fbpx
Connect with us

Politik

Idaman, Calon Lurah Ini Pilih Konsep Kampanye Sembari Berbagi Kepada Masyarakat

Published

on

Ponjong, (pidjar.com)–Berbuat baik terhadap siapapun merupakan kewajiban setiap manusia. Seperti yang dilakukan oleh Suwarto (69), warga Padukuhan Sawur, Kalurahan Sawahan, Kapanewon Ponjong. Meskipun usianya sudah berkepala enam, namun semangat jiwa sosialnya patut untuk diapresiasi. Kegiatan sosial yang dilakukan oleh Suwarto sendiri sudah berlangsung sejak lama, terkhusus untuk masyarakat yang tinggal di Kalurahan Sawahan, Kapanewon Ponjong.

Dalam Pemilihan Lurah Sawahan tahun 2021 ini, Suwarto memutuskan untuk maju mencalonkan diri. Yang unik, dalam konsep kampanyenya, Suwarto memilih untuk lebih banyak melakukan kegiatan sosial. Bersama dengan sang adik, Lazarus Arintoko, ia memang sudah sejak beberapa lama memberikan sejumlah bantuan bagi masyarakat setempat. Mulai dari bedah rumah, pendampingan pertanian, hingga pembangunan tower internet maupun jalan kampung ia berikan.

“Kalau sekarang memang momentum politik, tapi yang seperti ini sudah lama kami lakukan. Politik ya politik, tapi membantu sesama adalah kewajiban,” tandasnya kepada pidjar.com, Senin (11/10/2021).

Senin siang tadi, Suwarto berkunjung ke rumah keluarga Agus Setiabudi (34) dan Iin Setiawati (33) yang tinggal di Padukuhan Tengger, Kalurahan Sawahan, Kapanewon Ponjong. Keluarga ini tinggal di rumah yang bisa dibilang tak layak huni. Dengan berdinding kalsiboard, rumah yang dihuni pasangan Agus-Iin beserta dua anaknya ini masih berlantaikan tanah.

“Lantainya masih tanah, rumahnya disekat jadi 3 ruangan. Ruangan depan, satu kamar, dan dapur,” ucap Suwarto.

Suwarto menyadari jika di Kalurahan Sawahan sendiri masih banyak terdapat persoalan-persoalan yang harus segera ditangani. Rumah milik keluarga Agus hanyalah potret kecil dari masalah sosial yang ada. Sehingga menjadi wajar saat ia merasakan tak bisa tinggal diam jika melihat berbagai persoalan yang ada di masyarakat.

Melihat kondisi yang dialami oleh Agus ini, pensiunan ASN ini merasa tergerak hatinya. Ke depan, ia akan mengupayakan agar bisa membantu Agus untuk memperbaiki rumahnya sehingga bisa lebih layak. Saat ini, pihaknya bersama tim tengah berusaha mengakses bantuan RTLH dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul yang rencananya pertengahan tahun depan akan disalurkan. Namun apabila nantinya tak ada tindak lanjut, ia siap merogoh kocek pribadinya untuk membantu Agus.

“Saya datang sekedar membantu bantuan sembako untuk keluarga mas Agus. Dan ini janji saya, kalau upaya mengakses bantuan pemerintah ini tak berbuah hasil, kita nanti bersama sahabat Arintoko akan garap sendiri saja,” lanjut dia.

Selain potret rumah yang tak layak huni, hal lain yang ia soroti adalah buruknya infrastruktur di kalurahannya ini. Masih banyak jalan ynag rusak di Kalurahan Sawahan dapat menjadi terhambatnya proses distribusi hasil panen masyarakat. Hal ini menjadi penting mengingat mayoritas masyarakat Sawahan yang letaknya memang berada di pinggiran ini berprofesi sebagai petani.

“Kalau seperti jalan produksi saja belum layak ini kan menghambat,” ucapnya tegas.

Meski berada di luar pemerintahan, Suwarto sendiri sempat membantu pembangunan jalan cor blok di Padukuhan Tengger. Juga sejumlah belasan tower internet yang juga ia bangun di wilayah tersebut. Di Kalurahan Sawahan, memang masih ada banyak spot-spot yang tak ada sinyal internet. Seperti diketahui, kebutuhan akan internet ini menjadi sangat penting untuk mengikuti perkembangan zaman.

“Intinya selagi saya bisa ya saya bantu masyarakat, kebutuhan masyarakat kan beragam jadi tidak hanya bangun jalan saja, tapi juga kebutuhan air warga, pembangunan langgar seni, pembangunan kegiatan olahraga kepemudaan, terutama air dan sarana prasarana pertanian,” urai dia.

Dalam melakukan kegiatan sosialnya sejauh ini, ia selalu mendapat dukungan dari masyarakat Kalurahan Sawahan. Namun ia menyampaikan jika kegiatan sosialnya tersebut dapat berdampak lebih luas lagi jika dirinya dapat memimpin sebagai Lurah Sawahan sehingga dapat membuat program-program yang memperhatikan kebutuhan-kebutuhan di masyarakat. Ia menjanjikan akan mengedepankan transparansi jika nantinya dipercaya masyarakat. Dengan adanya transparansi, anggaran yang ada bisa dimaksimalkan untuk pembangunan fisik maupun sumber daya manusia di Sawahan yang saat ini memang cukup tertinggal dibandingkan kawasan lain.

“Saya ini sudah tua, tidak ada dalam pikiran saya selain mengabdi dan membantu masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Agus Setiabudi terlihat sangat senang ketika Suwarto berkunjung ke rumahnya. Ia mengungkapkan jika sebelum adanya pandemi ini, ia berprofesi sebagai pengrajin seperti seruling ynag disetorkan ke pengepul. Namun sejak adanya pandemi ini, pesanan kerajinannya terhenti dan kini hanya sekedar bekerja serabutan.

Dahulunya, keluarga tersebut tinggal di gubug berdinding anyaman bambu yang masih bergandengan dengan rumah orangtuanya. Harapan Agus untuk bisa memiliki rumah layak huni mulai muncul ketika ia sempat didatangi oleh petugas Kalurahan yang menjanjikannya untuk mendapatkan program RTLH dari pemerintah. Agus yang kala itu sangat bersemangat pun sempat meminjam uang ke bank untuk menambah pembiayaan pembangunan rumahnya. Namun hingga Agus telah menerima uang hasil hutang ke bank, informasi tentang pembangunan rumahnya tak kunjung terdengar. Akhirnya ia memilih untuk menggunakan uang tersebut untuk membangun rumah dari dinding kalsiboard.

“Kalau bantuan belum dapat apa-apa ya, dulu aja sering ada petugas foto-foto rumah sampai bosan kalau cuma difoto, terus tidak ada kelanjutannya. Saya tinggal di sini sudah sekitar setahun,” terang Agus.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler