fbpx
Connect with us

Sosial

Material Bantuan RTLH Tak Semuanya Dikirim, Wagiyem Hanya Bisa Bikin Pondasi Rumah

Diterbitkan

pada

Gedangsari, (pidjar.com)–Sungguh malang nasib Wagiyem (76), warga RT 003, RW 002, Padukuhan Magirejo, Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari. Janda miskin ini urung membangun rumahnya lantaran bantuan RTLH (Rumah Tidak Layak Huni) senilai Rp 15 juta dari Dinas PUPR DIY tidak terkirim materialnya secara lengkap. Akibatnya nenek renta ini hanya bisa membuat pondasi dan tak bisa merenovasi rumahnya seperti yang sebelumnya sempat ia harapkan.

Lebih tragis lagi, nenek Wagiyem ini juga tidak masuk daftar warga miskin penerima PKH (Paket Keluarga Harapan) maupun bantuan lansia terlantar. Padahal meskipun memiliki 4 orang anak, faktanya Wagiyem hidup sebatang kara dan hanya mengandalkan kiriman anak-anaknya yang tinggal di tempat lain untuk menyambung hidup sehari-hari. Dalam usia senjanya, dia sudah tidak mampu mencari nafkah lantaran tidak memiliki cukup kekuatan fisik untuk bekerja.

Dengan jalan yang sudah tertatih-tatih, Wagiyem menunjukkan pondasi rumahnya yang berukuran 3 x 5 meter saat ini hanya berdinding potongan dinding anyaman bambu yang sudah tidak utuh. Saat ini di atas pondasi tersebut berfungsi sebagai dapur yang tidak sempurna sebagaimana mestinya. Nampak tumpukan kayu usuk yang sebagian sudah membusuk lantaran urung terpasang.

“Yang membusuk itu ya kayu yang dikirim pemborong rumah tidak layak huni ini. Dan lagi beberapa material seperti batako 800 biji, besi dan lain-lainnya tidak dikirim hingga sekarang. Jadi saya tidak bisa membangun rumah yang sudah terlanjur roboh ini,” kata Wagiyem.

Menurut nenek 4 orang anak ini, apa yang dikirim rekanan kepadanya ternyata tidak cocok dengan bahan material yang dia ajukan. Sesuai permohonan yang diajukan, mestinya dia menerima batako 800 biji, semen 17 zak, pasir 7 kubik, genteng, besi ukuran 8, batu untuk pondasi, kayu usuk, besi begel, bendrat hingga paku dan lainnya.

Berita Lainnya  Persempit Ruang Gerak Terorisme dan Paham Radikal, Kapolda Minta Masyarakat Aktif Lakukan Deteksi Dini

“Namun yang saya terima lain lagi. Yang dikirim pasir kisaran 3 kubik, genteng diganti asbes 10 lembar, semen 17 zak, kayu glugu muda sebagai usuk 40 batang sepanjang 3 meteran. Uniknya saya tidak meminta daun pintu justru dikirim 2 daun pintu tanpa kusen. Lha kalau daun pintu dikirim tanpa kusen itu mau dipasang dimana ?” urainya.

Lantaran sebagian material sudah terkirim, nenek renta ini terpaksa berhutang jutaan rupiah untuk membangun rumah. Uang tersebut lantas dibelikan batu dan besi yang ternyata hanya cukup untuk membuat pondasi.

“Pokoknya selain material di atas, saya memang mendapatkan bantuan uang tunai Rp 2,5 juta. Lha itu sudah habis wong biaya tukang juga menelan jutaan rupiah. Entah bagaimana nasibnya rumah ini mau dilanjutkan atau tidak, saya tidak tahu. Saat nanya pemerintah desa katanya ya hanya itu,” lanjut Wagiyem.

Diketahui Wagiyem merupakan salah satu penerima BSPS (Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya) tahun 2018. Berdasarkan data, ada 460 lebih kepala keluarga di Desa Ngalang yang mendapatkan bantuan ini pada tahun 2018. Masing-masing penerima BSPS mendapatkan bantuan total senilai Rp 15 juta, dengan rincian yang Rp 11,2 juta diwujudkan dalam bentuk bahan material dan Rp 2,5 juta berupa uang tunai untuk upah tenaga kerja.

Pondasi yang dibangun Wagiyem dari bantuan BSPS yang ia dapatkan

Menurut Sunardi, Ketua RT 003 Padukuhan Magirejo, program BSPS mulai disalurkan kepada warganya sejak bulan September 2018. Seharusnya program ini sudah selesai sejak akhir tahun 2018 namun faktanya tidak kelar juga hingga saat ini. Uniknya ada 6 warga RT 003 yang sudah dimintai tanda tangan berisi surat pernyataan yang menyatakan bahwa program tersebut sudah selesai.

Berita Lainnya  Nilai Ganti Rugi Ganjil, Pembebasan Proyek Jalan Anyar Kemadang-Sepanjang Dipertanyakan Warga Terdampak

“Saya himbau khusus untuk warga RT 003 tidak menandatangani itu, wong apa yang disampaikan saat sosialisasi dahulu tidak sesuai dengan apa yang disampaikan kok,” tegas Sunardi.

Saat sosialisasi dari Dinas PUPR DIY, dicontohkan Nardi bahwa kriteria kayu yang dikirimkan adalah kayu keras seperti jati, akasia, mahoni dan sejenisnya. Kalaupun dikirim kayu glugu, seharusnya jenis glugu super.

“Lha yang dikirimkan kan seperti kayu munggur dan glugu juga yang masih muda, sehingga kualitasnya rendah hingga mudah busuk dan rentan rusak jika nekad dipasang. Saya sudah komplain ke penanggung jawab program ini di desa, tetapi tidak ditindak lanjuti hingga sekarang,” lanjutnya.

Sunardi berharap Dinas PUPR DIY mau bertanggung jawab terhadap kelanjutan program BSPS rumah Wagiyem. Sebab jika ditotal dengan nominal uang, apa yang diterima nenek tersebut masih jauh dari angka Rp 15 juta. Di sisi lain. Program BSPS bukannya mensejahterakan rakyat namun justru menyengsarakan masyarakat tidak mampu.

Sementara itu dikatakan Widodo, Dukuh Magirejo, Desa Ngalang, untuk tahun 2018 memang ada 14 KK di padukuhannya yang menerima bantuan program BSPS tersebut.

“Dari angka sekian ada 3 atau 4 warga yang belum selesai. Sudah saya sampaikan ke koordinator di desa, tetapi hingga sampai saat ini belum teratasi,” kata Widodo.

Widodo tidak mengetahui pasti bahan material apa saja yang belum terkirim kepada warganya. Pasalnya data blangko pengisian pesanan bahan material semua dipegang masing-masing penerima.

Berita Terpopuler