fbpx
Connect with us

Pemerintahan

Kasus Anthrax Maut di Semanu, Warga Sempat Konsumsi Sapi Yang Telah Dikubur

Diterbitkan

pada

BDG

Semanu,(pidjar.com)— Budaya “brandu” ternak masih banyak dilakukan oleh warga di Kabupaten Gunungkidul. Brandu atau mbrandu merupakan kegiatan membeli ternak yang tengah sakit atau mati kemudian daging ini dijual ke warga dengan harga yang murah untuk dikonsumsi. Sebenarnya brandu ternak bertujuan untuk meringankan beban pemiliknya agar tidak terlalu rugi, seperti halnya yang dilakukan oleh warga Padukuhan Jati, Kalurahan Candirejo, Kapanewon Semanu. Namun sayangnya, tradisi brandu yang dilakukan justru berakibat fatal yakni tertularnya anthrax ke warga yang mengkonsumsi daging ternak tersebut.

Sebagaimana diketahui, di Padukuhan tersebut saat ini ada 87 warga yang seropositif anthrax. Selain itu, ada 1 orang yang meninggal pada bulan Juni kemarin dengan konfirmasi laboratorium positif terpapar anthrax. Pada periode November sampai Mei kemarin tercatat ada 6 sapi dan 6 kambing di Padukuhan Jati yang mati secara mendadak.

Berita Lainnya  Trend Aquascape, Seni Dekorasi yang Menguntungkan Banyak Kalangan

Hasil penelusuran yang dilakukan oleh surveillance dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Gunungkidul, saat itu ternak-ternak yang mati ini secara berurutan. Mirisnya, ada sapi yang mati mendadak kemudian ditangani oleh dokter hewan dikubur sesuai dengan SOP yang berlaku.

Namun sayangnya setelah dokter itu pulang, warga justru menggali bangkai sapi yang telah dikubur ini dan kemudian disembelih dan dibrandu.

“Ada sapi yang sudah mati dan dikubur tapi kemudian oleh warga digali kembali dan disembelih untuk dibrandu,” papar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul, WIbawanti Wulandari, Kamis (06/07/2023).

Kepala Bidang Kesehatan Hewan DPKH Gunungkidul, drh. Retno Widiastuti mengatakan, sejak adanya laporan mengenai adanya ternak mati di Padukuhan tersebut pihaknya langsung bergerak cepat untuk melakukan penelusuran di lapangan. Hasilnya ada 6 sapi dan 6 kambing yang mati pada periode November sampai dengan Juni kemarin. Saat penelusuran dilakukan tim tindak menemukan bangkai ternak yang dikubur, sebab secara keseluruhan sapi mati langsung disembelih dan dagingnya dikonsumsi oleh warga.

Berita Lainnya  Kalah Nilai Seleksi, 2 Calon Lurah Getas dan Grogol Dinyatakan Gugur

“Kami tidak menemukan bangkainya. Ada beberapa lokasi yang kami lakukan identifikasi karena disitu merupakan tempat sapi-sapi tersebut disembelih. Hasil uji laboratorium menyatakan tanah di titik-titik itu ada spora anthrax dari darah ternak yang disembelih,” paparnya.

Dirinya tidak menampik bila tradisi brandu masih banyak dilakukan oleh warga Gunungkidul. dengan kembali munculnya anthrax hingga menular ke manusia, pendekatan dan edukasi kepada masyarakat kembali digalakkan baik oleh DPKH maupun Dinas Kesehatan.

“Niat mereka sebenarnya baik agar pemilik ternak tidak rugi kan setelah disembelih ini kemudian sepaketnya di harga 40 ribu. Uang yang terkumpul kemudian diberikan ke pemilik sapi, tapi tradisi seperti ini yang harus diubah sebab berakibat fatal,” imbuh Retno.

“Bismillah semoga bisa merubah pola yang demikian. Untuk di Padukuhan Jati ini sementara dilokalisir terlebih dahulu. Bila ada warga yang sakit dan berobat ke faskes kami harapkan memberikan riwayat konsumsi mereka,” tutup dia.

Berita Lainnya  Pembangunan Jalan Tawang-Serut Dilanjutkan, Pemerintah Alokasikan Dana 7,9 Miliar

Iklan
Iklan

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler