan bahwa bangunan tersebut merupakan pusat informasi pariwisata Gunungkidul. Ketika memasuki kawasan itu pun, nampak seperti bangunan kosong yang lama tidak dihuni. Dedaunan kering hanya dibiarkan saja jatuh mengotori halaman.

Lapak-lapak bagi pedagang yang sedianya digunakan untuk kegiatan ekonomi juga tak terpakai. Jangankan digunakan, bangunan yang ada pun tampak tak terawat dengan baik. Bahkan, terdapat sebuah kendaraan roda dua terparkir di tengah pendopo. Kondisi tersebut sangat jauh berbeda dengan bangunan yang dahulunya diharapkan bisa menjadi pusat informasi bagi wisatawan daerah atau mancanegara yang hendak berwisata ke Gunungkidul.

Di lokasi tersebut, memang tidak ada petugas dari dinas terkait yang setiap hari berjaga di pusat informasi itu. Hanya ada satu orang petugas jaga malam yang menempati lokasi itu.

Kondisi tak terawatnya bangunan Pusat Informasi Pariwisata Gunungkidul diakui oleh Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul, Harry Sukmono. Ia juga membenarkan bahwa sampai saat ini belum ada petugas yang berjaga secara rutin di lokasi itu.

Berita Lainnya  Viral di Medsos, Wisatawan Keluhkan Penyewaan Tikar Yang Kuasai Pantai Krakal

“Secara definitif memang belum ada yang jaga, tapi kalau malam ada keamanan yang menjaga lokasi itu. Dan kalau siang memang belum dijaga (hari biasa), tapi Sabtu Minggu dan long weekend kita upayakan ada yang jaga,” kata Harry, Kamis (21/11/2019).

Harry juga berterimakasih atas adanya masukan terkait dengan kurang terawatnya lingkungan TIC (Tourist Information Centre) itu. Sehingga ke depan hal itu akan menjadi evaluasi pihaknya dalam pengelolaan TIC.

“Ya kalau itu memang kita akui (kondisi tidak terawat) terimakasih (masukannya),” ujarnya.

Ia menjelaskan, pihaknya akan segera mengatur jadwal penjagaan di TIC tersebut. Sehingga kekosongan seperti yang terjadi saat ini tak lagi terjadi. Pihaknya juga akan segera melakukan pembersihan wilayah tersebut.

Namun, lanjut dia, selama ini Dinas Pariwisata Gunungkidul terus menerjunkan personil untuk menjaga wilayah tersebut jika ada konfirmasi dari wisatawan ataupun pegiat pariwisata yang ingin berkunjung atau mempelajari fasilitas didalamnya.

“Fasilitas indoor sudah ada informasi tentang kegeologian dan kegeoparkan Gunung Sewu dan Gunungkidul. Kalau petugas biasanya ada yang jaga tapi belum setiap hari,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, setiap tahunnya terdapat anggaran untuk melakukan pembenahan fasilitas TIC. Namun, untuk melakukan pembenahan di sirip-sirip gedung TIC, dinilai tidak memungkinkan dengan kondisi yang ada. Sebab, sirip bangunan tersebut dikelilingi oleh jalan kecamatan dan jalan nasional.

Berita Lainnya  Kerajinan Bambu Cacat Milik Abdul Rohman Tembus Pasar Mancanegara

“Desain kita kalau dari Selatan kan ramai, dari manajemen lalulintasnya nggak bagus. Kita juga terkendala adanya ketebatasan wilayah. Saat ini tengah mengkaji lahan yang berada disisi gerbang masuk Kabupaten Gunungkidul akan dikoneksikan dengan TIC yang berada tepat di atasnya,” beber Hary.

“Oleh Pemda dan Dinas Lingkungan Hidup, sudah disusun DED (Detail Engineering Design) nya maka kita koneksikan di bawah dan di atas,” sambungnya.

Menanggapi kondisi TIC yang memprihatinkan, anggota Komisi B DPRD Gunungkidul, Eko Rustanto menyatakan, konsep bangunan TIC tersebut sejak awal kurang pas. Salah satunya adalah tentang pemanfaatan lokasi yang mana lokasi tersebut sulit diakses oleh kendaraan, terlebih kendaraan-kendaraan besar seperti bus pariwisata.

“Kalau sekarang mau mencari informasi di TIC dari Jogja mereka pada malas masuk karena bikin macet beloknya, masuknya susah apalagi untuk armada besar,” kata dia.

Untuk pemanfaatan secara maksimal, sambung Eko, bangunan tersebut perlu dibenahi dan ditata ulang. Mulai dari jalan masuk yang diperlebar, pembuatan akses jalan yang melingkar, pembangunan tempat istirahat, kuliner yang lebih baik lagi hingga menggunakan sistem IT dalam mengakses informasi dan lain sebagainya.

“Sehingga itu harus diubah, ditata kembali agar tempat itu betul-betul digunakan sebagai pusat informasi, bisa untuk kuliner, istirahat, dan lainnya,” tutup Eko.

Iklan

Facebook Pages

Iklan
Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler