Pariwisata
Lampaui Jalan Sempit nan Terjal Demi Teduhnya Pantai Torohudan
Saptosari,(pidjar-com-525357.hostingersite.com)– Musim liburan seperti ini tentu tak sedikit yang menginginkan berlibur untuk mencairkan suasana hati maupun pikiran dari penatnya aktivitas keseharian. Banyaknya pantai yang ada di Gunungkidul nampaknya membuat para wisatawan bingung untuk berkunjung ke obyek mana yang akan dituju. Salah satu obyek wisata yang masih alami lantaran belum adanya campur tangan dari manusia adalah pantai Torohudan.
Pantai yang masih tergolong baru ini terletak di Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari. Berdekatan dengan pantai Ngrenehan, Ngobaran dan pantai-pantai lain yang berada disekitar wilayah itu. Layaknya berada di pantai pribadi, di pantai Torohudan pengunjung bebas berekspresi pasalnya tidak ada aktifitas orang di pantai tersebut.
Berkunjung ke pantai Torohudan membutuhkan bersiapan yang matang dan waktu yang tidaklah sebentar. Pantai ini terletak puluhan kilometer dari pusat kota Wonosari, atau sekitar 54 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Menuju ke pantai tersebut, harus melewati sejumlah medan. Dari arah Wonosari, pengunjung diarahkan untuk menuju ke arah selatan tepatnya Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari.
Kemudian menyusuri jalanan menuju pantai Ngrenehan, kemudian terdapat simpang tiga yang tidak lah terlalu besar pengunjung diadahkan untuk mengambil arah kiri. Menyusuri jalanan bebatuan yang bercampur tanah yang agak sulit dilalui. Meski kondisi jalanan agak terjal namun dapat dilalui sepeda motor. Puluhan bahkan ratusan meter melintasi medan yang seperti itu barulah pengunjung mendapati sebuah persinggahan tempat untuk menitipkan sepeda motor.


Perjuangan untuk sampai di pantai Torohudan ternyata tidak putus di situ, pengunjung masih harus melakukan tracking selama 10 hingga 15 menit lamanya. Menyusuri jalanan pertanian miliki warga setempat hingga menguras tenaga.
“Awalnya lelah memang jalan selama lebih dari 10 menit di medan yang sempit dan terjal,” kata Kusuma Damayanti salah seorang pengunjung asal Sleman, Rabu (19/12/2018).
Namun siapa sangka lelah perjalanan selama kurang lebih 2 jam baik mengendarai motor hingga berjalan, ternyata terbayar saat melintas di areal persawahan hingga tiba di bibir pantai. Bagaimana tidak pemandangan yang begitu asli dan asri dapat dirasakan saat menginjakkan kaki di pantai itu.
Sirinya angin pantai membuat lelah yang dirasa berangsut hilang. Memandangi luasnya laut biru di depan mata. Pantai ini memang tidak lah terlalu luas, tapi ada keasyikan tersendiri saat berada di pantai ini hijaunya pepohonan, suara ombak dan suara hewan lain yang terdengar.

Jauh dari keramaian orang berlalu lalang atau teriakan-teriakan para pedagang. Mengingat pantai ini masih tergolong baru dan belum banyak yang menjamah pantai Torohudan. Diapit dua tebing tinggi yang menjorok ke lautan.
“Cocok kalau ingin mencari suasana baru yang benar-benar sepi untuk merefresh hati dan pikiran,” inbuh dia.
Sedikit tips dari Kusuma Damayanti, berkunjung ke pantai Torohudan wajib membawa perbekalan yang cukup, terlebih mereka yang ingin bercamping di pantai ini. Pasalnya di Torohudan tidak ada satupun warung yang berdiri menjajakan dagangan, fasilitasnya pun masih sangat minim. Meski begitu, keindahan pantai layaknya pantai pribadi ini tidak ada duanya.
Terpisah, Ngadino (49) salah seorang warga Kanigoro, Desa Kanigoro, mengungkapkan pantai ini memang belum lama dibuka untuk umum. Pasalnya memang sarana prasarana yang dimiliki belumlah semaksimal pantai lainnya, bahkan masih begitu minim. Terlebih akses jalan yang terbilang sulit, sehingga masih banyak PR yang perlu dilakukan untuk pengembangan wisata ini.
“Masih baru, pembukaan pantai ini untuk umum karena memang masyarakat sadar mengenai potensi yang dimiliki harus dioptimalkan maka dari itu upaya pengembangan kedepan akan dilakukan,” terang Ngadino.
Menurut dia, jika pengunjung tidak mau bersusah payah jalan kaki dari tempat parkir bisa menggunakan kendaraan bermotor, namun bukan sembarang motor bisa melewati medan itu. Hanya dikhususkan bagi seeda motor trail yang dapat melewati jalan tersebut. Tarif yang dikenakan yakni sebesar Rp 5.000. Sementara Rp 10.000 per unit kendaraan yang menitipkan kendaraan menginap. Biaya ini, selain untuk pendapatan juga untuk pemeliharaan kawasan sekitar.
Dengan menggeliatnya semangat masyarakat dan pemerintah dalam mengelola pariwisata diharapkan mampu memperikan dampak yang baik bagi masyarakat. Sedikit informasi lagi, jika ingin membawa oleh-oleh atau menikmati olahan seafoot bisa mampir di pantai Ngrenehan yang menyuguhkan segudang olahan ikan laut yang sangat menggiyurkan dan memajakan lidah. (arista)
-
Uncategorized4 minggu yang laluTak Ikut Aksi di Istana, PPPK Gunungkidul Tetap Serukan Desakan Kepastian Status Kontrak
-
Uncategorized3 minggu yang laluAdu Banteng Dua Motor di Wonosari, Dua Pengendara M3nIngg4l di TKP
-
Uncategorized4 minggu yang laluTolak Tawaran Uang Damai, Korban Penganiayaan Brutal Oknum Pesilat Bersikukuh Tak Cabut Laporan
-
Uncategorized4 minggu yang laluSiaga Darurat Gunungkidul Diperpanjang 3 Bulan, Kemarau Diprediksi hingga November
-
Uncategorized4 minggu yang laluProses Pembebasan Lahan Berproses, Sekolah Internasional Bakal Segera Dibangun di Patuk
-
Uncategorized2 minggu yang laluMerintis Watusigar Gemilang, Feri Sulistyono Usung Digitalisasi dan Transparansi Pemerintahan
-
Uncategorized4 minggu yang lalu7 Hektare Lahan Jati di Bodoyo Terbakar
-
Uncategorized4 minggu yang laluTabrakan di Jalan Lingkar Utara Piyaman, Pelajar 17 Tahun Tewas di Lokasi
-
Uncategorized4 minggu yang laluPilur Serentak Gunungkidul, 2 Kalurahan Ajukan Seleksi Tambahan
-
Uncategorized3 minggu yang laluCek Dapur MBG di Gunungkidul, Wakil Ketua Komisi VII Apresiasi SOP Pelaksanaan MBG
-
Uncategorized4 minggu yang laluKecelakaan Maut di Ponjong, Pengendara Vega Meninggal Usai Tabrakan dengan Karimun
-
Uncategorized2 minggu yang laluWarga Kelor Pertanyakan Pembangunan Tower 72 Meter, Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
