fbpx
Connect with us

Sosial

Keluh Kesah Para Peternak Kecil Saat Ayamnya Hanya Dihargai Rp8.000 Per Ekor

Diterbitkan

pada

Wonosari, (pidjar.com)–Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, deraan kerugian harus dirasakan oleh para peternak ayam broiler di sejumlah kecamatan di Kabupaten Gunungkidul mengalam. Pasalnya ayam broiler milik mereka hanya dibeli murah oleh tengkulak. Stok Dailly Old Chicken (DOC) yang merupakan ayam usia 35 hari iap konsumsi yang berlebih menjadi alasan pembelian harga murah yang dilakukan oleh tengkulak tersebut.

Satu ekor ayam oleh tengkulak dari peternak hanya dibeli dengan harga Rp. 8.000,- per ekor. Harga ini sangat jauh jika dibandingkan harga ayam potong di pedagang pasar yang saat ini berada di kisaran harga Rp. 30.000,- per kilogramnya. Sebagai informasi, satu ekor ayam rata-rata memiliki berat dua kilogram, namun setelah diambil hati dan ampela serta kepala dan kaki, ayam broiler memiliki berat 1,2 hingga 1,4 kilogram per ekornya.

Salah satu peternak ayam broiler di Desa Semoyo, Kecamata Patuk, Nanik Safitri mengatakan, sejak tahun 2012 beternak baru kali ini harga ayam dari peternak anjlok. Ia mengaku dulu harga ayam dari peternak diambil tengkulak Rp. 15.000,- per kilogramnya. Harga tersebut, kala itu sebanding dengan pakan dan perawatan ayam hingga DOC.

Berita Lainnya  BPJS Kesehatan Tanggung Biaya Caleg Stress Yang Butuhkan Perawatan Medis

“Kalau sekarang harga tersebut jauh dari kata layak, banyak sekali peternak ayam broiler kemudian membuat stok ayam banyak, dibeli tengkulak harganya seadanya,” keluh Nanik kepada pidjar.com, Kamis (27/06/2019).

Sementara itu, salah seorang peternak lainnya warga Desa Ngandong, Kecamatan Patuk, Yudianto menuturkan, dampak penurunan harga yang cukup derastis membuatnya harus merugi sekitar Rp. 8.000.000,-. Kerugian ini ia alami dalam satu periode panen. Akibat anjloknya harga ayam broiler di tingkat tengkulak ini, Yudianto memutuskan untuk menghentikan usaha ternaknya. Penghentian usaha ini disebutnya bersifat sementara sembari menunggu hingga harga di tingkat peternak stabil.

“Kami harap pemerintah turun tangan menyelesaikan masalah ini. Rasanya tidak adil kami modal banyak untuk menjadikan ayam doc namun dibeli dengan harga murah sedangkan di penjual ayam satu kilogramnya mahal, jangan sampai permainan harga ini justru merugikan peternak kecil,” harap Yudianto.

Kandang closed house atau peternakan ayam dengan alat yang modern diduga menjadi penyebab anjloknya harga ayam broiler. Jumlah ayam yang diternak oleh kandang closed house bisa tiga kali lipat atau bahkan empat kali lipat jika dibandingkan dengan peternak dengan kandang konvensional. Sedangkan peternak dengan kandang closed house biasanya merupakan perusahaan besar.

Berita Lainnya  Obyek Wisata Sepi Selama Ramadan, Volume Sampah di Gunungkidul Menurun

“Saya punya ayam 3.000 ekor, sedangkan di closed house jumlahnya bisa sampai 15.000 atau 20.000 ekor ayam broiler,” imbuhnya.

Pemerintah Mengaku Tak Bisa Berbuat Apa-apa Antisipasi Jatuhnya Harga di Tingkat Peternak

Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Disperindag Gunungkidul, Yuniarti Ekoningsih mengakui rendahnya harga DOC di tingkat peternak yang saat ini terjadi. Namun begitu, ia memberikan catatan bahwa harga di pasar saat ini cukup stabil di angka Rp30.000 per kilogram. Saat ini, Disperindag Gunungkidul mengaku tak bisa berbuat apa-apa lantaran mereka hanya bisa menindak apabila harga eceran tertinggi ayam potong di luar kewajaran.

“Itu pun harus sesuai dengan arahan kementrian,” kata dia.

Senada dengan Yuniarti, Kepala Disperindag Gunungkidul, Johan Eko Sudarto mengatakan, upaya yang dapat dilakukan guna mengatasi anjloknya harga ayam broiler ialah memantau dan mencari data di tingkat peternak serta berkoordinasi dengan OPD lainnya. Ia belum bisa mematok Harga Eceran Tertinggi ayam broiler kepada pedagang agar peternak tidak mengalami kerugian karena harga beli ayam dari petermak yang terlampau rendah.

“Kami menunggu kebijakan dari pemerintah pusat,” pungkasnya.

Facebook Pages

Iklan

Pariwisata

Berita Terpopuler