Pemerintahan
Harga BBM Melambung Tinggi, Bus Sekolah Pemkab Gunungkidul Saat Ini Hanya Layani Penjemputan Pagi
Wonosari,(pidjar.com)– Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir mulai berdampak pada biaya operasional sejumlah layanan publik di Kabupaten Gunungkidul. Kondisi tersebut mendorong sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) mengajukan tambahan anggaran agar pelayanan kepada masyarakat tetap dapat berjalan secara optimal.
Salah satu yang paling terdampak adalah layanan bus sekolah Pemkab Gunungkidul. Kenaikan harga Pertamina Dex yang mencapai dua kali lipat membuat biaya operasional membengkak. Anggaran ratusan juta yang sebelumnya diperkirakan cukup hingga akhir tahun, saat ini diprediksi hanya cukup hingga bulan Agustus saja.
Sekretaris Dinas Perhubungan Gunungkidul, Bayu Susilo Aji mengatakan, melambungnya harga BBM berdampak pada layanan penjemputan pelajar dengan Bus Sekolah. Pemerintah terpaksa mengurangi layanan penjemputan. Dari yang sebelumnya penjemputan pagi berangkat sekolah dan sore saat pulang sekolah, saat ini program tersebut hanya berlaku pada penjemputan pagi saja.
“Dengan anggaran yang ada saat ini dan harga BBM jenis Pertamina Dex sekarang ini, layanan bus sekolah hanya mampu mencukupi sampai sekitar pertengahan Agustus saja,” kata Bayu Susilo Aji, Selasa, (9/06/2026).
Dishub Gunungkidul sendiri memiliki 7 armada bus yang setiap pagi dan sore melakukan penjemputan terhadap anak sekolah. Namun saat ini, guna mensiasati anggaran, 6 armada hanya melayani penjemputan pagi dan hanya 1 armada yang melayani penjemputan pagi dan sore.

Dengan kondisi demikian, Dinas Perhubungan Kabupaten Gunungkidul mengusulkan anggaran tambahan agar program layanan Bus Sekolah ini dapat berjalan optimal kembali. Adapun tambahan anggaran operasional yang diusulkan sebesar Rp 270 juta. Dengan penambahan anggaran ini, diestimasikan mampu mencukupi biaya operasional sampai dengan akhir tahun mendatang.
“Insyaallah sudah mengcover hingga akhir tahun dengan perhitungan harga BBM sekarang,” jelasnya.
Saat ini pihaknya masih menunggu kepastian atas pengusulan tersebut. Harapannya, penambahan anggaran nantinya dapat disetujui oleh pimpinan dan layanan kembali berjalan seperti biasa.
“Untuk penambahan anggaran sudah proses ditambahkan dalam rencana Kerja 2026. Tetapi tentunya masih menunggu proses penetapannya,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Angkutan dan Terminal Dishub Gunungkidul, Sigit Wijayanto, menambahkan, seluruh armada bus sekolah yang beroperasi saat ini memang menggunakan BBM non-subsidi jenis Pertamina Dex. Terdapat tujuh armada yang setiap hari melayani antar-jemput pelajar dari sejumlah kapanewon menuju Kota Wonosari.
Menurutnya, kenaikan harga BBM yang terjadi pada April dan Mei 2026 mendorong Dishub melakukan evaluasi ulang terhadap kemampuan anggaran operasional. Dari hasil penghitungan, anggaran yang tersedia semula hanya diperkirakan hanya mampu mencukupi beberapa bulan saja. Kemudian untuk tetap menjalankan program tersebut maka dilakukan pengurangan layanan penjemputan.
Rute yang terdampak kebijakan tersebut meliputi Ponjong–Wonosari, Semanu–Wonosari, Sokoliman–Wonosari, Tanjungsari–Wonosari, Gedangsari–Wonosari, serta Nglipar–Wonosari. Adapun rute Semin–Wonosari masih dapat melayani perjalanan pergi-pulang karena lokasi garasi bus berada di wilayah Semin sehingga biaya operasional relatif lebih efisien.
Dijelaskan, total anggaran operasional bus sekolah mencapai Rp392 juta per tahun yang dialokasikan untuk kebutuhan bahan bakar, perawatan kendaraan, serta pembayaran pajak. Dalam kondisi normal, satu armada menghabiskan rata-rata 25 liter BBM per hari untuk melayani perjalanan berangkat dan pulang, terutama karena jangkauan layanan yang cukup jauh menuju pusat kota.
Hal senada juga diungkapkan oleh Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Arsip Gunungkidul, Rudi Ismanto. Kenaikan harga BBM Pertamina Dex dari 14.500 menjadi 23.900 dan di bulan Mei naik dari 23.900 menjadi 27.900 kemudian bulan Juni sedikit turun berdampak sangat signifikan pada pengeluaran kedinasan, khususnya layanan antar jemput pelajar ke Perpustakaan daerah dan layanan Perpustakaan Keliling.
“Anggaran untuk operasional pembelian BBM membengkak. Sehingga kami mengusulkan tambahan anggaran sekitar Rp 41 juta agar pelayanan tetap bisa berjalan,” jelasnya.
Meski anggaran operasional naik, namun demikian dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan tetap menerapkan layanan antar jemput pelajar ke Perpustakaan Daerah.
“Untuk layanannya tetap karena sudah terjadwal sejak jauh-jauh hari. Semoga dalam waktu dekat ini ada kabar baik mengenai usulan penambahan biaya operasional tersebut, agar layanan dapat tetap berjalan,” tutupnya.
-
Uncategorized3 minggu yang laluGegara Uang Kembalian Receh, Pelayan Bakmi Jawa Mengaku Dibentak Oknum Anggota DPRD
-
Uncategorized1 hari yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized3 minggu yang laluKDMP Karangrejek Panen Lele 4,9 Ton, Capaian Tertinggi di Indonesia
-
Uncategorized3 minggu yang laluPetani Ditemukan Meninggal Dunia di Ladang Bleberan
-
Uncategorized3 minggu yang laluLurah di Gunungkidul Kompak Enggan Teken Berita Acara Serah Terima Aset KDMP, Ada Apa?
-
Uncategorized2 minggu yang laluSakit Hati Sering Diejek Ketika Memulung Sampah, 2 Remaja Putri Nekat Bakar Sekolah
-
Uncategorized3 minggu yang laluLansia Asal Ponjong Ditemukan Gantung Diri di Kandang
-
Uncategorized3 minggu yang laluCiptakan Pilur Jujur dan Bersih, Dinas Awasi Lurah Petahana
-
Uncategorized3 minggu yang laluGelombang Tinggi di Pesisir Gunungkidul, Rusak Perahu Nelayan Hingga Warung
-
Uncategorized1 minggu yang laluSempat Diancam Akan Dilindas Lehernya, Dua Remaja Babak Belur Dihajar Kelompok Pemuda Silat
-
Uncategorized2 minggu yang lalu9.000 Penerima Bansos Gunungkidul Disetop karena Terindikasi Judi Online
-
Uncategorized1 minggu yang laluSaling Bajak Kader Antara PSI dan NasDem Gunungkidul Makin Seru, Ini Tanggapan Sang Ketua
