Pendidikan
KB Gantari Dorong Pengasuhan Inklusif dengan Mengurangi Ketergantungan Gadget pada Anak Usia Dini
Jogja,(Pidjar.com) – Di tengah semakin masifnya penggunaan gadget pada anak usia dini, KB Gantari di bawah naungan Pusat Rehabilitasi YAKKUM mengajak orang tua untuk membangun pola pengasuhan yang lebih inklusif melalui pembatasan penggunaan gawai dan peningkatan interaksi langsung dengan anak.
Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan Open House yang dirangkai dengan Parenting Class bertema “Meminimalisir Gadget dan Memilih Tontonan Sehat serta Ajakan Bermain Alternatif”. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi orang tua untuk memahami pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang setiap anak, termasuk anak dengan kebutuhan dan kemampuan yang beragam.
Kepala Sekolah KB Gantari, Sri Rejeki, menjelaskan bahwa teknologi bukanlah sesuatu yang harus dijauhi, tetapi perlu digunakan secara bijaksana agar tidak mengurangi kesempatan anak untuk belajar melalui pengalaman nyata.
“Setiap anak memiliki cara belajar dan berkembang yang berbeda. Karena itu, anak membutuhkan ruang untuk bermain, berinteraksi, dan mengeksplorasi lingkungannya secara langsung. Pengalaman-pengalaman tersebut tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh layar gadget,” ujarnya.
Menurut Sri Rejeki, pendekatan pendidikan inklusif menempatkan setiap anak sebagai individu yang unik. Anak memerlukan kesempatan yang sama untuk mengembangkan kemampuan motorik, sosial, emosional, bahasa, dan kognitif melalui aktivitas yang sesuai dengan tahap perkembangannya.

Dalam konteks tersebut, bermain menjadi sarana penting bagi anak untuk belajar memahami diri sendiri, berinteraksi dengan teman sebaya, serta membangun rasa percaya diri. Aktivitas bermain juga membuka ruang bagi anak untuk saling mengenal dan menghargai perbedaan sejak dini.
Pandangan tersebut diperkuat oleh dokter anak dr. Margareta Yuliani yang menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa usia di bawah lima tahun merupakan masa emas perkembangan otak yang membutuhkan stimulasi dari interaksi sosial dan pengalaman langsung.
“Sekitar 90 persen perkembangan otak terjadi sebelum usia lima tahun. Anak membutuhkan komunikasi dua arah, sentuhan, permainan, dan interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Hal-hal ini sangat penting untuk mendukung perkembangan seluruh aspek tumbuh kembang anak,” jelasnya.
Menurutnya, penggunaan gadget yang berlebihan berpotensi mengurangi kesempatan anak untuk berlatih berkomunikasi, memahami emosi, membangun relasi sosial, dan mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. Dampak tersebut dapat dirasakan oleh semua anak, termasuk anak yang membutuhkan dukungan perkembangan tertentu.
Melalui kegiatan parenting ini, KB Gantari juga mengajak orang tua untuk menyediakan berbagai alternatif aktivitas yang lebih inklusif, seperti bermain bersama, membaca buku, berkebun, berkarya seni, maupun melakukan eksplorasi lingkungan. Aktivitas-aktivitas tersebut dinilai mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih kaya dan bermakna bagi anak.
Selain sesi edukasi bagi orang tua, Open House KB Gantari menampilkan hasil karya dan pentas seni anak sebagai wujud pembelajaran yang menghargai keberagaman potensi. Setiap anak diberikan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan ekspresi dirinya dalam lingkungan yang aman, ramah, dan mendukung.
Sebanyak 31 anak bersama 40 orang tua atau wali murid mengikuti kegiatan tersebut. Salah satu wali murid, Monica, mengaku melihat perkembangan positif pada anaknya setelah mengikuti pembelajaran di KB Gantari yang menekankan interaksi sosial dan eksplorasi aktif.
Sebagai lembaga yang mengedepankan nilai inklusi, KB Gantari secara rutin menyelenggarakan program parenting, seminar, dan edukasi bagi keluarga untuk meningkatkan pemahaman tentang pengasuhan yang responsif terhadap kebutuhan setiap anak.
Melalui upaya tersebut, KB Gantari berharap semakin banyak keluarga yang mampu menciptakan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan interaksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan lingkungan yang inklusif dan penuh dukungan, setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal sesuai potensinya.
-
Pemerintahan3 minggu yang laluPembangunan TPAS Wukirsari Akan Dimulai Awal 2027, Direncanakan Bisa Produksi Bahan Bakar Alternatif
-
Uncategorized3 minggu yang laluGeger Pagi di Ponjong, Perempuan Muda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Coklat
-
Peristiwa3 minggu yang laluJenazah Korban Gantung Diri Diotopsi, Kemungkinan Korban Pembunuhan?
-
Peristiwa3 minggu yang laluTragedi Jelang Keberangkatan Umrah, 54 Paspor Jamaah Hangus Akibat Kebakaran Kantor Travel
-
Uncategorized3 minggu yang laluNikung Terlalu Melebar, Mahasiswi Tewas Usai Hantam Motor
-
Uncategorized4 minggu yang laluDelapan Dapur SPPG di Gunungkidul Tak Kunjung Beroperasi, Dari Persoalan IPAL Hingga Izin BGN
-
Uncategorized2 minggu yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized4 minggu yang laluPilur Kelor Memanas, Lurah Petahana Dituding Curi Start Numpang Program
-
Uncategorized2 minggu yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized2 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized3 minggu yang lalu83 Tukik Dilepas ke Laut, Bupati Gunungkidul Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Penyu
-
Uncategorized2 minggu yang laluLurah di Gunungkidul Kompak Enggan Teken Berita Acara Serah Terima Aset KDMP, Ada Apa?
