fbpx
Connect with us

Peristiwa

Jarang Disiram, Warga Keluhkan Debu Pembangunan JJLS

Published

on

Rongkop,(pidjar.com)–Warga Padukuhan Saban, Kalurahan Karangwuni, Kapanewon Rongkop mengeluhkan banyaknya debu yang muncul akibat proyek pengembangan JJLS. Hal tersebut terjadi karena pengembang tidak melakukan penyiraman secara rutin saat musim kemarau seperti saat ini.

Diungkapkan oleh tokoh masyarakat setempat, Ali Suyatmo bahwa debu setiap harinya menjadi musuh warga setempat. Bagaimana tidak, debu batu kapur itu setiap waktu masuk ke dalam rumah penduduk dan menganggu kenyamanan.

Kalau debunya sudah ada sejak musim kemarau ini saat proyek dimulai,” kata Ali, Minggu (19/07/2020).

Selain mengotori rumah, debu juga menganggu pernafasan masyarakat yang tinggal persis di tepi jalan pembangunan proyek. Dirinya juga sempat melakukan komunikasi dengan pengembang terkait keluhan tersebut.

Berita Lainnya  Serangan Kera Paling Parah Tahun Ini, Laporan Petani Tak Ditanggapi

Mereka hanya mampu satu tanki setiap harinya, tentu sangat kurang,” ucap Ali.

Selain dari jalan yang menghubungkan Pracimantoro-Rongkop itu juga muncul debu dari aktivitas alat berat yang menggeruk gunung. Itu pun juga mejadi eluhan lantaran penyiraman tanki air selalu terlambat dengan kapasitas yang minim.

Selalu telat dengan kapasitas terlalu minim ditambah panasnya matahari dan angin dimusim kemarau,warga sangat mengeluh dan tidak berdaya, mestinya kapasitas penyiraman oleh pihak pelaksana disesuaikan volume pekerjaan, bukan yang penting kerja dan lagi-lagi masyarakat dikorbankan,ini merupakan pelanggaran hukum dimana abai dalam bekerja yang menimbulkan dampak korban,” kata pria yang juga merupakan aktifis itu.

Sementara itu, warga lain yang tinggal di tepi jalan, Kardiyono juga mengungkapkan keluhan yang serupa. Namun begitu, dirinya menganggap hal itu wajar karena memang pengerjaan saat musim kemarau.

Berita Lainnya  Hujan Disertai Angin Kencang, Empat Tiang Listrik dan Pohon Ambruk Timpa Rumah Warga

Saat ini kan kemarau, kalau pas penghujan juga jadi becek sehingga ada plus minusnya,” terang Kardiyono.

Advertisement
Advertisement

Facebook Pages

Advertisement

Pariwisata

Berita Terpopuler